Sinyal Sektor Perkebunan Masih Negatif

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta- Melemahnya kinerja sebagian besar emiten di sektor perkebunan dinilai masih akan berlanjut pada semester kedua tahun ini. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk menghindari saham-saham yang bergerak di sektor tersebut. “Ke depan, sektor perkebunan cenderung stagnan dan belum mensinyalkan apa-apa. Saat ini orang juga lebih memilih sektor yang bergerak negatif daripada netral sehingga sampai akhir tahun ini masih cenderung negatif.” kata praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Senin (12/8).

Apabila dilihat secara fundamental, sebagian besar emiten perkebunan sepanjang semester pertama 2013 mencatatkan penurunan laba bersih. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) misalnya, yang mencatatkan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 25,20% pada semester pertama tahun ini atau menjadi Rp716,98 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp958,61 miliar.

Terjadinya penurunan laba tersebut seiring dengan turunnya pendapatan bersih perseroan sebesar 2,68% menjadi Rp5,49 triliun pada semester pertama 2013 dibandingkan sebelumnya sebesar Rp5,64 triliun. Selain AALI, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) bahkan mencatatkan penurunan laba bersih hingga 82,16% menjadi Rp26,72 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp149,88 miliar.

Perseroan mencatatkan penurunan penjualan 27,28% menjadi Rp1,01 triliun pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,39 triliun. Begitu juga dengan PT BW Plantation Tbk (BWPT) yang mencatatkan laba bersih turun 44,21% menjadi Rp85,73 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp153,85 miliar.

Melemahnya kinerja emiten perkebunan secara fundamental, menurut Lucky, bukan hanya disebabkan penurunan ekspor terhadap sektor ini. Namun, keberpihakan pemerintah untuk meningkatkan kinerja sektor perkebunan dengan mengalokasikan investasi asing yang masuk hingga saat ini belum dilakukan. “Penurunan ekspor tidak dominan, FDI (Foreign Direct Investment/FDI) yang bulan lalu mengalami kenaikan tidak juga dialokasikan ke sektor komoditas, namun lebih kepada infrastruktur.” ucapnya.

Dengan kondisi ini, sambung dia, CPO pun dihindari oleh pelaku pasar dan lebih memilih instrumen pasar yang bersifat mata uang dibandingkan komoditi. Sementara itu, analis saham Reza priyambada pernah mengatakan, menurunnya kontrak yang diperoleh emiten perkebunan berpengaruh cukup signifikan terhadap harga jual emiten-emiten perkebunan atau yang bergerak pada komoditas minyak sawit.

Kenaikan volume penjualan, menurut Reza, dapat menjadi strategi emiten yang bergerak di bidang ini untuk mendukung pertumbuhan kinerjanya ke depan. Selain itu, emiten CPO juga dapat meningkatkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan CPO sebagai bahan bakunya, antara lain industri farmasi dan olahan makanan. Karena itu, meskipun tidak secemerlang sektor lainnya, sektor ini masih memiliki peluang pertumbuhan karena masih berhubungan dengan sektor konsumer. (lia)