Harga BBM Naik Tidak Pengaruhi Konsumsi Premiun

NERACA

Jakarta - Meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi telah dinaikkan, ternyata tidak serta-merta menekan konsumsi BBM bersubsidi. Perilaku mudik setiap Lebaran, secara otomatis meningkatkan konsumsi BBM. Penggunaan BBM utamanya jenis Premium, meningkat dibandingkan hari biasa. Penggunaan BBM utamanya jenis Premium, meningkat dibandingkan hari biasa.

\"Konsumsi BBM, untuk premium naik. Karena habis kenaikan BBM kan terus Lebaran kan, mudik, ya, jadinya naik,\" kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Jakarta, Selasa (13/8).Peningkatan penggunaan premium selama periode mudik lebaran, lanjut Jero, naik sekitar 8% dibanding hari-hari biasa.

Meskipun begitu, perlu analisa lebih lanjut terkait penggunaan Premium sepanjang Agustus. Ini dilakukan untuk mendapatkan angka pasti peningkatan penggunaan Premium oleh masyarakat.\"Tetapi nanti kita lihat bulan Agustus, kan sudah mudik nih, kita lihat nanti angkanya,\" tandas Jero.

Sekadar informasi, rata-rata realisasi penyaluran BBM bersubsidi untuk masa mudik dan balik Lebaran 2013, hingga 11 Agustus 2013, premium mencapai 82.731 kiloliter per hari dan solar 33.471 kiloliter per hari. Jumlah ini lebih rendah dari prediksi awal, yang diperkirakan dipicu oleh perubahan pola mudik dan balik masyarakat.

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), realisasi premium hingga Minggu lalu (11/08) masih di bawah estimasi dengan rata-rata 83.108 KL per hari atau 102% DOT, dengan tingkat konsumsi tertinggi arus mudik terjadi pada hari Rabu (H-1) sebesar 104.321 KL atau 129% DOT. Realisasi penyaluran tersebut, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu sekitar 84.631 KL per hari.

Adapun, realisasi Solar juga di bawah estimasi dengan rata-rata 33.471 KL per hari atau 82% DOT, dengan konsumsi tertinggi arus mudik terjadi pada Selasa (H-9) sebesar 52.162 KL atau 128% DOT. Realisasi penyaluran solar tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 35.356 KL per hari.

Semula, Pertamina memprediksikan konsumsi premium dan solar pada masa lebaran (H-15 hingga H+15) masing-masing naik 14% menjadi 91.830 KL dan turun 4,9% menjadi 38.628 KL. Naiknya konsumsi premium sejalan dengan pertumbuhan mudik dan balik lebaran, sedangkan turunnya konsumsi Solar karena pelarangan operasi truk-truk besar konsumen Solar sejak H-4.

VP Corporate Communications Pertamina Ali Mundakir mengatakan, lebih rendahnya konsumsi BBM premium dan solar selama masa lebaran, disebabkan oleh beberapa faktor terkait dengan pola mudik dan balik masyarakat tahun ini. Pertama, dengan masa cuti bersama yang lebih panjang sebelum hari H lebaran, menjadikan pemudik terdistribusi ke dalam beberapa hari sehingga kemacetan dapat diminimalisir.

Kedua, banyaknya kegiatan mudik gratis dari berbagai perusahaan dan juga instansi pemerintah dengan menggunakan moda transportasi darat seperti bus maupun kapal perang TNI mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, utamanya roda dua secara signifikan. Ketiga, meningkatnya jumlah pemudik yang menggunakan pesawat seiring dengan pertumbuhan masyarakat ekonomi kelas menengah atas, dan penambahan volume penerbangan selama Lebaran 2013.

Selain itu, kenaikan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar juga diduga menjadi faktor yang mengurangi minat masyarakat untuk mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan tingginya volume kendaraan yang beredar di DKI Jakarta dan sekitarnya selama masa lebaran. [mohar]

BERITA TERKAIT

Terlalu Vulgar, Film "After" Tidak Sesuai Budaya Indonesia

Jakarta-Baru dirilis 16 April 2019 di berbagai bioskop di Indonesia, film ‘After’ sudah mengundang kontroversi. Berbagai sorotan, terutama karena adanya…

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel NERACA Palembang - Tren penurunan harga batu bara di pasaran internasional sejak…

Harga Gabah Kering Giling di Banten Naik 2,92 Persen

Harga Gabah Kering Giling di Banten Naik 2,92 Persen NERACA Serang - Harga Gabah Kering Giling (GKG) pada tingkat petani…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…