Pekan Ini, IHSG Diprediksi Menurun

CERMATI SEKTOR TAMBANG DAN PROPERTI

Selasa, 13/08/2013

Jakarta – Jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai wajar pelemahan indeks Bursa Efek Indonesia di awal pekan pasca libur panjang Lebaran seiring dengan kondisi beberapa bursa lain di kawasan regional yang ikut turun. Berbeda dengan analis Trust Securities, Reza Priyambada, yang menilai penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin (12/8) hingga 0,9% merupakan hal yang tidak biasa secara historis pergerakan saham di negeri ini.

NERACA

“Turun 0,9% memang masih wajar secara teknikal, namun bila melihat historis IHSG pasca lebaran, ini bukanlah sesuatu yang wajar. Biasanya setelah lebaran IHSG justru menguat,”tegasnya kepada Neraca di Jakarta, Senin.

Mengakhiri perdagangan awal pekan ini, IHSG ditutup terkoreksi 43,00 poin atau 0,93% ke posisi 4.597,78. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 10,99 poin (1,42%) ke level 763,95. Kendati demikian, OJK optimis indeks pada perdagangan pertama setelah libur Lebaran diprediksi tidak lagi mengalami penurunan tajam.

Sebaliknya, praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo menyakini, laju IHSG cenderung berpotensi melemah hingga akhir pekan ini dengan target support 4.400 dan resistance di level 4.550. “Perdagangan Selasa cenderung melemah karena IHSG tidak dapat mempertahankan level psikologisnya, di level 4.600. Artinya, sentimen negatif masih akan mempengaruhi IHSG,”ungkapnya.

Menurut dia, saham Nikkei menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG saat ini. Pasalnya, selain Dow Jones, Nikkei menjadi barometer utama dalam mengukur kinerja Indeks di Asia, termasuk IHSG. Meskipun Nikkei tercatat tidak mengalami pelemahan yang cukup dalam, perdagangan yang terjadi di bursa Jepang tersebut saat ini sangat minim sehingga membuat pelaku pasar khawatir. “Di Asia, Nikkei memiliki tingkat likuiditas yang lebih tinggi daripada Singapura dan Thailand sehingga perlu perhatikan pelaku pasar.” jelasnya.

Dalam kondisi ini, sambung dia, pelaku pasar dapat mengambil kesempatan pada saham-saham pertambangan. Meskipun dalam posisi downtrend, saham-saham di sektor ini cukup menarik dengan harga sahamnya yang saat ini terbilang murah. Beberapa saham pertambangan yang dapat diperhatikan antara lain ADRO, ANTM, TINS, dan ITMG. “Saat ini disarankan untuk jangka pendek atau transaksi harian.” ujarnya.

Selain sektor tersebut, pelaku pasar juga dapat memperhatikan saham infrastruktur karena masih memiliki peluang menguat dari posisinya saat ini yang berada pada batas normal. Selain itu, dia pun menyarankan pelaku pasar agar menghindari saham properti. Pasalnya, meskipun termasuk saham yang mendominasi, namun pertumbuhan saham tersebut sudah sangat agresif atau sekitar 40% berada di atas IHSG.

Sektor yang Menguat

Sementara analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan menambahkan, hingga akhir pekan ke depan, selain sektor infrastruktur dan pertambangan ada beberapa sektor yang bakal menguat yaitu sektor properti, sektor konstruksi, dan sektor perbankan. “Hitung-hitungan kita pada saat pengumuman tanggal 15 nanti, bukan hanya sektor infrastruktur dan pertambangan saja yang naik. Tapi menyusul sektor properti, konstruksi, dan perbankan akan naik,” ungkapnya.

Bagi pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani mengatakan hal ini tidak terlepas pada sisi sosiologis dan kultural dimana setelah libur panjang hari raya maupun hari libur nasional, yang membuat kondisi pasar saham menjadi tidak stabil. Selama ini sudah diteliti dengan cermat mengenai pergerakan saham setelah libur panjang maka akan mengalami penurunan dalam perdagangan IHSG, “Pelemahan perdagangan ini pun juga diakibatkan oleh tingkat inflasi yang naik, pada saat ini tingkat inflasi bisa mencapai 8,6 hingga 8,9 % dan naik 3% dari target inflasi 6,5%. Inflasi ini berkaitan dengan daya beli konsumen yang menbuat investor asing segan untuk melakukan transaksinya,” katanya.

Menurut Agus, di mata investor domestik, investor asing mempunyai dana besar dan menguasai 50 sampai 67% pasar di BEI. Oleh karenanya, dengan pelemahan di bursa kawasan regional ini maka investor asing melakukan aksi menunggu kondisi pasar regional stabil.“Idealnya nilai perdagangan di IHSG harus mencapai Rp 5 triliun, namun belakangan ini, nilai perdagangan hanya mencapai Rp 2 triliun-Rp3 triliun dikarenakan investor asing tidak banyak melakukan aksi transaksinya di IHSG,”paparnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan sektor pertambangan memang sangat stabil dalam perdagangan IHSG, pasalnya sektor ini merupakan sektor Sumber Daya Alam (SDA) yang akan tetap stabil sampai kapan pun dan tidak terpengaruh atas apapun juga. Untuk kedepannya, sektor properti akan mengalami kenaikan, namun sektor perbankan tidak akan naik dikarenakan kondisi perekonomian Indonesia tidak stabil.

Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengungkapkan, pihaknya akan memantau pergerakan IHSG. Pasalnya, jika terjadi penurunan yang sangat drastis, pihaknya akan melakukan tindakan untuk mengantisapi penurunan yang lebih dalam. mohar/lia/nurul/agus