Terdepak dari LQ45, Dahlan Panggil Direksi Antam

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta – Terdepak dari jajaran LQ45, direksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan dipanggil Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam waktu dekat ini. Pemanggilan ini dilakukan untuk mencari tahu penyebab ANTM keluar dari LQ45 dan segera mencari solusi untuk masalah ini secara bersama-sama. “Otomatis akan dipanggil, kemungkinan dalam satu atau dua hari ini”, ujar Dahlan di Jakarta, Senin (12/8).

Padahal jika melihat kinerja perseroan, penjualan Antam naik 37% menjadi Rp6,1 triliun pada semester pertama tahun ini dibandingkan semester pertama tahun lalu. Komoditas emas menjadi kontributor terbesar penjualan Antam yang mencapai Rp2,8 triliun atau berkontribusi sebesar 46% dari total penjualan.

Penjualan emas ANTM pada setengah tahun pertama ini berhasil menjual 5.493 kg atau 67% dari target tahun ini 8.201 kg. Sementara produksi emas Antam mencapai 1.268 kilogram atau 45 persen dari target 2013 sebesar 2.801 kilogram. Selain itu, ANTM terus meningkatkan produksi emasnya untuk mengimbangi harga emas yang terus turun. Pasalnya, dengan menaikan jumlah produksi ditengah turunnya harga, perseroan berharap dapat mengimbangi turunnya pendapatan.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Antam Tato Miraza, menyatakan perseroan meningkatkan produksi emas dengan rumus price x volume. Sehingga harga turun produksi harus ditingkatkan. Ini dilakukan untuk mengimbangi turunnya pendapatan, “Penurunan harga emas belakangan ini disebabkan adanya sikap pasar yang merespon kebijakan ekonomi di Amerika Serikat. Hingga semester pertama tahun ini, perseroan berhasil menaikan produksi emas sebesar 51% dibandingkan produksi yang sama ditahun sebelumnya mencapai 3,6 ton,”paparnya.

Direktur Keuangan PT Aneka Tambang Tbk, Djaja Tambunan menambahkan, perseroan berharap harga emas sepanjang tahun ini tidak mengalami penurunan tajam, hingga US$1.000 per ounce karena dapat mematikan produsen emas. Dia berharap harga emas tetap bertahan pada kisaran US$1.300 sampai US$1.200 per ounce.

Pada semester I tahun ini, perseroan mencatat produksi feronikel mencapai 53% dari target sepanjang tahun ini sebesar 18 ribu ton. Penjualan produk tersebut juga tercatat cukup tinggi, hingga 104% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 6.700 ton. Sementara itu, harga emas berjangka di bursa Amerika Serikat sempat turun lebih dari 23% pada kuartal kedua tahun ini.

Penurunan ini menjadi yang paling tajam dalam periode kuartal sejak perdagangan pertengahan 1970-an. Perseroan juga berharap mendapat mandat dari pemerintah untuk mengelola PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), setelah Inalum jadi milik negara.

Jika telah dipercaya pemerintah, perseroan yakin mampu mengelola usaha tersebut.“Mengenai pendanaan untuk biaya produksi Inalum, Antam mampu mencari pinjaman dana guna menjalankan kegiatan produksi alumuniun tersebut. Dengan melihat kondisi Inalum yang sudah mapan dan memiliki pangsa pasar sendiri”, ungkap Djaja.

Saat ini pihaknya tengah menunggu keputusan pemerintah akan berikan ke Antam atau pihak lain. Namun dia menyatakan bahwa perseroan 100% siap untuk mengambil alih operasional Inalum. Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal untuk sektor produksi aluminium di Sumatera Utara. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang.(nurul)