Pengunjung Objek Wisata Keluhkan Harga Makanan

Kabupaten Sukabumi

Kamis, 15/08/2013

Sukabumi - Para pengunjung domestik mengeluhkan harga makanan dan minuman di sejumlah objek wisata khusus di Palabuhanratu, Citepus dan Cisolok. Akibat melambungnya harga makanan yang ditawarkan pedagang, angka daya beli rendah. Pasalnya, kebanyakan pengunjung membawa bekal sendiri.

Selain harga makanan dan minuman selangit, para pedagang eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) premiun di objek wisata juga menaikan harga tinggi berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter. Ini akibat SPBU sempat mengalami kekosongan BBM.

Sejumlah pengunjung lokasi wisata kepada NERACA Rabu (14/8) mengatakan, Palabuhanratu dan sekitarnya sebagai kota wisata sudah sewajarnya harga makanan dan minuman normal, sehingga akan menambah minat pengunjung (wisatawan) datang ke kota tersebut. “ Namun faktanya pengunjung kerap tercekik usai memesan minuman atau makanan di objek wisata. Harga yang ditawarkan pedagang di objek wisata sangat luar biasa mahalnya. Saya terjebak saat memesan makanan dan minuman disini," keluh Devi Cangor pengunjung asal Bekasi, kepada NERACA di Karanghawu.

Devi mencontohkan, harga sebotol air aqua kecil ditawarkan pedagang seharga Rp5.000, teh botol Sosro Rp5.000, rokok Sampurna Mild Rp25.000. Padahal harga pasaran jenis barang dagangan yang ditawarkan itu lebih murah dari harga yang dijual di objek wisata. "Lebih gila lagi harga bensin eceran dijual Rp15.000 sampai Rp20.000 per liter. Alasannya stok BBM di SPBU sudah habis. Ini sangat keterlaluan," kesalnya.

Kondisi ini membuat beberapa pengunjung lainnya juga menyayangkan sikap para pedagang warung dadakan di objek wisata sangat keterlaluan dengan harga yang ditawarkannya. "Saya sudah beberapa kali ke Jogja, Bali dan Lombok, tapi harga dagangan di objek wisatanya normal seperti harga pasaran. Disini malah ada kesan aji mumpung, harganya tidak wajar," ujar Herman pengunjung lainnya.

Salah satu pemilik warung dagangan di objek wisata Karanghawu, Cisolok mengaku, barang dagangan makanan dan minuman yang ditawarkan pengunjung dengan harga tinggi sudah biasa pada saat memasuki libur Lebaran Idul Fitri dan tahun baru.

"Pedagang yang ada di objek wisata menaikan harga daganganya karena sudah tradisi setiap banyak pengunjung ke sini. Wajarlah pedagang menaikan harga lebih tinggi dari harga pasaran," katanya yang tidak mau disebutkan namanya.

Di tempat terpisah, Ketua LSM Peduli Lingkungan Kabupaten Sukabumi, Berly Lesmana Gunawan menilai, para pedagang makanan dan minuman di objek wisata yang menawarkan barang dagangannya harga tinggi, dengan sendirinya akan menimbulkan perspektif buruk bagi pariwisata Sukabumi.

"Dinas Kepariwisataan, Kepemudaan, Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Sukabumi dan stakeholder pariwisata jangan tutup mata ketika ada masalah di sekitar objek wisata. Terlebih menyangkut citra pariwisata Sukabumi, harus lebih intens melakukan pengawasan. Kalau tidak pariwisata Sukabumi khususnya Palabuhanratu akan buruk imbas dari perbuatan pedagang," tandasnya.

Menurut Berly, soal mahalnya tarif makanan dan minuman di objek wisata Palabuhanratu, Citepus dan Karanghawu Cisolok, adalah persoalan serius setelah masalah keterbatasan halaman parkir di objek wisata.

Pemda Sukabumi tambah dia, dianggap belum mampu mengakomodir seluruh kepentingan pengunjung. Dinas terkait agar melakukan penyuluhan untuk penyeragaman tarif sehingga tidak merugikan pengunjung. "Dengan kejelasan harga itu, pengunjung yang akan membeli tidak kaget dan ragu," paparnya.

Dia juga menyayangkan, beberapa rumah makan ikan bakar juga memasang harga tinggi kepada para pengunjung. Berly minta Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Sukabumi selain dinas terkait harus melakukan pembenahan bagi para pedagang di lokasi objek wisata. "Kalau keadaannya tidak bisa dibenahi, mana sadar wisata dan aksi sapta pesona masyarakat pariwisata tersebut. Wisatawan jangan dibuat kapok saat datang ke Kabupaten Sukabumi," pungkasnya.