China Rusak Pasar Mutiara Lokal

NERACA

Jakarta – Pemerintah akan memaksimalkan penjualan mutiara laut khas Indonesia yang berjenis South Sea Pearl (SSP) dengan menerbitkan peraturan perlindungan mutu. Pasalnya selama ini banyak beredar mutiara impor dari China yang dengan kualitas yang jauh lebih rendah dibanding SSP. Namun masyarakat tidak mengetahui perbedaannya sehingga banyak yang akhirnya merugi.

“Persoalan mendasar di Indonesia mengenai mutiara salah satunya dengan kedatangan mutiara air tawar dan imitasi dari China pada wilayah produksi. Sehingga banyak orang tertipu. Dipikir mutiara yang dibeli merupakan mutiara jenis SSP yang asli dari Indonesia. Ternyata bukan,” papar Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Dirjen P2HP KKP) Saut P Hutagalung, di Jakarta, Selasa (13/8).

Untuk itu Saut mengaku pihaknya telah melakukan 6 langkah dukungan untuk menjaga citra pasar mutiara dalam negeri. Pertama, pembangunan Broodstock Center kekerangan di Karang Asem, Bali. Kedua, membentuk Direktorat Pengembangan Produk Nonkonsumsi di bawah Ditjen P2HP KKP. Ketiga, membentuk Sub Komisi Mutiara Indonesia pada Komisi Hasil Perikanan di bawah koordinasi Ditjen P2HP. Keempat, mendorong terbitnya Standar Nasional Indonesia (SNI) mutiara yang sekarang telah terbit (SNI 4989:2011). Kelima, dalam rangka mempromosikan SSP Indonesia, KKP bekerjasama dengan ASBUMI setiap tahun menyelenggarakan Indonesia Pearls Festival (IPF) sebagai salah satu media untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, serta pemasaran mutiara di pasar domestik maupun internasional.

“Terbitnya SNI mutiara akan digunakan sebagai dasar dalam menyusun Standar Operating Procedure Grading mutiara dan perlu ditindak lanjuti dengan membuat Indonesia Quality Pearl Label (IQPL). Di samping itu, untuk melindungi para produsen mutiara Indonesia, kita juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri KP No. 8 tahun 2013 tentang Pengendalian Mutu Mutiara yang Masuk ke Dalam Wilayah Negara RI,” tegas Saut.

Sementara berdasarkan data UN Comtradre 2013, dari segi volume Indonesia merupakan produsen SSP terbesar di dunia dengan memasok 43% kebutuhan dunia. Sedangkan dari sisi nilai perdagangan Indonesia menempati urutan ke-9 (sembilan) di dunia dengan nilai ekspor sebesar US$29.431.625, atau 2,07% dari total nilai ekspor mutiara di dunia yang mencapai US$1.418.881.897. Urutan itu membuat Indonesia berada di bawah Hongkong, China, Jepang, Australia, Tahiti, USA, Swiss dan Inggris.

Adapun Negara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Baru dan Perancis. “KKP optimis dapat meningkatkan nilai ekspor tersebut mengingat Indonesia memiliki dan menguasai faktor-faktor pendukung, seperti areal budidaya, tenaga kerja, peralatan pendukung dan teknologi,” ungkap Saut.

Di lain pihak Ketua Bidang Pengembangan Produk Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) Ratna Zuhury mengingatkan bahwa harga mutiara jenis SSP bisa dibilang mahal. Hal ini disebabkan proses produksinya memang memakan biaya yang tidak murah. Namun ketahanannya jelas berbeda dengan mutiara air tawar atau mutiara imitasi.

“SSP itu produksinya bisa memakan waktu hingga 4 tahun baru bisa panen. Tapi kekuatannya long life (seumur hidup). Sedangkan yang air tawar cukup 6 bulan saja sudah dapat panen. Tapi daya tahannya maksimal Cuma dua tahun,” jelas Ratna.

Kemudian Ratna melanjutkan sementara ini harga mutiara jenis SSP sedang naik. Bisa mencapai US$16/gram jika dibeli dari produsen. Menurutnya turunnya suplai yang menyebabkan hal ini. Tapi meskipun harga mutiara sedang tinggi ia mengaku tidak khawatir terjadi penurunan penjualan. Sebab mutiara punya pasar tersendiri. “Umumnya konsumen mutiara itu kan masyarakat kelas atas. Jadi sepertinya tidak terlalu bermasalah meskipun harga sedang naik,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Dharma Wanita Persatuan KKP Yanti Gellwyn pihaknya akan membantu mensosialisasikan cara melihat mutiara SSP dari Indonesia yang asli dan berkualitas baik. “Kita akan menyelenggarakan seminar, talkshow, dan acara-acara sosialisasi lainnya pada setiap perhelatan mutiara yang diselenggarakan KKP,” katanya.

BERITA TERKAIT

BMW Rakitan Lokal Mendominasi 80 Persen Penjualan

Sebesar 80 persen penjualan BMW Group Indonesia disumbang dari produk-produk yang mereka hasilkan dari pabrik perakitan BMW di Indonesia. Vice…

Honda Kuasai 53 Persen Pasar Hatchback di Indonesia

Honda menguasai pasar hatchback di Indonesia sebesar 53 persen melalui penjualan mobil Honda Jazz dan Honda Civic Hatchback. Honda Jazz…

Sari Roti Masuk Pasar Korea Selatan - Gandeng Kerjasama Caffebene

NERACA Jakarta –  Sukses membuka pasar di Filipina dengan membangun pabrik baru, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebagai perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tren Neraca Perdagangan Ikan Kerapu Tercatat Positif

NERACA Jakarta- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2012 – 2016) neraca perdagangan kerapu…

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…