Ekonomi dan Imbal Hasil

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Apa hubungan antara kurva imbal hasil (term structure) dengan kondisi perekonomian domestik? Ekonomi membahas perihal output barang/jasa dan harganya. Mekanisme penetapan harga merupakan suatu bentuk masukan dari pasar yang mengandung tujuan ekuilibrium harga, serta intervensi pemerintah yang mengandung tujuan stabilisasi dan ketersediaan harga pasar wajar untuk menjaga likuiditas. Dalam ranah yang lebih spesifik di lingkungan pasar modal, kurva imbal hasil merupakan salah satu indikator ampuh yang sangat bermanfaat dalam price discovery mechanism, juga selaku indikator penting dalam perekonomian.

T-structure suku merupakan suatu kurva yang menjelaskan hubungan antara jangka waktu (tenor) efek obligasi dengan tingkat imbal hasilnya (yield). Tenor obligasi yang diperdagangkan di pasar modal domestik secara umum berada di antara rentang 1(satu) hingga 30 tahun. Terdapat yield tertentu untuk setiap tenor yang tertentu pula. Semakin panjang tenor suatu efek obligasi, semakin tinggi tingkat uncertainty (ketidakpastian) yang dihadapi oleh calon investor.

Semakin tinggi uncertainty, semakin tinggi pula risiko. Agar investasi menarik, maka investor yang rasional pasti akan menuntut yield yang tinggi sebagai apresiasi terhadap terhadap risiko yang mereka tanggung. Pola ini sebenarnya sudah tersirat dalam kalimat klise yang berbunyi “high risk, high return,” walau efek obligasi tidak terkategori high risk relatif terhadap saham atau produk derivatif lainnya di pasar modal.

Berbicara mengenai ketersediaan harga dalam rangka meningkatkan daya tarik pasar modal, maka price discovery mechanism serta pemodelannya menjadi hal krusial. Dari sekitar 300-an efek obligasi yang tersedia di pasar modal domestik saat ini, hanya ada sekitar 5-10% saja yang secara harian aktif di pasar dan tersedia harga aktualnya. Artinya, tidak semua tenor efek obligasi tersedia harganya di pasar modal domestik secara harian. Kondisi ini berpotensi menimbulkan keraguan bagi para bond-issuer (penerbit obligasi) dan bond-holder (investor obligasi).

Ketidaktersediaan harga untuk tenor tertentu akan membuat partisipan pasar merasa reluktan berinvestasi. Untuk mengatasi kondisi ini, perlu ada price discovery mechanism, sehingga informasi harga wajar efek tersedia bagi para partisipan. Berdasarkan yield aktual dari efek obligas yang aktif diperdagangkan harian untuk tenor yang bersesuaian, kurva imbal hasil pun dapat dibentuk (yield curve construction).

Dalam hal ini, term structure modeling dan tingkat akurasinya secara statistik menjadi suatu keharusan. Akurasi model akan menjadi pertaruhan bagi para partisipan pasar dalam valuasi harga per tenornya. Semakin besar bias antara yield berdasar model dengan yield aktual untuk setiap tenor yang ada, maka semakin rendah akurasi model yang bersangkutan. Model akan semakin akurat apabila bias antara yield hasil pemodelan dengan yield aktual (yield obligasi dengan tenor yang aktif) semakin kecil. Secara statistik, tingkat goodness of fit (ketepatan pemodelan) akan dinilai dari nilai adjusted R-Square nya.

Artinya semakin dekat ke angka 1,0000 (satu), maka model dinilai semakin akurat. Terkait hal ini, secara kontekstual BondRI menilai bahwa harga referensi yang tersedia di pasar saat ini masih sangat minim akan pembanding. Sebagai konsekuensi logisnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan keraguan publik dalam ranah akurasi pemodelan term structurenya. Dalam konteks manajemen risiko, keraguan ini berpontensi menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, pasar membutuhkan suatu pembanding yang akurasinya secara statistik dapat dipertanggungjawabkan.

Mengapa hal ini menjadi kerharusan? Terdapat suatu quote bijak yang menyatakan bahwa “you can’t control things that you can’t measure,” Artinya, jika harga di pasar tidak terukur, maka stabilitas menjadi out-of-question. Demikian juga, jika harga referensi wajar dan akurat tidak tersedia, maka dalam konteks perekonomian, transaksi barang/jasa(dalam hal ini efek obligasi) juga tidak akan terjadi.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Revolusi Pertanian 4.0

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Sama seperti revolusi industri sebelumya, revolusi industri 4.0 merupakan suatu peristiwa yang tidak…

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…

Kinerja Buruk PNS

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Melihat data kinerja pegawai negeri sipil (PNS) yang dipaparkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur…