Pemerintah Dorong Konsumsi Rumah Tangga

Upayakan Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri, mengatakan pemerintah akan mengupayakan pertumbuhan ekonomi 2013 berada pada kisaran 6% meskipun saat ini terjadi perlambatan ekonomi."Target 6,3% itu agak sulit, artinya kita harus tumbuh 6,6% di semester II, itu rasanya agak sulit dilakukan, tetapi kalau kita melihat kisaran 6% masih mungkin," kata Chatib, di Jakarta, Senin (12/8).

Chatib menjelaskan upaya mendorong konsumsi rumah tangga merupakan salah satu kebijakan yang akan dilakukan pemerintah karena konsumsi merupakan salah satu komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar.

"Ada langkah yang kami persiapkan. Presiden menyebutnya 'keep buying strategy', karena terbesar dari PDB kita itu konsumsi. Jadi kalau konsumsi kuat, PDB bisa tertolong," katanya.

Kemudian Chatib menuturkan pada ini struktur Produk Domestik Bruto (PDB) menurut pengeluaran, didominasi pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 55,44%, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 32,68%, Konsumsi Pemerintah 8,63%, ekspor 23,15% serta impor 25,72%.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan peningkatan uang yang beredar pada saat hari raya Idul Fitri telah mendorong transaksi ekonomi serta berkontribusi besar dalam konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi."Perkiraan Bank Indonesia sekitar Rp110 triliun uang di-spent saat mudik, kalau dibandingkan dengan APBN yang baru Rp1.600 triliun itu hampir 10% dalam satu bulan, efeknya akan besar sekali pada pertumbuhan," tuturnya.

Selain itu, pemberian gaji ke-13 pada Juni 2013, serta percepatan penyerapan anggaran juga diharapkan memberikan dampak terhadap konsumsi pemerintah serta perekonomian nasional mulai triwulan III."Konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah yang akan mendorong (perekonomian), karena 'investment' sudah mulai melambat, dan pertumbuhan ekspor tidak bisa diharapkan," ujar Chatib.

Sekedar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2013 mencapai 5,81% (yoy) atau secara kumulatif perekonomian Indonesia pada semester I-2013 tumbuh sebesar 5,92%.

Perekonomian nasional yang tumbuh 5,81% (yoy) tersebut didukung pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,06%, Konsumsi Pemerintah 2,13%, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 4,67%, ekspor 4,78% serta impor 0,62%.

Sebelumnya, Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 hanya mencapai angka 5,88% (yoy) karena terjadi perlambatan dari segi konsumsi."Laju inflasi yang cenderung bergelombang akan mempengaruhi daya beli, dan memperlambat konsumsi rumah tangga secara signifikan," katanya.

Ayu menjelaskan konsumsi dapat sedikit meningkat menjelang Lebaran karena adanya permintaan musiman, serta persiapan untuk penyelenggaraan pemilihan umum menjelang akhir tahun.

"Pertumbuhan di triwulan IV dapat sedikit pulih karena meningkatnya pengeluaran dalam persiapan untuk pemilihan umum dapat memberikan dorongan kepada permintaan domestik," ujarnya.

Ayu mengatakan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2013 sebesar 5,81% (yoy) merupakan angka terendah sejak September 2010, dan hal itu karena laju konsumsi mulai moderat karena adanya ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga bensin."Konsumsi rumah tangga melambat 5,06% (yoy) sedikit dibawah perkiraan kami 5,11%, dan lebih rendah dibandingkan triwulan lalu di 5,17%," katanya.

Selain itu, pertumbuhan investasi pada triwulan II juga menurun karena kinerja penanaman modal asing (FDI) melambat akibat turunnya impor barang modal, yang menjadi pendukung utama investasi.

Menurut Ayu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II masih didukung oleh sektor jasa, khususnya transportasi dan komunikasi. Sedangkan sektor keuangan dan real estate melambat karena turunnya pertumbuhan kredit di sektor perbankan.

"Sektor pertambangan masih tertekan karena masih lemahnya perekonomian global, namun sektor manufaktur relatif stabil dibandingkan kinerja pada triwulan I," ujarnya.Ayu mengatakan perlambatan ekonomi ini dapat mempengaruhi kinerja pasar keuangan, sebagai konsekuensi dari meningkatnya laju inflasi di lingkungan eksternal yang lemah akibat krisis.

Dengan demikian, ada kemungkinan bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai pilihan terakhir untuk menekan inflasi, bila dampak kenaikan harga bensin masih terjadi hingga dua bulan mendatang."Namun, kami masih mempertahankan proyeksi kami, bahwa BI rate masih berada pada kisaran 6,5% hingga akhir tahun," kata Ayu. [mohar]