Produktivitas Sapi Lokal Tak Mampu Imbangi Laju Konsumsi

Rabu, 14/08/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah masih punya alasan untuk tetap melanggengkan importasi sapi. Pasalnya sampai saat ini, berdasarkan data yang diungkap oleh Kementerian Perdagangan, populasi sapi di Indonesia hanya mencapai 13-14 juta ekor. Sementara itu, konsumsi daging sapi semakin meningkat tiap tahunnya dengan perkiraan 3-4 juta ekor tiap tahunnya. Artinya, jika tetap mengandalkan sapi dalam negeri maka Indonesia akan kehabisan stok sapi.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengungkapkan bahwa mekanisme impor sapi masih tetap diperlukan selama produktivitas sapi tidak bisa memenuhi permintaan daging sapi di masyarakat. "Kalau tidak bisa meningkatkan produksi dan tidak melakukan impor maka stok sapi akan habis dalam kurun waktu 3-4 tahun mendatang," ungkap Gita di Jakarta, Selasa (13/8).

Menurut dia, mekanisme impor yang selama ini digunakan oleh Pemerintah merupakan wujud kepedulian Pemerintah terhadap konsumen dan produsen. "Penambahan pasokan diperlukan untuk menekan harga daging dalam jangka panjang. Sementara untuk langkah jangka mengah dan jangka panjang kita bicara pasok, kalau tidak cukup tentunya stabilitas harga tidak akan tercapai," kata dia.

Diakui Direktur Budidaya Hewan Ternak Kementerian Pertanian (Kemtan) Fauzi Luthan, ia mengatakan alokasi impor ini sudah memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada. "Penurunan kuota impor dari tahun lalu terjadi karena total impor sapi bakalan juga berkurang," katanya.

Selain menetapkan kuota kuartal II-2013, pemerintah juga menetapkan kuota impor kuartal III dan IV-2013 masing-masing 46.000 ekor. Pasokan sapi itu diharapkan bakal menambah stok sapi di kandang perusahaan penggemukan atau feedloter yang pada Maret ini mulai menipis. Data Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) menunjukkan, pada Maret 2013 stok sapi bakalan di kandang penggemukan 112.288 ekor dan sapi bakalan siap potong 39.290 ekor.

Dari jumlah itu 39.651 ekor sapi lokal dan 72.607 ekor sapi impor. Stok sapi siap potong di kandang feedloter periode ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 53.328 ekor. Sapi itu bagian dari stok sapi bakalan Maret 2012 di kandang penggemukan yang sebanyak 154.132 ekor, terdiri dari 22.952 ekor sapi lokal dan 129.413 ekor sapi impor.

Johny Liano, Direktur Eksekutif Apfindo bilang, sebelumnya akhir Maret 2013, seluruh kuota impor sapi bakalan kuartal I-2013 akan masuk semua. Dengan penurunan jumlah sapi siap potong, diperkirakan harga daging sapi di pasaran masih akan stabil tinggi bahkan naik. "Sekarang tinggal ketersediaan sapi lokal dan distribusinya," katanya.

Dia bilang, prosentase permintaan daging terbesar ada di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Tiga wilayah itu menyerap hampir 70% total sapi siap potong perusahaan feedloter. Untuk Jakarta, pasokan sapi siap potong mencapai 1.000 ekor-1.500 ekor per hari.

Ancam Swasembada

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) kepayahan mengejar target swasembada sapi tahun. 2014. Tahun ini saja, target pemenuhan kebutuhan daging sapi melalui impor maksimal 80.000 ton tidak akan mencukupi. "Sudah pasti lewat (kuota impor). Memang seperti itu kenyataanya, saya kira target yang dipasang pemerintah itu juga terlalu dipaksakan," ujar Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan.

Patut diketahui, untuk mengatasi gejolak harga daging sapi yang sempat menyentuh Rp120.000 per kilogram (kg), hasil rapat koordinasi menteri ekonomi belum lama ini memutuskan, pemerintah mempercepat realisasi impor sapi bakalan. Caranya, mempercepat realisasi impor sapi bakalan yang sebelumnya untuk kuartal III dipercepat ke kuartal II. Sementara relisasi kuartal IV dimajukan ke kuartal IIII.

Langkah selanjutnya, pemerintah memutuskan mengeluarkan daging sapi prime cut keluar dari kuota. Meski Rusman mengklaim hal itu tidak mempengaruhi harga daging sapi di pasar tradisional, karena segmen jenis ini hanya diperuntukkan segmen hotel, restoran dan katering. Namun, untuk menstabilkan harga daging di pasar tradisional, pemerintah menugaskan Perum Bulog mengimpor daging beku sebesar 3.000 ton.

Pemerintah juga berencana mendatangkan sapi potong 25.000 ekor dari Australia. Keputusan itu tertuang dalam SK Kemendag No 699/M DAG/KEP/7/2013 tentang Stabilisasi Harga Daging pada 18 Juli 2013 dan akan berakhir pada 31 Desember 2013. Tata niaga perdagangan mencakup importasi sapi serta produknya di bawah kendali penuh Kemendag. Sementara Kementan hanya memberikan rekomendasi berkenaan kesehatan hewan saja.

Padahal dalam roadmap swasembada sapi, Kementan mematok dari kebutuhan daging sapi tahun ini sebesar 549.000 ton, sekitar 80.000 ton harus dipenuhi dari impor atau 13,5%. Jumlah itu terdiri dari 32.000 ton daging beku dan 267.000 ekor sapi bakalan setara 48.000 ton daging sapi. Malah tahun 2014, ditargetkan naik yakni 10% dari total kebutuhan.