BI Pede Cadev Pulih Kembali

Rabu, 14/08/2013

NERACA

Jakarta - Meski cadangan devisa (cadev) Juni 2013 turun US$7,054 miliar menjadi US$98,095 miliar, akibat Bank Indonesia (BI) harus menggelontorkan banyak dolar AS untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, mengaku optimis cadev pada Juli akan membaik dari Mei dan Juni lalu. Hal ini terjadi lantaran BI telah menggelar lelang swap atau FX Swap. “Dibanding Mei dan Juni, hasil kemarin walaupun sedikit tapi trennya meningkat, kami harap akan lebih baik kedepannya,” kata Agus Marto di Jakarta, Senin (12/8)

Selain itu, Agus Marto mengatakan walaupun ekspor di Indonesia masih tertekan akibat komoditi ekspor masih kebawah. “Kita harap tidak terjadi suatu defisit perdagangan yang besar dan kami memprioritaskan untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk meyakinkan neraca pembayaran Indonesia dalam keadaan yang sehat,” ucap dia.

Dia juga mengatakan, walaupun jika masih terjadi defisit di neraca perdagangan, defisit pada current account atau defisit neraca pembayaran maka hal ini akan menimbulkan efek kurang baik terhadap ekonomi jangka menengah di Indonesia. “Kita juga akan terus meningkatkan hasil ekspor sebagai salah satu yang bisa di harapkan untuk meningkatkan kesehatan ekonomi Indonesia,” imbuhnya. Selain dalam bentuk ekspor Agus Marto juga mengatakan, akan meningkatkan transaksi modal dan finansial serta menerima dana dari investor luar negeri dalam bentuk portofolio.

Sedangkan untuk penyimpanan Dana Hasil Ekspor (DHE), Agus Marto mengatakan bahwa saat ini sekitar 90% eksportir telah menempatkan DHE nya ke dalam negeri. “Namun kita juga memberikan kebebasan untuk eksportir yang inggin menggunakan dananya, karena yang kami utamakan adalah pencatatannya,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, nantinya ini diharapkan akan meningkat, caranya BI akan melakukan sosialisasi dengan gencar, serta melakukan pembicaraan tidak hanya dengan sektor perbankan namun juga dengan regulator terkait dan pelaku-pelaku lain. Sementara itu, Agus meyakini bahwa semua pelaku bisnis di Indonesia tidak mangkir dari peraturan yang ada.

“Tingkat kepatuhannya sudah mendekati 90% DHE, untuk masuk ke Indonesia sudah dijalankan kita akan berusaha untuk lebih baik lagi,” kata Agus Marto. Mantan Menteri keuangan ini juga menjelaskan, walaupun cadev menurun, namun hal ini masih bisa untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri lebih dari lima bulan.

Jaga fundamental

Agus Marto menjelaskan jumlah cadev yang saat ini dibawah US$100 miliar merupakan hal yang masih bisa dipahami, mengingat pada Mei dan Juni lalu terjadi capital outflow yang cukup besar. “Nanti jika (capital) inflow sudah membaik, karena dana investor dalam bentuk investasi portofolio dan investor industment kembali masuk maka cadev akan kembali meningkat, oleh karena itu, bagi Indonesia sangat penting untuk selalu menjaga fundamental ekonomi kita agar dana yang sedang melakukan reposisi bisa dilakukan ke Indonesia.” tutur dia.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut Agus Marto, masih bisa dijaga diatas 5,5% karena Indonesia memiliki disiplin fiskal yang cukup kuat. “Kita punya defisit fiskal itu tidak lebih dari 3% selama 10 tahun terakhir, selain itu, Indonesia juga selalu melakukan transformasi sturktural dalam rangka menjaga fundamental ekonominya dan itu sudah dipahami oleh dunia,” paparnya.

Agus Marto juga berharap akan terdapat dana asing yang kembali masuk ke Indonesia melalui Surat Utang Negara (SUN). “SUN sudah murah bagi investor yang mau berinvestasi, kemarin pasar modal sudah ada arus masuk kembali, kalau kedepannya terjadi inflow lagi maka itu akan membuat cadev Indonesia meningkat dan membaik,” tandas dia.

Sebelumnya, untuk melindungi cadev, BI menggelar lelang FX Swap setiap hari kamis perminggunya.. Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan ini dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta memberi jaminan kepada investor yang ingin berinvestasi di Indonesia. Selain FX Swap Perry juga melakukan penyesuaian suku bunga, deposito valas berjangka. [sylke]