Isu Kenaikan BI Rate Bakal Ganjal IHSG

Rabu, 14/08/2013

NERACA

Jakarta – Potensi kenaikan acuan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) hingga akhir tahun, dinilai bakal mengancam pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, kenaikan BI rate menjadi sentimen negatif.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, selama masih ada spekulasi tentang BI rate dan membuat kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi melemah. "Saat ini kan banyak sekali kabar bahwa BI rate akan dinaikkan lagi untuk mengantisipasi inflasi yang terlalu tinggi. Nah, selama masih ada spekulasi BI rate maka membuat kondisi pasar saham jadi lemah,”katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia menyatakan, saat ini kondisi IHSG memang dalam keadaan tren menurun. Belum lagi ditambah dengan faktor luar yaitu mengenai laporan dari The Fed. Maka bila defisit semakin melebar, tentunya kondisi pasar dalam keadaan waspada, “Kondisi IHSG yang melemah akan berimbas kepada saham-saham di semua sektor tak terkecuali sektor pertambangan ataupun infrastruktur,”tandasnya.

Sebaliknya, analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan menilai, menaikan suku bunga merupakan jalan satu-satunya ditengah kondisi ekonomi saat ini. Alasannya, dengan menaiknya suku bunga dampaknya positive untuk rupiah. “Dengan kenaikan BI rate dapat menyelamatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri,”tuturnya.

Menurutnya, saat ini investor tengah menunggu kepastian keputusan BI menaikan suku bunga atau tidak. Merespon kondisi tersebut, BI menurutnya, harus menaikan suku bunga karena inflasi yang cukup tinggi. Tingginya inflasi itu dikarenakan tingginya kenaikan cost produksi.”Bisa saja suku bunga tidak naik, tapi cost produksi jangan naik dan mengurangi daya beli masyarakat,” jelasnya.

Sebelumnya, Anggota Dewan Komisioner OJK, Nurhaida mengatakan, pihaknya akan terus mengawasi pelemahan indeks di BEI. Pasalnya, jika terjadi penurunan yang sangat drastis akan melakukan tindakan untuk mengantisapi penurunan yang lebih dalam, “Kami punya standar tertentu, kalau turun berapa persen ada tindakan tertentu dari kami tapi semua itu ada protokolnya,”ungkapnya.

Sementara pelemahan IHSG yang terjadi saat ini pascalibur lebaran, dinilai OJK masih dalam kondisi yang normal. Mengakhiri perdagangan awal pekan kemarin, IHSG ditutup terkoreksi 43,00 poin atau 0,93% ke posisi 4.597,78. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 10,99 poin (1,42%) ke level 763,95. Kendatipun demikian, OJK optimis indeks pada perdagangan pertama setelah libur Lebaran diprediksi tidak lagi mengalami penurunan tajam.

Praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo menyakini, laju IHSG cenderung berpotensi melemah hingga akhir pekan ini dengan target support 4.400 dan resistance di level 4.550. “Perdagangan Selasa cenderung melemah karena IHSG tidak dapat mempertahankan level psikologisnya, di level 4.600. Artinya, sentimen negatif masih akan mempengaruhi IHSG,”ungkapnya.

Menurut dia, Nikkei menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG saat ini. Pasalnya, selain Dow Jones, Nikkei menjadi barometer utama dalam mengukur kinerja Indeks di Asia, termasuk IHSG. Meskipun Nikkei tercatat tidak mengalami pelemahan yang cukup dalam, perdagangan yang terjadi di bursa Jepang tersebut saat ini sangat minim sehingga membuat pelaku pasar khawatir. (bani)