Unilever Dukung Program PJAS

40% Jajanan Sekolah Tak Higienis

Sabtu, 31/08/2013

Setiap orangtua pasti menginginkan kantin sekolah yang higienis dan sehat dapat terwujud guna menunjang kegiatan belajar dan mengajar anak-anak mereka di sekolah, terutama saat mereka berada dalam masa pertumbuhan.

NERACA

Setiap orangtua pasti selalu ingin memastikan yang terbaik untuk buah hati mereka termasuk dalam hal konsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan aman untuk menunjang pertumbuhan anak, dari mulai kecukupan nutrisi hingga ke kebersihan peralatan masak dan perlengkapan makan yang digunakan.

Namun, para Ibu kerap menjadi cemas pada saat anak mereka berada di luar rumah, termasuk di sekolah, karena disamping mengonsumsi bekal yang dibawa dari rumah, tidak dapat dipungkiri bahwa anak masih menjadikan jajan di kantin sekolah sebagai suatu kebiasaan. Tentunya hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri di benak para Ibu, terlebih dengan kenyataan bahwa masih banyak kantin sekolah di Indonesia yang belum memenuhi kriteria untuk bisa disebut sebagai kantin sekolah yang sehat.

Hasil pengawasan terhadap Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) sejak 2006 telah menunjukkan sekitar 40-44% jajanan anak sekolah belum memenuhi syarat, salah satunya disebabkan kanti yang tidak higienis. Padahal rendahnya kualitas PJAS dapat memperburuk status gizi anak sekolah akibat terganggunya asupan gizi.

Kenyataan yang sedemikian memprihatinkan mendorong PT Unilever Indonesia Tbk yang peduli akan higienitas dan sanitasi peralatan makan dan masak, mempersembahkan sebuah kampanye bertema 'Kantin Higienis Sunlight'. Kampanye yang bertujuan mengedukasi pentingnya kantin sekolah yang sehat dan higienis ini salah satunya hadir dalam bentuk seminar yang melibatkan 100 Kepala Sekolah dari 100 Sekolah Dasar yang tersebar di wilayah Jakarta.

”Sunlight mengerti kekhawatiran para Ibu. Untuk itu, sebagai brand yang peduli akan pentingnya menjaga kehigienisan peralatan masak dan makan, kami menggalakkan kampanye ’Kantin Higienis Sunlight’, yang akan memberikan edukasi kepada berbagai pihak mengenai langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan kantin sekolah yang sehat,” kata Senior Brand Manager Sunlight, Risyantie Wulansari.

Sementara itu, alasan dasar dari kampenye ini, adalah bahaya yang ditimbulkan dari kantin yang tidak higienis terhadap kesehatan anak. Dr. Nurrahmiati, MKM, selaku pakar kesehatan masyarakat yang aktif bekerja di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan, kebersihan kantin sekolah berperan penting dalam menyediakan makanan dan minuman yang aman dan sehat untuk anak-anak. Jajanan sehat tidak hanya bergantung pada kandungan dalam jajanan saja, namun yang tak kalah pentingnya tingkat higienitas kantin dan sistem sanitasi kantin sekolah.

Makanan, sambung dia, termasuk jajanan di kantin sekolah, menjadi tidak aman untuk dikonsumsi karena tercemar mikroba dari hewan, manusia, atau benda-benda lainnya. Apabila mikroba tersebut berasal dari jenis yang berbahaya, maka makanan dapat menjadi sumber penyakit bagi anak. Bahkan jika jumlahnya banyak, dapat menyebabkan keracunan pangan.

”Oleh karena itu, upaya pencegahan untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan menjadi sangat penting, termasuk melalui perawatan peralatan masak dan makan dengan baik dan benar,” lanjut Dr. Nurrahmiati.

Manajemen Keamanan Pangan

Kampanye 'Kantin Higienis Sunlight' ternyata memiliki visi yang sejalan dengan gerakan pemerintah yang dicanangkan tahun 2011, yaitu Program Aksi Nasional Gerakan menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu dan Bergizi. Gerakan yang salah satunya dimotori oleh BPOM ini menganjurkan setiap sekolah untuk memiliki manajemen keamanan pangan sekolah secara mandiri, yang harus diawali dengan komitmen dari Kepala Sekolah selaku pengambil keputusan tertinggi di sekolah.

Capaian keamanan PJAS terus menunjukkan peningkatan yang bermakna, dimana PJAS yang memenuhi syarat (MS) pada tahun 2008 – 2010 sebesar 56 – 60%, meningkat menjadi 65% di tahun 2011, dan 76% pada tahun 2012. Dampak Aksi Nasional PJAS sampai akhir tahun anggaran 2012 diperkirakan dapat melindungi sekitar 1,7 juta siswa dari PJAS yang tidak aman, serta 3,4 juta orang tua siswa, 104.000 guru SD, 104.000 pedagang PJAS di sekitar sekolah, dan 31.000 pengelola kantin telah terpapar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) keamanan pangan.

DR. Roy A. Sparringa, M. App.Sc selaku Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM menuturkan, dalam mewujudkan lingkungan kantin yang bersih berkualitas dan penyediaan pangan yang aman, kantin yang berkualitas sangat berhubungan dengan kualitas air, ventilasi, pengelolaan air limbah, tempat sampah, tempat cuci tangan dan piring, tempat penyimpanan alat makan dan masak, lingkungan tempat cuci peralatan makan dan masak, higienitas penjaja makanan, dan lain sebagainya.

“Karena keamanan pangan adalah upaya bersama, perlu adanya komitmen bersama dari pihak sekolah terutama Kepala Sekolah dan pihak-pihak yang terkait untuk berupaya menciptakan kantin sekolah yang higienis – contohnya kolaborasi kami dan pihak Sunlight kali ini,” lanjut Roy.

Selain itu, sejak bulan Mei lalu, kampanye ini menggelar road show dengan mendatangi 7 sekolah dasar terpilih di 7 kota di Indonesia, yaitu: Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar untuk memberikan edukasi kepada para guru, orang tua murid, penjaja kantin, dan juga siswa didik di sekolah-sekolah tersebut.

Sebagai langkah lanjutan program ini, akan digelar pula kompetisi 'Kantin Higienis Sunlight' yang akan mengajak sebanyak mungkin Sekolah Dasar di Indonesia untuk berlomba-lomba menciptakan kantin higienis di sekolah mereka masing-masing.