Mendag Taksir Defisit Neraca Perdagangan US$6 Miliar

Sepanjang 2013

Rabu, 14/08/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan memprediksi defisit neraca perdagangan pada 2013 mencapai US$6 miliar. Hal tersebut lantaran masih maraknya impor migas dan tidak bisa diimbangi dengan ekspor.

"Di semester pertama saja, defisit neraca perdagangan telah mencapai US$3,3 miliar. Ini terjadi karena impor migas yang mencapai US$5,8 miliar dan surplus US$2,5 miliar. Nantinya secara total defisit neraca perdagangan mencapai US$5-6 miliar," ungkap Gita usai Halal Bihalal di kantornya, Selasa (13/8).

Menurut dia, pihaknya telah menyiapkan cara agar defisit neraca perdagangan tidak semakin membengkak, salah satunya dengan peningkatan ekspor. Akan tetapi, disaat kondisi ekonomi global yang sedang slowdown maka akan sulit bisa meningkatkan ekspor. "Kita akan meningkatkan nilai tambah ekspor akan tetapi akan makan waktu banyak. Namun, kami melihatnya jangka panjang," tambahnya.

Selain peningkatan ekpor, Pemerintah juga menggenjot ekspor ke negara-negara non tradisional seperti ke India, Pakistan dan beberapa negara Afrika. "Peningkatan ekspor ke negara non tradisional sudah mulai terasa. Seperti di Pakistan yang mana sudah ditandatangai perjanjian Free Trade Agreement (FTA). Nanti kalau sudah diratifikasi oleh Pemerintah Pakistan, maka kelapa sawit Indonesia akan dibeli.

Cara lain agar terjadinya peningkatan ekspor adalah mendorong investasi di Indonesia. Dia mencontohkan pabrik baja Krakatau-Posco yang bisa memproduksi 3 juta ton baja. "Dengan produksi baja mencapai 3 juta ton, maka nanti bisa membuahkan surplus dalam neraca perdagangan mencapai US$1,5 miliar pertahun. Jadi, semakin banyak investasi yang berorientasi ekspor maka akan banyak nilai tambahnya akan tetapi produksi migas harus ditingkatkan agar jangan bergantung dengan impor," ucapnya.

Menurut pandangan Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika menyebutkan ada tiga kesalahan pemerintah yang menyebabkan defisit neraca perdagangan. Kesalahan yang pertama adalah pemerintah tidak mendifersivikasi komoditas ekspor dan negara tujuan ekspor. "Selama 25 tahun terakhir, pemerintah gagal mendifersivikasi ekspor Indonesia, baik komoditasnya maupun negara yang menjadi tujuan ekspor," ujar Erani.

Selama ini barang primer menjadi komoditas utama ekspor Indonesia, namun saat ini harga komoditas tambang, energi yang menjadi andalan Indonesia cenderung mengalami penurunan. Ditambah lagi perekonomian dunia yang masih dalam kondisi krisis, membuat kinerja ekspor Indonesia semakin terpuruk.

Kesalahan yang kedua adalah pemerintah tidak mengontrol impor bahan baku penolong yang mencapai 70% dari total impor. Impor bahan baku akan diolah oleh industri dan selanjutnya akan diekspor, menurut Erani seharusnya barang yang menjadi komoditas ekspor memiliki muatan lokal yang lebih banyak. “Kalau mau impor harusnya lebih banyak barang modal,” sebutnya.

Dan kesalahan ketiga adalah, pemerintah gagal mengendalikan subsidi BBM. Subsidi membuat harga bahan bakar di Indonesia menjadi sangat murah, sehingga membuat konsumsi masyarakat selalu melebihi kuota yang telah ditentukan pemerintah. Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat jalan terakhir hanyalah impor, akibatnya defisit neraca perdagangan migas semakin membesar.

Quarto Defisit

Namun begitu, ternyata Indonesia tidak hanya terjebak dalam defisit neraca perdagangan saja. Numun juga, menurut Ketua Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (LP3E Kadin) Didik J. Rachbini mengatakan ekonomi nasional terus mengalami kesulitan sebagai akibat dari empat jenis defisit yang sedang terjadi di Indonesia. "Indonesia sedang dirundung defisit berganda karena kebijakan ekonomi jauh dari memadai untuk mengatasi masalah. "Quatro" (empat) defisit yang bertumpuk-tumpuk ini akan menjadi 'warisan' masalah ekonomi bagi presiden yang akan datang," kata Didik.

Dia menyebutkan keempat jenis defisit yang sedang menjadi kendala ekonomi nasional itu adalah defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, defisit neraca pembayaran, dan defisit primer Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Kalau presiden-presiden dulu hanya mewariskan satu masalah 'abadi', yaitu defisit neraca transaksi berjalan, dimana APBN dan neraca perdagangan masih surplus. Sekarang sudah empat defisit yang diwariskan," ujarnya.

Menurut dia, keempat jenis defisit tersebut akan berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi nasional di masa depan bila tidak segera mulai ditangani. "Bagaimana dampaknya (defisit) dengan kondisi ekonomi kita? ya fiskal kita menjadi berat dan itu berakibat pada sektor moneter serta ekspor dan impor pada kegiatan ekonomi riil," ungkapnya.

Didik mengatakan defisit yang berlangsung sejak lama dan belum menunjukkan tanda perbaikan hingga saat ini adalah defisit transaksi berjalan. Neraca transaksi berjalan, kata dia, terus-menerus mengalami defisit dan belum memperlihatkan tanda-tanda menuju positif. "Hal ini disebabkan 'jebolnya' transaksi jasa sepanjang sejarah. Pemerintah tidak memiliki strategi mengatasinya, dan hal ini telah dianggap biasa sebagai kejadian rutin," katanya.

Dia memaparkan pada periode 1981 hingga 1996 Indonesia selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan ketika ekonomi tumbuh dengan laju tinggi. "Defisit ini tidak perlu dikhawatirkan bila dapat diimbangi oleh masuknya modal, terutama investasi langsung," katanya.

Sejauh ini, kata dia, ekspor sumber daya alam (SDA) telah menopang nilai ekspor pada neraca transaksi berjalan. "SDA yang diekspor itu paling banyak barang mentah, seperti batubara dan kelapa sawit. Namun, sudah ditopang dengan ekspor SDA saja masih tetap defisit," tuturnya.

Selain defisit neraca transaksi berjalan, kata Didik, defisit primer APBN juga terjadi dalam ekonomi pada masa pemerintahan saat ini. "Inilah jenis defisit pertama kali dalam sejarah sejak 1990. Penyebabnya tidak lain adalah kesalahan dalam mengelola subsidi BBM yang terus 'membengkak'," katanya. Menurut dia, setelah harga BBM dinaikkan dengan tujuan mengurangi beban APBN, ternyata subsidi BBM dalam APBN Perubahan 2013 tidak lebih kecil dari APBN 2013 sebelum diubah.

Selanjutnya, dia mengatakan defisit juga terjadi dalam neraca perdagangan, dimana selama hampir 10 tahun terakhir Indonesia dibanjiri produk-produk buatan China. "Pada 2007, perdagangan dengan Jepang surplus US$3,2 miliar, tetapi sekarang defisit US$11 miliar. Kemudian, perdagangan dengan China, defisit hanya US$1,8 miliar pada 2007, tapi sekarang defisit mencapai US$17 milair," paparnya.