Enterpreneurial University Jangan Hanya Jargon - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Semenjak lulusan perguruan tinggi banyak yang menganggur karena terbatasnya lapangan pekerjaan dan kurangnya keahlian lulusan dalam berwirausaha (entrepreneurship) serta ketidak-sinkronan atau ketidak-selarasan antara dunia perguruan tinggi dan dunia kerja (khususnya bisnis dan industri), maka pemangku kepentingan di perguruan tinggi menyadari kenyataan arah kegiatan pendidikannya belum sesuai dengan perkembangan cepat dunia usaha dan industri.

Oleh karena itu sejumlah universitas telah mengkaji ulang visi, misi dan tujuan pendidikannya misalnya ada universitas yang mencantumkan istilah \\\"the entrepreneurial university\\\" pada visi dan misinya atau ada lagi yang memiliki motto \\\"the research and entrepreneurship university\\\" dan jargon lain yang pada intinya mereka (pimpinan) berupaya mencoba mendekatkan universitas yang dikelolanya dengan dunia bisnis dan industri.

Universitas didirikan sebenarnya untuk mengkaji dan menumbuhkembangkan berbagai ilmu pengetahuan dengan menggunakan pendekatan ilmiah yang memiliki logika berpikir runtut, tersistem, baku dan linear. Dalam konteks ini maka universitas amat terbiasa dengan hal-hal yang bersifat tertib, teratur dan terarah dalam segala aktivitas pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Insan akademik melaksanakan kerja-kerja penelitian mengikuti kaidah yang telah ditetapkan dan tidak biasa berperilaku \\\"out of the box\\\", alhasil kemungkinan melakukan kreatifitas yang keluar dari kaidah dan koridor keilimiahan hampir bisa dikatakan keluar jalur yang ditentukan.

Sementara itu dunia entrepreneurship memerlukan kerja-kerja kreatif yang kerap berada pada tataran \\\"out of the box\\\". Dalam dunia entrepreneurship semakin kreatif orang menjalankan kegiatan entrepreneurship nya semakin berkembang dan sukses usaha yang dijalankan.

Keterampilan berwirausaha (entrepreneurial skills) memang membutuhkan olah pikir dan olah kerja yang kreatif dan (juga) inovatif agar memunculkan gagasan dan produk yang siap diterima pasar (pada tataran praksis). Orang yang memiliki keterampilan ini tidak bisa dibelenggu dengan aturan kaku, rigid, tidak fleksibel dan beururtan sebagaimana dunia ilmiah biasa memperlakukan hal-hal tersebut.

Dari paparan diatas jelas bahwa keduanya (riset ilmiah dan entrepreneurship) berbeda landasan dan jika disandingkan tentu tidak bisa menyatu secara sempurna karena memang masing-masing memiliki \\\"maqom\\\" atau tempat yang berlainan.

Meski demikian bukan berarti riset ilmiah dan entrepreneurship tidak bisa bersama-sama menjadi acuan suatu universitas dalam segala kegiatan akademiknya. Keduanya bisa saling melengkapi asalkan penanganan dilakukan secara terpisah sesuai dengan ciri khas masing-masing. Aktivitas riset tetap mengacu pada prinsip ilmiah sesuai tahap-tahap yang telah ditentukan.

Sementara itu peningkatan entrepneurial skillls sivitas akademika dapat dilakukan dengan menyusun rencana program pelatihan dan sistem kerjasama dengan dunia bisnis dan industri sesuai bidang yang ada di universitas tersebut.

Memang mengembangkan keterampilan entrepreneurship sivitas akademika bukan sesuatu yang mudah apalagi selama bertahun-tahun sudah terbiasa dengan cara beprikir ilmiah yang seperti dijelaskan diatas satu dan lainnya sangat bertolak belakang.

Diperlukan iklim kondusif untuk mengubah kebiasaan yang melekat dikalangan sivitas akademika mulai dengan merubah gaya kepemimpinan yang kurang mendukung tumbuh-kembangnya enterpreneurial skills menjadi kondusif bagi tersemainya sifat dan perilaku kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dan lain-lain hingga pada pelaksanaan program-program pelatihan dan kerjasama yang dapat meningkatkan kualitas personal sivitas akademika.

Tanpa menaruh perhatian akan hal-hal yang disebutkan diatas mustahil \\\"the entrepreneurial university\\\" mewujud dalam arti sesungguhnya, jika tidak maka hal tersebut hanya sekedar jargon belaka tanpa makna hakiki. Universitas yang memiliki tingkat entrepreneurship tinggi dapat terlihat dari sejauh mana unjuk kerja sivitas akademikanya dapat diterima bagi dunia bisnis dan industri oleh karena apa yang dihasilkannya memang amat dibutuhkan dunia bisnis dan industri.

Pada gilirannya universitas tersebut akan mampu menyesuaikan diri atas perkembangan yang cepat dan dinamis di dunia bisnis dan industri. Jadi, slogan \\\"the enterpreneurial university\\\" mesti terbukti dilapangan dan untuk mengejawantahkannya diperlukan penanganan khusus yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang memang memiliki kompetensi di bidang entrepreneurship serta pengembangan kompetensi SDM. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Penerimaan Pajak Ditaksir Hanya 90%

  NERACA   Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun memperkirakan pencapaian target pajak hingga akhir tahun 2017…

Menteri Dalam Negeri - Jangan Ada Lobi-Lobiu Anggaran Dengan DPRD

Tjahjo Kumolo  Menteri Dalam Negeri Jangan Ada Lobi-Lobiu Anggaran Dengan DPRD Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memperingatkan seluruh…

Ketua MPR RI - Jangan Kotak-Kotakkan Pancasila

Zulkifli Hasan  Ketua MPR RI Jangan Kotak-Kotakkan Pancasila Malang, Jatim - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pengawasan Perbankan dan Harga Minyak

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, naiknya…

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

Memaknai Peringatan Hari Anti Korupsi

  Oleh: Ardianus Wiguna, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP-UI   Korupsi dalam bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang…