Kemenperin Siapkan Insentif Untuk Sektor Manufaktur

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan II 2013 naik 6,57% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil tercatat melambung 15,55 %.

"Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh naiknya produksi industri pencetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 19,60 %," kata Kepala BPS Suryamin, kemarin.

Selain itu, Suryamin menyebutkan pertumbuhan industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer naik 17,96%. Sedangkan industri logam dasar juga naik 15,67%. Adapun untuk industri manufaktur kecil yang mempekerjakan kurang dari 20 orang, pertumbuhannya ditopang oleh cerahnya industri makanan yang tercatat tumbuh 30,66%.

Sebaliknya, industri yang mengalami pertumbuhan negatif adalah industri mesin dan perlengkapan yang turun 13,61%. Industri tekstil juga turun 12,46% serta industri karet, barang dari karet dan plastik, sebesar 10,70%.

Sementara itu, pemerintah tengah menyiapkan pemberikan insentif untuk industri manufaktur yang banyak menyerap tenaga kerja dan industri yang memberikan nilai tambah. Ini diharapkan ikut menopang kestabilan perekonomian.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2013 mencapai 7,1%, dengan peningkatan investasi pada sektor otomotif, industri pupuk, industri kimia serta semen.

"Meskipun kondisi perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa masih diwarnai ketidakpastian, namun pemerintah optimistis kinerja sektor industri manufaktur pada tahun depan akan tumbuh 7,1 %akibat meningkatnya investasi di sektor otomotif, industri pupuk, industri kimia dan semen," kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta.

Tantangan yang akan dihadapi pada tahun depan, menurut Hidayat, masih berkisar pada minimnya infrastruktur dan tingginya biaya investasi. "Untuk mengatasi hambatan di sektor industri, pemerintah telah mengoptimalkan pemberian insentif fiskal seperti pengurangan pajak dalam bentuk `tax holiday`, `tax allowance`, bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP), pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Selain itu, pemerintah akan menyelesaikan masalah hambatan investasi seperti masalah tata ruang wilayah," paparnya.

Penetrasi Ekspor

Pertumbuhan industri manufaktur, lanjut Hidayat, penetrasi pasar ekspor baru harus segera ditingkatkan. Peningkatan upaya pengendalian impor dengan kebijakan "non tariff barrier" (hambatan non tarif) akan mendorong sektor industri.

"Pembukaan pasar ekspor ke Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur dan Amerika Latin harus dilakukan produsen manufaktur. Pengendalian impor melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib," ujarnya.

Hidayat menyatakan pemerintah meminta seluruh instansi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta memakai produk dalam negeri."Penggunaan produk dalam negeri bisa meningkatkan permintaan produk manufaktur nasional. Hal ini harus didukung oleh seluruh `stakeholder` dan pemangku kebijakan," tandasnya.

Hal senada,Sekjen Kementerian Perindustrian Anshari Bukhari mengatakan industri nonmigas nasional secara kumulatif tumbuh sebesar 6,58% pada semester pertama tahun ini, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar 5,58%. "Dengan pertumbuhan sebesar itu, kami masih optimistis industri nasional bisa tumbuh 7,1 % sampai akhir tahun," kata Anshari.

Ia yakin dengan investasi di sektor industri yang masih tumbuh, akan menggerakkan kegiatan industri di tanah air. Apalagi, biasanya, kata dia, pada triwulan III dan IV pertumbuhan industri cenderung lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya."Selain itu ada program LCGC (low cost and green car) yang akan jalan semester kedua ini. Itu akan menggerakkan kegiatan industri, dan dampak berantainya banyak," kata Anshari.

Sementara itu, data BPS, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II tahun ini cenderung melemah, dengan angka 5,8 % (y to y), lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 6,4 %."Industri pengolahan memberi kontribusi sebesar sebesar 1,48 % pada pertumbuhan ekonomi triwulan II tersebut," kata Anshari.

Pada triwulan II saja, kata dia, industri pengolahan tumbuh 5,84% yang berasal dari pertumbuhan industri nonmigas ( 6,43 %) dan industri migas (2,09%)."Namun secara kumulatif pertumbuhan industri nonmigas pada semester 1 mencapai 6,58 ," kata Anshari.