Terapkan Love and Trust dalam Berbisnis

Dyah Anita Prihapsari, Ketua Umum DPP Iwapi

Sabtu, 24/08/2013

Mendirikan perusahaan dan merekrut karyawan atau mitra, kata kuncinya dua, yaitu by love atau mencintai. Juga by trust, atau saling percaya. Mencintai pekerjaan dan saling percaya. Orang yang mencintai pekerjaannya, akan bekerja dengan sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh, hingga hasilnya maksimal.

Dan jika dipercaya, misalnya, karyawan akan bisa menjalankan pekerjaannya secara optimal. Sebaliknya, jika kepercayaan itu sudah tidak ada dalam hubungan kerja, baik sebagai mitra bisnis maupun pemilik dengan karyawannya, diyakni bisnis itu tidak akan berjalan langgeng dan berkembang pesat. Tapi sebaliknya, bisnis itu akan berantakan.

Itulah prinsip manajemen bisnis yang dikembangkan Nita Yudi, tidak hanya diterapkan kepada para mahasiswanya di program S2 Studi Marketing Management di Universitas Persada Indonesia YAI, tapi juga saat dia memimpin sejumlah perusahaan dan organisasi. Di antara perusahaan itu adalah PT DNS E Vision, PT Arsipta Garis Persada, PT Indosari, PT Nuza Rizki Persada, maupun PT Geha Golden Group, serta Lembaga Manajemen YAI. Ratusan karyawan bernaung di semua perusahaan itu.

“Kendati demikian, ada juga karyawan yang dipercaya justru nglonjak, kepada mereka sudah ada sejumlah opsi,” tutur suami Prof Yudi Yulius ini. Opsi itu mulai dari teguran pertama, teguran kedua, dan ketiga out. Jiak orang seperti itu dipertahankan, justru akan menjadi seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar dan menghanguskan usahanya.

Menurut dia, dengan pendekatan by love tadi, tak jarang banyak karyawan yang sudah jadi. Maksudnya, mengundurkan diri dan membangun bisnis baru setelah merasa sukses menjadi karyawan. Terhadap karyawan yang demikian, Nita sudah tentu merasa bangga, bekas anak buahnya ada yang berhasil menjadi pengusaha. “Tentu saja mereka keluar dengan baik-baik, bahkan sudah ada yang malah jadi rekanan, ya tentu saja saya justru bangga,” ujarnya.

Manajemen by love di dalamnya juga terkandung unsur disiplin dan ulet. Artinya, mencintai pekerjaan itu harus diimplementasikan dalam pola kerja yang disiplin dan ulet. “Itu ajaran dari bapak saya yang mantan karyawan bank dan ibu saya yang pengusaha,” kata putri pasangan Pang Suparnadi dan Muryanti Setia ini.

Pelajaran berwirausaha yang menurun dari sang ibu adalah semua bisa memasak. Namun, dari empat bersaudara perempuan semua, hanya dua yang mengikuti profesi ibunya sebagai pengusaha. Dua lainnya, satu bekerja di sebuah perusahaan dan satu lagi sebagai ibu rumah tangga. “Tapi yang ibu rumah tangga itu sekarang dalam proses memulai menjalani sebuah usaha,” ujarnya.

Sedangkan Nita sudah lebih dulu membuka sejumlah usaha baik secara sendiri, berkongsi dengan teman, maupun bersama suaminya. Di antaranya di bidang kontraktor, butik, resto, production house, periklanan, dan pendidikan. “Saya sudah mulai berbisnis saat masih kuliah,” kata dia.

Ketika itu dia mendapat order membuat taman dari seorang artis. Proyek itu dikerjakannya bersama seorang teman kuliah. Di samping itu juga membantu ibu menjalankan salon dan sekolah kecantikan.

Berbisnis dengan pendekatan by love juga membuahkan banyaknya relasi bisnis dan pertemanan yang luas. Hal itulah yang membawa Nita berhimpun dalam berbagai organisasi profesi. Di antaranya, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Juga aktif dan terpilih menjadi ketua dalam kegiatan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT).

Dia mengungkapkan, aktif di WITT sekaligus untuk mengingatkan suaminya yang dulu hobi merokok.

Dia bersyukur, pernah menjadi satu-satunya perempuan yang mewakili Asia Tenggara dalam Fortune/State International Women’s Leaders Mentoring Program di Washington, Chicago, dan Illinoise, pada tahun 2006. “Saya terpilih sebagai satu-satunya wakil dari ASEAN, Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya,” katanya.

Sebab, di sana dia bisa bertemu dengan Presiden Amerika saat itu, George W. Bush dan Ibu Negara AS Laura Bush, lalu Hillary Clinton, dan Condoleeza Rice. Ketika itu, Nita bersama 16 perempuan dari Eropa mendapat kesempatan magang di sebuah perusahaan asuransi terbesar di negeri Paman Sam itu. “Tidak sekadar magang, tapi saya ditantang untuk dapat mengambil keputusan penting bagi perusahaan tersebut,” tutur pengagum dua perempuan, yaitu Perdana Menteri Inggris Magareth Thacher dan Dewi Motik Pramono, pendulunya di Iwapi.

Aktif Berorganisasi

Tentu saja berdasarkan kepercayaan pula, beberapa jabatan kunci organisasi dipegangnya. Kini, menjadi ketua umum DPP Iwapi, dan sekjen Woman’s Forum For Exellent (WFFE). Di Kadin, Nita ada di dua tempat, di Kadin Pusat sebagai Wakil Komite Tetap Hubungan Bilateral, dan sebagai Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta. “Lewat organisasi itu, saya berharap bisa memperjuangkan aspirasi kaum perempuan dan para pengusaha mikro kecil,” tutur perempuan berdarah Jawa ini, ayah Pekalongan dan ibu Yogya.

Menurut dia, saat ini, sekitar 60% pengusaha mikro kecil di Indonesia adalah wanita. Artinya, ini kata Nita Yudi, kaum perempuan sebetulnya berpotensi besar menjadi pengusaha. Namun, khusus pengusaha wanita kelas mikro kecil itu mayoritas ada di luar perkotaan, mereka pun masih dimarjinalkan. “Kaum perempuan pengusaha itu masih mendapat perlakuan marjinalisasi baik dari keluarga hingga perbankan,” kata Nita yang mempunyai nama asli Dyah Anita Prihapsari.

Menurut dia, walaupun sudah menjadi pengusaha, namun masih banyak wanita ditempatkan dalam konteks dapur, kasur, dan sumur, terutama di kawasan pelosok daerah. Wanita itu tempatnya di dapur untuk memasak, di kasur sebagai teman suami tidur, dan di sumur yang mengurusi masalah cuci-mencuci. “Perempuan masih ditempatkan sebagai konco wingking. Itu budaya patriarkat. Jadi itulah kendala dan tantangan yang dihadapi Iwapi maupun Kadin,” kata ibu dari Dita Atikah Yudi (16) dan Dini Meilina Yudi (13).

Dia menyontohkan pula perlakuan diskriminatif yang acap dialami para wanita pengusaha yaitu saat harus berurusan dengan perbankan. Setiap pengajuan kredit misalnya, mengharuskan rekomendasi dari suaminya. Hal itu pulalah yang menyebabkan para wanita pengusaha itu minder atau tidak percaya diri (PD).

“Melalui Iwapi, juga Kadin, saya bersama-sama pengurus lainnya berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan,” kata Nita yang pernah belajar karate di saat remaja. Dia mengajak kaumnya untuk bersikap mandiri agar bisa sejajar dengan kaum pria, termasuk dalam berbisnis.

Terjun Berpolitik

Bagi wanita aktif ini, walaupun sudah memimpin Iwapi dan Kadin, namun upaya memperjuangkan aspirasi kaum perempuan maupun para pengusaha mukro kecil belumlah optimal. Tak banyak perempuan yang terjun di politik. Hal itu menyebabkan banyak partai kesulitan memenuhi kuota keterwakilannya di lembaga legislatif, baik di tingkat pusat maupun daerah, baik kota/kabupaten maupun provinsi. “Apa lagi, saat ini sangat sedikit wanita yang aktif di dunia politik. Itu sebabnya, partai-partai banyak kesulitan menerapkan kuota 30% daftar calon legislatif (caleg).”

Dia berharap, melalui dunia politik, upaya memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya wanita dan kelompok usaha mikro kecil bisa berdaya guna, karena legislatif adalah mitra kerja dari pemerintah untuk merumuskan berbagai regulasi. “Dari situlah saya tertarik terjun ke dunia politik,” kata penyuka masakan Betawi ini yang masuk dalam daftar ‘99 Superpower Women’ yang dibuat sebuah majalah Ibukota berbahasa Inggris, yaitu Asia Globe Magazine.

Awalnya, beberapa partai politik menawarinya untuk bergabung. Di antaranya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Tapi saat itu sang suami belum mengizinkan dia aktif berkecimpung di dunia politik. Tak lama kemudian, justru sang suamilah yang mendorong istrinya aktif di partai.

Alasannya, berjuang di partai itu lebih mudah tercapai, karena partai di lembaga eksekutif berhubungan langsung dengan pemerintah. Misalnya dalam hal membuat berbagai peraturan perundang-undangan. Lewat partai politik, kata dia, kita juga bisa mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang justru tak menunjang kepentingan dunia usaha.

Tawaran terakhir datang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dipilihlah PPP sebagai tempat berlabung dan menyalurkan aspirasi politiknya. Menurut dia, karena partai itu mempunyai satu visi dan misi yang sama. Dalam kabinet Suryadharma Ali, Nita diberi tugas yang tak kecil, yitu sebagai wakil sekretaris jenderal DPP PPP. “Saya ingin membuka tabungan ke surga melalui PPP,” ujarnya sambil tertawa lepas. (saksono)

BIODATA

Nama : Dyah Anita Prihapsari

Lahir : Jakarta, 22 Juni 1964

Ayah : Pang Suparnadi

Ibu : Muryanti Setia

Suami : Prof Dr Ir H Yudi Yulius MBA (menikah 7 Juli 1991)

Anak : 1. Dita Atikah Yudi (16)

2. Dini Meilina Yudi (13)

Pendidikan:

SDN 01 Pejompongan, Jakarta

SMPN 40 Pejompongan, Jakarta

1983 SMAN 3 Teladan Setia Budi, Jakarta Selatan

1987 S1Teknik Arsitek Lanskap Usakti

1995 S2 Oklahoma City University USA Amerika, jurusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management

Organisasi:

1. Ketua Umum DPP Iwapi 2010 – 2015

2. Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta 2008 – 2013

3. Ketua Umum Iwapi DKI Jakarta 2003 – 2008

4. Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) 2000

Karir/Bisnis:

Pemilik Yayasan Administrasi Indonesia (AA YAI, STIE YAI, UPI YAI) Direktur Utama PT DNS,E-Vision (advertising) Dir Operasional PT Arscipta Garis Persada (konsultan kontrantor) Direktur Utama PT Indosari Komisaris PT Tara Indonesia Kuliner Dosen Tata Hijau dan Lingkungan STIE YAI Direktur Lembaga Manajemen YAI Dosen S2 Marketing Management UPI YAI Komisaris PT Nuza Rizki Persada, PT SILO, PT Indonesia Murni, PT Geha Golden Group

Karya arsitektur:

1. Gedung Iwapi di Kalipasir, Jakpus

2. Gedung STIE YAI di Kramat Raya, Jakpus

3. Perumahan Pantai Indah Kapuk, Jakbar