Tingginya Perputaran Uang di Kuningan Saat Lebaran

Rabu, 14/08/2013

Kuningan – Setiap Idul Fitri tiba, perputaran uang (ekonomi) yang cukup cepat dan padat di Ibukota Jakarta, Bandung dan kota besar lainnya berpindah ke Kuningan. Sekitar sepuluh hari (sebelum dan setelah lebaran), suasana Kabupaten Kuningan seperti halnya Jakarta. Merasakan macet, sesak, tingginya polusi kendaraan dan meningkatnya perputaran uang di masyarakat.

Bagaimana tidak, dari satu juta dua ratus lebih penduduk Kuningan, sebagian besar adalah perantau. Tidak ada satu kecamatan di Kuningan, yang warganya bukan perantau. Dari mulai pedagang asongan, pegawai Bubur Rokok Indomie, penjual air, buruh pabrik hingga pengusaha sukses banyak yang berasal dari Kuningan.

Idul Fitri menjadi berkah bagi Kuningan, karena uang “dihambur-hamburkan”, terutama oleh pemudik. Seperti halnya tradisi ‘salam tempel’, dari mulai anak-anak hingga manula mendapatkan uang dadakan, belum lagi kiriman makanan yang sudah mentradisi menjadi hantaran setiap tahun.

Kita tengok lagi, warung-warung tradisional yang menjajakan makanan khas Kuningan, seperti hucap (kupat plus tahu dikasih bumbu kacang kecap), rujak kangkung, tape ketan, gemblong dan banyak lagi makanan Kuningan lainnya yang diserbu pemudik. “Kita kangen sekali sama makanan Kuningan, karena setahun sekali Saya bisa memakan hucap dan rujak kangkung ini,” tutur Aas, pemudik asal Panyosogan.

Belum lagi tempat wisata. Momen Idul Fitri justru menjadi andalan pendapatan bagi objek wisata, pasalnya selama pemudik masih berada di Kuningan, objek wisata-objek wisata bisa meraup keuntungan yang begitu besar dibanding hari-hari biasa, terutama objek wsiata alam, dan pemandian air panas menjadi favorit para pemudik. Tarif masuk pun dipastikan naik tanpa ada protes dari banyak pengunjung.

Menurut Kasat Lantas Polres Kuningan, AKP Sobirin, sepanjang jalan Kuningan-Cirebon bisa menjadi macet hingga berjam-jam itu disebabkan padatnya pengunjung berwisata ke Linggajati, Sangkanurip, Talaga Remis, Waduk Darma dan lainnya.

Kendaraan yang merayap dari Cirebon ke Kuningan bisa menghabiskan waktu lima sampai enam jam, padahal kalau hari-hari biasa cukup dilalui satu jam. “Kita memakai jalur alternatif, tapi karena jalur alternatifnya banyak yang rusak, dan ada yang belum selesai dibangun, makanya arus lalu lintas tetap macet,” ujarnya.

Gambaran perputaran uang yang padat bisa ditengok pula pemuda kreatif yang menambal jalan di jalur alternatif. Pemerintah yang belum memperbaiki jalan yang rusak ternyata dijadikan momen mengais rezeki dari pengendara yang lewat. Seperti di jalur Luragung, Ciawigebang, Japara dan lainnya banyak pemuda yang menutup lobang jalan dengan tanah maupun krikil dengan imbalan uang receh dari pengendara (pemudik lebih mendominasi).

Kondisi seperti itu hanya bisa bertahan paling lama dua minggu setelah Idul Fitri. Setelah itu, kondisi Kuningan seperti semula, lengang, lalu lintas lancar, wisata pun sepi, kuliner pun memberikan stok makanan sedikit dan berarti perputaran uang di Kuningan kembali sepi. Masyarakat yang menetap di Kuningan pun harus putar otak mencari penghasilan lagi, dan akhirnya para lulusan asal Kuningan banyak yang mengincar Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya sebagai tempat mencari nafkah.