"Seluruh Dunia Melakukan Revisi Target Pertumbuhan"

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta - Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, saat ini seluruh dunia telah melakukan revisi target pertumbuhan ekonomi ke bawah karena masih terjadi perlambatan ekonomi di negara maju.

"Revisi atau penurunan target itu bukan gejala Indonesia sendirian, tapi gejala global," katanya saat ditemui di Jakarta, Senin (12/8). Bambang mengatakan, kondisi tersebut yang menyebabkan kemungkinan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3% tidak tercapai, dan diperkirakan hanya mencapai kisaran enam persen pada akhir tahun.

Menurut dia, penurunan target pertumbuhan tersebut, menyebabkan perekonomian global saat ini sedang menuju keseimbangan baru, karena tidak ada negara yang benar-benar imun terhadap gejolak hingga beberapa tahun mendatang.

"Kita sedang menuju ekonomi dalam keseimbangan baru, kita harus siap dengan kondisi sekarang. Jangan memaksakan kita harus kembali di tahun 2011. Waktu itu, kondisinya bersifat luar biasa, dimana ekonomi China masih tumbuh tinggi. Sekarang ekonomi China sudah tidak bisa tumbuh, India dan Brasil juga seperti itu," ujarnya.

Bambang mengatakan situasi pada semester II-2013 tidak akan lebih baik dari semester I-2013 dan kondisi ini dapat menyebabkan seluruh indikator makro yang tercantum dalam APBN-Perubahan tidak tercapai. "Ini terjadi di seluruh belahan dunia, depresiasi mata uang terjadi dimana-mana, terutama negara emerging. Inflasi mungkin 'localized' bukan yang sifatnya menyebar, tapi pertumbuhan terjadi penurunan," katanya.

Namun, Bambang memastikan revisi penurunan target pertumbuhan di berbagai negara tersebut, bukan berarti kondisi global saat ini sedang mengalami perlambatan ekonomi parah seperti 2009. "Saat ini ekonomi AS 'recovery', kalaupun ada gangguan, itu kecil. Indonesia sendiri walaupun ada penurunan ekspor, tapi kondisi sekarang lebih bagus. Paling tidak ekonomi global, tidak seperti tahun 2009 dalam konteks sektor keuangan kolaps, tapi menuju keseimbangan baru," ujarnya.

Saat ini, China telah merevisi target pertumbuhan dibandingkan akhir tahun lalu dari 8,1% menjadi 7,5%, India dari 6,5% menjadi 5,9%, Amerika Serikat dari 1,9% menjadi 1,8% dan Uni Eropa dari minus 0,1% menjadi minus 0,6%.

Sementara Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan postur RAPBN 2014 akan memberikan ruang fiskal senilai Rp18,4 triliun yang sebagian besar akan dimanfaatkan untuk pembangunan sarana infrastruktur.

"Untuk RAPBN 2014, kita punya postur relatif baik karena setelah menaikkan harga BBM kita punya ruang fiskal sebesar Rp18,4 triliun," ujarnya. Chatib mengatakan selain untuk infrastruktur sebesar Rp13 triliun, ruang fiskal akan dimanfaatkan untuk komitmen pembiayaan dana iuran kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Rp3,8 triliun dan insentif untuk sektor transportasi publik.

"Ini menunjukkan komitmen kita terhadap 'social safety net', untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, karena tidak bisa kita tergantung pada buruh tidak terampil dan sumber daya alam," ujarnya. Chatib menambahkan pemerintah juga memberikan instrumen fiskal, berupa penyederhanaan prosedur "tax allowance" dan penambahan sektor penerima "tax holiday" untuk mengembangkan industri hilirisasi di Indonesia mulai tahun depan. [ant]