Menagih Janji Atau Hanya Bualan OJK Perbanyak IPO

NERACA

Jakarta –Masih minimnya perusahaan yang tercatat di pasar modal dalam negeri menjadi masalah klasik yang terus menjadi perhatian otoritas industri pasar modal, apalagi bila menyinggung perusahaan plat merah yang mencatatkan sahamnya di pasar modal melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Hal ini menjadi keprihatinan sangat mendalam. Pasalnya, dari 140 perusahaan BUMN hanya 20 BUMN yang baru mencatatkan sahamnya di BEI.

Klaim industri pasar modal dalam negeri selalu menjadi yang terbaik di Asia dengan indeks tertinggi hingga kapitalisasi pasar, rupanya belum afdol jika tidak didukung kuantitas jumlah perusahaan yang tercatat di pasar modal hingga dominasi investor lokal. Sudah menjadi rahasia umum, aktifnya transaksi perdagangan saham selama ini lebih dipicu transaksi asing yang aktif ketimbang investor lokal lantaran minimnya jumlah investor dalam negeri.

Merespon kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali sesumbar untuk terus perbanyak jumlah emiten dengan harapan bisa mendongkrak kapitalisasi pasar saham. Teranyar, OJK berencana mengundang 100 perusahaan yang belum IPO untuk segera IPO.

Anggota Dewan Komisioner OJK, Nurhaida mengatakan, pihaknya sudah berdiskusi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Himpunan Pengusahaan Muda Indonesia (HIPMI) dan pihak lainnya, untuk mencatat perusahaan yang berpotensi untuk IPO. Jadi akan semakin banyak perusahaan nasional tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI),”Banyak perusahaan besar di Indonesia tapi belum IPO, sehingga kami inggin undang perusahaan tersebut dan nanti kami jelaskan mengenai pasar modal itu apa, bagaimana IPO dan langkah-langkahnya,”tandasnya.

Menurut Nurhaida, pengetahuan masyarakat termasuk pengusaha Indonesia tentang pasar modal sangat rendah. Untuk itu memerlukan edukasi secara detail agar mengerti dan tidak ada lagi rasa takut berinvestasi di pasar modal. Disebutkan, dari seluruh sektor keuangan, memang yang paling sedikit adalah pemahaman tentang pasar modal. Padahal, masuk ke pasar modal, bisa menjadi pilihan dalam mencari dana untuk ekpansi perusahaan atau lainnya.

Literasi Keuangan

Asal tahu saja, bukan kali ini saja OJK mengungkapkan siasatnya meningkatkan jumlah emiten dan investor guna meramaikan industri pasar modal. Belum lama ini, OJK mengungkapkan komitmennya mendorong pemahaman masyarakat tentang pasar modal melalui literasi keuangan sehingga akses ke pasar modal dapat dimanfatkan dengan baik, “Di Indonesia, pengetahuan masyarakat masih cukup minim, oleh karena itu bagaimana membangun konsumen keuangan yang percaya diri, salah satunya dengan literasi keuangan,\" kata Ketua Komisioner OJK Muliaman D. Hadad.

Menurutnya, di negara berkembang literasi keuangan menjadi perhatian. Bahkan negara maju seperti Amerika Serikat juga diterapkan yang dirasakan juga bagi anak-anak. Maka itu literasi keuangan di Indonesia akan terus berlanjut. Literasi keuangan yang dilakukan secara terus menerus, menurutnya akan mendorong pemahan konsumen atau investor untuk memahami produk investasi sehingga akan meningkatkan persaiangan. Nantinya, cepat atau lambat masyarakat Indonesia akan meningkat pemahamannya, sehingga akan tumbuh masyarakat yang memerlukan jasa keuangan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait literasi keuangan yaitu strategi dengan program edukasi keuangan menyentuh semua lapisan masyarakat. Lalu, adanya persamaan persepsi pemahaman keuangan antara otoritas dan industri.

Selain itu, Muliaman juga menambahkan, OJK berjanji akan memudahkan perusahaan melakukan IPO dengan mempersingkat proses perizinan, “Kita terus mengupayakan kemudahan untuk perusahaan-perusahaan yang mau IPO dengan mempersingkat proses perizinan,”tegasnya.

Proses IPO

Dia mengemukakan, rata-rata proses IPO sekarang ini selama 21 hari kerja Bursa, OJK sedang mempelajari berapa lama waktu prosesnya agar lebih cepat. Kendatipun demikian, sejatinya pelaksanaan IPO tetap memperhatikan kondisi pasar agar tidak jeblok. Pengalaman buruk inilah yang dirasakan Garuda Indonesia yang sepi peminat saat IPO. Sementara disemester pertama tahun ini, ada PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) yang menurunkan size IPO dari 40% hanya 10%. Hal yang sama juga dilakukan Saratoga dan bahkan ada yang menunda IPO seperti PT Bank Muamalat Tbk.

Meskipun demikian, BEI tetap optimis target IPO tahun ini sebanyak 30 emiten bisa melebihi target. Sebaliknya, analis pasar modal Lucky Bayu Purnomo pernah bilang, kondisi pasar yang tidak menentu saat ini mempengaruhi kinerja saham-saham yang tercatat di pasar modal, termasuk pelaksanaan pencatatan saham umum perdana perusahaan, “Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun saat ini masih mengalami koreksi sehingga beberapa perusahaan yang listing di pasar modal tidak cukup maksimal untuk mencapai targetnya,”tegasnya

Dia mencontohkan, keberadaan tiga emiten baru yang listing di pasar modal saat ini pun, belum mampu menguatkan IHSG untuk bangkit. Sementara itu, Direktur Utama AAA Sekuritas, Andri Rukminto mengatakan, pelaksanaan IPO di tengah kondisi pasar saat ini berpengaruh terhadap jumlah penawaran saham dan harga saham yang ditawarkan. “Permintaan saat ini memang belum terlalu bagus sehingga bisa menurunkan size dan harga saham.” ucapnya.

Risiko Pasar

Bagi Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat, pihaknya tidak bertanggungjawab apabila harga saham suatu perusahaan yang melakukan listing mengalami penurunan. Pasalnya, suatu perusahaan yang akan melakukan IPO merupakan pilihan emiten bersama-sama dengan underwritter. \"Tidak ada tanggung jawab apapun yang harus ditanggung oleh BEI dalam hal harga saham suatu perusahaan yang listing turun,\" katanya.

Menurut dia, BEI hanya menerima jadwal yang sudah ditentukan sehingga pihaknya tidak bertanggung jawab apapun. Bahkan, Samsul berujar BEI tetap tidak akan bertanggung jawab meskipun pada saat pasar sedang bullish ataupun bearish. \"ini berlaku baik pada saat pasar sedang bullish maupun bearish,\" tambahnya.

Direktur Penilaian Perusahaan Hoesen mengatakan, untuk menjaga harga saham IPO kan sudah ada aturannya, tetapi itu tergantung dari perjanjian antara penjamin emisi dan emitennya. Penjagaan terhadap harga saham IPO juga tergantung dari kemampuan perusahaan penjamin emisinya. Jika perusahaan penjamin emisi itu memiliki dana yang cukup diperkirakan harga sahamnya akan stabil. Perusahaan penjamin emisi ada yang kemampuannya terbatas, kalau dananya sudah habis maka pergerakannya tergantung pasar.

Kata Hoesen, sejauh ini perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI merupakan perusahaan yang memiliki kinerja positif sehingga sahamnya diminati investor, baik domestik maupun asing. Tidak hanya itu, minat IPO masih cukup tinggi di dalam negeri.

Maka belajar dari pengalaman, mendesak perusahaan untuk segera listing di pasar modal bukanlah perkara mudah. Namun bagaimana pun juga, apa yang sudah dilakukan OJK harus diapresiasi dan tentunya harus ada sinergi OJK sebagai regulator dan pelaku industri sebagai calon emiten untuk menyakinkan bila industri pasar modal dalam negeri benar-benar likuid dan bukan hanya bualan belaka. (bani)

Related posts