Manajemen Konflik

Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Kamis, 15/08/2013

Konflik dalam suatu organisasi memang tidak bisa dhindari mesti menjadi keniscayaan. Tanpa konflik organisasi tidak akan dapat berkembang lebih baik, justeru konflik diperlukan guna meningkatkan kualitas organisasi tersebut. Persoalannya konflik di organisasi tidak boleh dibiarkan berlangsung tak terkendali sehingga menjurus ke hal-hal negatif yang dapat mengganggu keutuhan dan kebersamaan dalam organisasi.

Nah, terkait hal ini yang diperlukan adalah bagaimana mengelola konflik isecara baik menjadi suatu energi positif yang bisa dimanfaatkkan bagi dinamika organisasi untuk berkembang dan mencapai kemajuan lebih bermakna. Sebagaimana stress, konflik juga bisa negatif tetapi bisa pula positif tergantung bagaimana kita mengelola konflik tersebut. Berdasarkan literatur yang ada stress pada diri individu yang bersifat negatif apabila dikelola dengan baik bisa positif yang diejawantahkan dalam bentuk antusiasme.

Sebagai contoh, seseorang diminta untuk berbicara di depan publik ia akan mendadak tegang terlebih bila ia tidak biasa berbicara di depan orang banyak. Ketegangan ini dalam tataran psikologi praktis dapat ditransformasikan menjadi antusiasme manakala dilatih dengan teknik-teknik tertentu. Ketika ketegangan dapat dinetralisir dan diejawantahkan berupa antusiasme, maka pada saat orang tersebut bicara maka yang akan tampak pada dirinya bukanlah dalam bentuk ketegangan sebagai akibat dari stress yang dialami melainkan ciri-ciri antusiasme seperti orang tersebut tampak bersemangat, menggebu-gebu dan pada dirinya seakan-akan tampak rasa percaya diri yang meningkat. Inilah bentuk perubahan dari ketegangan ke antusiasme sebagai hasil manajemen stress yang baik.

Bagiamana dengan konflik? Berdasarkan pengalaman ketika melatih karyawan diperusahaan masalah konflik tidak jauh beda dengan persoalan stress. Konflik apabila dapat dikelola dengan baik juga akan memunculkan persaingan sehat yang bermanfaat bagi dinamika organisasi. Persaingan sehat antar anggota diperlukan manakala setiap anggota dihargai dan dihormati segala upaya kinerja dan keberadaannya di dalam organisasi.

Membatasi atau menghalangi kreatifitas anggota untuk menunjukkan eksistensi diri bukanlah cara bijak dan justeru dapat merugikan bagi perkembangan individu dan organisasi itu sendiri. Sebatas dalam kewajaran pemimpin organisasi tidak perlu menghambat atau melarang keinginan anggota yang saling berbeda, malah pimpinan mesti mampu menyalurkannya secara tepat dan proporsional. Hal ini yang dalam teori manajemen konflik dikenal dengan istilah \"accommodating conflicts\" atau mengakomodasi berbagai konflik yang muncul dalam organisasi.

Namun demikian kerap muncul konflik dalam organisasi bukan hal yang baik. Konflik bisa sering muncul akibat tidak adanya sistem yang baik dan kepemimpinan yang mengayomi berbagai perbedaaan. Organisasi yang menghimpun kumpulan manusia tentu saja memilki ciri khas dan keunikan yang berbeda-beda (individual differences).

Apabila tidak dibuatkan aturan, regulasi dan mekanisme yang termuat dalam suatu sistem yang sistematik dan sistemik, maka masing-masing anggota akan melakukannya beradasarlkan keyakinan dan penafsiran masing-masing. Untuk itulah apabila sistem yang telah dirancang (misalnya prosedur operasional standar) dan disepakati mesti disosialisasikan dalam forum terbuka dan diakhir dengan komitmen setiap anggota untuk melaksanakannya.

Landasan kebersamaan (common platform) dalam organisasi sangat diperlukan oleh karenanya komunikasi, sosialisasi, implementasi, pengendalian dan evaluasi sistem dan sub-sistem merupakan bagian-bagian penting dalam menjalankan suatu organisasi. Tentu saja semua itu perlu dilengkapi dengan gaya kepemimpinan yang mengayomi sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi tersebut.

Konflik yang dibiarkan berlarut-larut tak terselesaikan akan menjadi bom waktu yang setiap saat dapat meledak sehingga apabila hal ini terjadi akan sulit ditangani. Oleh karena itu konflik sekecil apapun mesti dihadapi dan diatasi secara arif dan bijaksana. Pendekatan dalam pemecahan masalah tentu saja tidak melulu berlandaskan aturan baku sebab biar bagimanapun masalah organisasi adalah masalah tentang mansuia juga dan manusia adalah makhluk psikososial yang perlu disentuh martabat kemanusiannya. Dengan demikian seorang pemimpin yang menghadapi konflik mestilah mengerti perasaan manusia. Ia (pemimpin) wajib menguasai dan cakap dalam mengelola dirinya sebelum mengelola orang lain. (uin-malang.ac.id)