Produksi Gula Bakal Menyusut

Anomali Cuaca

Kamis, 15/08/2013

NERACA

Jakarta - Musim kemarau basah yang melanda beberapa wilayah produksi gula telah menghambat proses penyimpanan gula pada tanaman tebu sehingga bisa membuat rendemen tebu menyusut. Akibatnya, produksi gula nasional pun akan menurun. Saat ini, rendemen tebu rata-rata nasional pada Juli 2013 hanya mencapai 7,96% atau turun sebesar 2,93% jika dibandingkan dengan Mei 2013 yang sebesar 8,20%.

Direktur Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Nurnowo Paridjo menyatakan bahwa pihaknya tidak mengkambinghitamkan cuaca. "Kami tidak mengambinghitamkan cuaca, tetapi adanya anomali iklim pada Juli membuat rendemen tebu petani turun. Akibat tingginya kadar air, tanaman tebu cenderung melakukan pertumbuhan vegetatif sehingga proses pembentukan gula terhambat," ujar Nurnowo di Jakarta, Rabu (14/8).

Meskipun begitu, Menteri Pertanian Suswono tetap optimistis target produski gula di tahun ini bakal tercapai sesuai dengan rencana. Pasalnya, menurut Mentan, menyusutnya rendemen masih mungkin dikompensasi peningkatan luas tanam. Selain itu, luas area yang bisa ditanami tebu meningkat. Tahun ini Kementan mendapatkan tambahan lahan tebu seluas 300 hektare (ha) dari Kementerian Kehutanan dan Badan Pertahanan Nasional. "Gula memang rendemennya turun tapi kita lihat dulu apakah luasan panennya ada peningkatan. Kalau diimbangi dengan luasan panen yang meningkat, tentunya tidak perlu khawatir," ujarnya.

Untuk itu, Mentan tetap optimis produksi gula dapat mencapai target sebesar 2,58 juta ton di akhir tahun. Namun evaluasi akan rutin dilakukan tiga bulan sekali. Hingga Juli 2013, persediaan produksi eks-tebu mencapai 1.285.969 ton.

Swasembada Terancam

Meski Mentan tetap optimis target produksi gula akan tercapai, namun tidak bagi Anggota Dewan Gula Indonesia Arum Sabil. Ia memperkirakan produksi gula pada 2013 akan menurun. Ia pun pesimistis rencana pemerintah untuk bisa swasembada gula pada 2014 akan terelasisasi. "Saya justru melihat tahun ini akan di bawah tahun kemarin," ujarnya.

Pada 2012, ia mengungkapkan, produksi gula mencapai 25 juta ton namun tahun ini diperkirakan hanya berada pada kisaran 2,2 juta-2,3 juta ton. Tingginya angka panen tebu pada 2012 disebabkan faktor cuaca yang bagus pada periode penanaman di 2011.

Menurut Arum, masa pertumbuhan vegetatif yang mencakup akar, batang, dan daun dinaungi iklim basah. "Sebelum masuk ke kemarau waktu pertumbuhan vegetatif 2011 itu ada iklim basah, hujan yg terus menerus. Nah, masuk musim giling 2012 disitu langsung masuk musim kemarau sehingga produksi tebu tinggi, rendemennya bagus," katanya.

Namun, setelah musim giling 2012, tiba musim kemarau yang kurang bagus untuk pertumbuhan vegetatif pada tahun ini. "Saya melihat pertumbuhan vegetatif 2012 yang dipanen 2013 berdampak untuk saat ini, sehingga saya perkirakan untuk tebu juga akan turun," ucapnya.

Berkaca dari kondisi tersebut, ditambah faktor kapasitas terpasang pabrik gula, luas lahan, dan rata-rata rendemen maka swasembada gula 2014 pun akan sulit tercapai. Saat ini, Arum mengatakan, kapasitas terpasang pabrik gula di Indonesia sekitar 213 ribu ton cane per hari sementara luas areal 451 ribu hektare. "Kalau ingin swasembada kuncinya lahan yang skrng 451 ribu hektare tingkatkan menjadi 750 ribu hektare. Kapasitas terpasang ditingkatkan menjadi 500 ribu. Produksi tebu dari rata-rata 80 ton per hektare naikkan menjadi 100 ton per hektare," ujarnya.

Adapun, rata-rata kandungan kadar gula di dalam batang tebu (rendemen) harus di atas 10%. Saat ini, rata-rata rendemen masih di angka 8%. Untuk itu ia meminta Kemenarian Badan Usaha Milik Negara untuk melakukan revitalisasi pabrik gula. "Kuncinya bukan pada HPP gula. Sekarng klo HPP gula Rp8500 tapi rendemennya di bawah 7%, biaya produksi petani per kilo bisa di atas Rp10 ribu. Tapi kalau rendemennya 10%, produksi petani bisa di bawah 8 ribu," tuturnya.

Namun, apabila semua hal tersebut sudah dilakukan, ia memperkirakan, swasembada gula baru bisa terjadi 2-3 tahun kedepan. Dalam artian, sesudah 2014. Pada periode tersebut produksi gula sudah mencapai 7,5 juta ton per haktare. Cukup memenuhi kebutuhan nasional yang tidak mencapai 5 juta ton per tahun.

Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan bahwa target swasembada gula hanya akan menjadi omong kosong jika tidak didukung oleh pabrik-pabrik gula berkapasitas besar. "Omong kosong kita swasembada gula kalau kita tidak punya pabrik gula besar," katanya.

Menurut Dahlan, untuk mencapai swasembada gula, minimal harus memiliki 10 pabrik gula sekelas pabrik gula Glenmore milik PT PTPN XII dengan kapasitas 6.000-8.000 Ton Tebu per Hari (TTH). Saat ini, kata dia, pihaknya sedang mencari lokasi-lokasi untuk pembangunan pabrik gula selanjutnya. "Kita akan bangun pabrik gula lagi dan lagi. Lokasinya bisa di Lampung, Sulawesi dan lainnya, asal jangan di Kalimantan," ujarnya.