Pasca Lebaran, Harga Diperkirakan Turun

NERACA

Jakarta – Menjelang lebaran, harga-harga terdorong meningkat akibat permintaan yang meningkat. Tetapi pasca lebaran, harga-harga yang naik tersebut akan kembali turun mendekati harga normal sebelum bulan puasa. Hal tersebut disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus lewat surat elektroniknya kepada Neraca, Minggu (11/8) pekan lalu.

“Menjelang lebaran lazimnya harga-harga memang naik, hal ini karena meningkatnya permintaan kebutuhan pokok. Jadi jika permintaan meningkat, biasanya menjelang hari-hari raya besar, harga akan naik. Setelah lebaran, tingkat permintaan akan kebutuhan pokok kembali menurun seperti kondisi normal, maka harga pun menyesuaikan. Namun biasanya turunnya tidak banyak. Tren seperti ini memang lazim terjadi pada situasi perekonomian,” jelas Heri.

Siklus semacam itu memunculkan keuntungan bagi sebagian pihak dan kerugian di pihak yang lain. Sewajarnya, siklus semacam itu tidak terjadi. Harga seharusnya tetap dalam kondisi normal karena siklus ini adalah siklus tahunan yang dapat dibaca dan diantisipasi.

Pemerintah, kata Heri, sebenernya wajib menjaga stok barang agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat dengan harga yang wajar dan terjangkau untuk semua kalangan. Pemerintah harus mengawasi rantai tata niaga mulai dari produsen hingga dapat dinikmati oleh konsumen.

“Jika pemerintah mampu menjaga stok barang dengan harga yang wajar, maka dalam hal ini adalah masyarakat yang diuntungkan. Namun jika pemerintah tidak menjalankan tugasnya tersebut, maka oknum-oknum yang terkait dengan tata niaga barang kebutuhan pokok akan memanfaatkan situasi ini, misalnya dengan menimbun barang barang,” jelas Heri.

Namun, karena sudah siklus menahun, masyarakat menganggap hal semacam ini wajar sehingga pemerintah pun tidak mendapatkan tekanan untuk memutus siklus ini. Meski akan terjadi penurunan harga pasca lebaran, namun ekonom Indef lainnya Eko Listiyanto memprediksi pada Agustus 2013 tidak akan terjadi deflasi, bahkan inflasi masih akan tetap terjadi dengan kisaran tinggi, yaitu 1%.

“Ini karena minggu pertama dan kedua Agustus masih ada momentum hari raya dan arus balik, terutama inflasi terutama di sektor transportasi dan harga pangan masih akan terjadi,” jelas Eko. Selain itu, lanjut Eko, analisa dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, inflasi tetap terjadi setelah bulan hari raya, meskipun tidak sebesar bulan hari rata. [iqbal]

BERITA TERKAIT

38 Titik Telah Terapkan BBM Satu Harga

  NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah mencapai titik ke 38 dari program bahan bakar minyak (BBM) satu…

NH Korindo Rekomendasi Beli Saham PPRO - Harga Wajar Rp 260 Persaham

NERACA Jakarta - Nilai wajar harga saham PT PP Properti Tbk (PPRO) mencapai Rp260 per unit, lebih tinggi sekitar 32%…

Kulik Spesifikasi dan Kecanggihan Redmi Note 5A - Ponsel Harga Terjangkau

Xiaomi selama tahun-tahun belakangan ini terkenal menghadirkan ponsel yang lebih murah dibandingkan merk lain, namun, dengan spesifikasi yang tidak kalah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII Dorong Pemda Manfaatkan Skema KPBU

  NERACA   Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) memanfaatkan skema Kerjasama Pemerintah dan…

IIF Dapat Kucuran Rp1 triliun dari JICA - Untuk Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar ¥ 8.000.000.000 atau sekitar Rp…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…