Cadangan Pangan Selain Beras Akan Dikembangkan

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Pertanian menjadikan komoditas seperti daging sapi, bawang merah dan cabai menjadi komoditas pangan yang akan dicadangkan. "Membentuk cadangan pangan coba dikembangkan ke pangan lain, yang potensi volatilitas harganya tinggi. Misal daging sapi, bawang merah dan cabai," ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan, Achmad Suryana di Jakarta, Senin (12/8).

Agar bisa memaksimalkan cadangan pangan tersebut, lanjut Achmad, pihaknya memerlukan tempat yang berteknologi tinggi agar komoditas yang disimpan bisa terjamin kualitasnya. Kalau beras yang dikelola Badan Urusan Logistik (Bulog) sudah memiliki alat tersebut. Namun selain beras belum ada, oleh karena itu Kementerian Pertanian sedang memikirkan hal tersebut."Teknologi kan sama, memang ada biaya. Bawang bisa disimpan 3-4 bulan sama seperti beras," tutur Achmad.

Ia mengakui, hal ini baru yang harus ditempuh Kementan. Kalau penyimpanan beras sudah lama dilakukan dan sangat berpengalaman. Namun untuk daging dan lainnya belum punya pengalaman. "Kalau beras, kan kesadaran bahwa beras itu komoditas sangat penting sudah dibangun bertahun-tahun. Sehingga bangun cadangan pangan sudah dilakukan, daerah dan proinsi sudah mendukung. Tapi untuk pangan yang lain belum sama sekali. kedelai juga belum," tutur Achmad.

Sambil membenahi cadangan pangan, lanjut Achmad, importasi diperlukan namun disesuaikan dengan kebutuhan."Sementara impor hanya dilakukan apabila dibutuhkan.Nah, untuk beras misalnya tidak ada gejolak sama sekali. Tapi yang lain ada gejolak sehingga harus impor," kata Achmad.

Upaya menjadikan beberapa komoditas jadi cadangan pangan didukung oleh Parlemen. Anggota Komisi VIII DPR RI Adang Ruchiatna Puradiredja, sebelumnya telah meminta agar Pemerintah bisa konsisten dalam menjalankan cadangan pangan nasional guna mencukupi penyediaan pangan di seluruh wilayah baik untuk konsumsi manusia, bahan baku industri, dan untuk menghadapi keadaan darurat. "Kebijakan cadangan pangan tidak jalan, hanya janji-janji saja," katanya.

Menurut Adang, indikasi dari ketidakkonsistenan pemerintah dalam menjalankan kebijakan cadangan pangan nasional adalah dengan dibukanya peran swasta dalam pengelolaan stok. Hal itu, ujar dia, sebenarnya bertentangan dengan kebijakan baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga stabilitas harga pangan aagr tetap terjangkau. "Sejarah mengajarkan, instabilitas harga pangan agar tetap terjangkau rakyat," tuturnya.

Ia mencontohkan, hampir setiap tahun pada bulan puasa, harga bahan pokok selalu melonjak dari biasanya. Politisi PDIP itu mengingatkan, sejumlah harga bahan pokok seperti beras, telor ayam dan harga minyak kelapa curah mengalami kenaikan. Adang berpendapat, potret tersebut menunjukkan kegagalan antisipatif dalam mencegah agar harga bahan pokok tidak naik secara "liar".

Prioritas Pangan

Sebelumnya, pemerintah diminta untuk memprioritaskan konsumsi pangan dalam negeri karena masih terdapat sejumlah komoditas yang dinilai masih lebih didahulukan untuk konsumsi warga luar negeri dibanding untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Pemerintah harus prioritaskan pemenuhan konsumsi pangan perikanan bergizi tinggi di dalam negeri," kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim.

Abdul Halim mencontohkan, Indonesia sebagai negara produsen tuna, ternyata banyak memenuhi beragam permintaan dari komoditas tersebut yang datang dari luar negeri. Ia memaparkan, permintaan terbesar akan tuna Indonesia adalah dari Jepang sebanyak 36,84%, yang disusul secara berturut-turut oleh Amerika Serikat (20,45%) dan Uni Eropa (12,69%). "Dengan produksi pada tahun 2011 yang mencapai 230.580 ton, menunjukkan lebih dari 60% produksi tuna di Indonesia dipasarkan di luar negeri," ucapnya.

Fenomena komoditas yang lebih banyak dipasarkan untuk pasar luar negeri umumnya, ujar dia, juga terjadi di komoditas lainnya yang bergizi tinggi sehingga pemerintah diminta untuk tegas.

Dilanjutkan Achmad, dalam menjaga cadangan pangan maka diperlukan alat berupa gudang berpendingin (cold storage). Cold storage bisa untuk menyimpan komoditas apapun termasuk beras, daging, sapi, jagung dan kedelai. Di Jawa Tengah misalnya, cold storage digunakan untuk meyimpan cadangan jagung konsumsi. "Kalau kondisi paceklik, cadangan ini yang digelontorkan," ujarnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas pangan kerap dilaporkan dalam kondisi cukup. Tahun ini, pangan-pangan pokok seperti beras, jagung dan bawang merah menurut data BPS bahkan berlebih. "Tapi kenapa harga naik? Itu ada banyak faktornya," kata dia.