OJK Prihatin Minim BUMN Go Public

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta – Belum banyaknya perusahaan pemerintah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang listing di pasar modal, menjadi keprihatinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pasalnya, dari sekian banyak BUMN terdapat beberapa BUMN yang dinilai layak untuk go public.

Anggota Dewan Komisioner OJK, Nurhaida meminta dan menghimbau perusahaan BUMN untuk ikut serta meramaikan pasar modal, “Hal ini berguna untuk perusahaan BUMN agar lebih transparan dalam laporan keuangannya,”katanya di Jakarta, Senin (12/8).

Menurutnya, penawaran saham perdana BUMN ataupun saham BUMN yang sudah listed banyak diminati pelaku pasar dengan asumsi perusahaan BUMN lebih aman dan sahamnya cukup bagus.

Sebelumnya, Nurhadai juga pernah bilang, perusahaan BUMN juga dinilai penting dalam dunia pasar modal karena dapat mendongkrak jumlah investor domestik maupun asing."Kita melihat BUMN dalam arti penting, karena BUMN yang masuk biasanya diminati oleh investor. Ada beberapa BUMN yang sudah pantas untuk melakukan IPO, dengan melihat kinerja keuangannya selama tiga tahun berturut-turut yang mengalami peningkatan,”jelasnya.

Calon Emiten

Pada semester kedua tahun ini, lanjutnya, ada lima perusahaan yang akan melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Disebutkan, lima perusahan tersebut sudah masuk tahap proses dan ada yang telah meminta izin ke pihak OJK sebelum lebaran.

Kata Nurhaida, masuknya lima perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan peraturan OJK yang menyatakan setelah 45 hari pengajuan, perusahaan tersebut harus mencatatkan saham perdananya. “Sesuai dengan peraturan, setelah 45 hari mengajukan ijin perusahaan harus mencatatkan saham perdananya, jika perusahaan minta ijin pada akhir Juli, kemungkinan listing di BEI pada gustus atau September,”ungkapnya.

Dia menambahkan, perusahaan yang akan listing ada yang dari sektor perbankan. Soal total dana yang akan diraih kelima perusahaan tersebut, Nurhaida enggan menyebutkan angkanya. “Mereka calon emiten yang akan menyampaikannya saat public expose, bookbuilding atau saat telah dapat pernyataan pra-efektif dari kami,”tandasnya.

Sebagai informasi, dari 140 perusahaan BUMN hanya 20 BUMN yang telah mencatatkan sahamnya di BEI. Di antaranya, PT Indofarma Tbk (INAF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Kemudian untuk perbanyak perusahaan yang listing di pasar modal, OJK juga telah bekerjsama dengan kamar dagang Indonesia (Kadin) dan himpunan pengusaha muda Indonesia (Hipmi) untuk melakukan entering into the market atau dengan kata lain OJK dan Kadin akan mengundang sekitar 100 perusahaan yang belum melakukan IPO namun memiliki potensi yang cukup bagus untuk go public, “Kami undang perusahaan-perusahaan yang cukup besar untuk kemudian kami jelaskan mengenai pasar modal, langkah-langkah melakukan IPO dan menjadi emiten di pasar modal”, jelas dia.

Nurhaida juga mengakui bahwa perusahaan besar tersebut, yang memiliki potensi untuk IPO belum memiliki pemahaman dan belum tahu persisnya mengenai keuntungan dan alternative mendapatkan dana dari pasar modal, “Jika melihat dari sisi edukasi dan perlindungan konsumen dari seluruh sector jasa keuangan, memang pemahaman masyarakat mengenai pasar modal paling minim dan ada kemungkinan untuk perusahaan besar belum membutuhkan tambahan dana,”paparnya. (nurul)