Laba Bersih Jaya Agra Wattie Turun 45,11%

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), emiten perkebunan kelapa sawit mencatatkan laba bersih yang turun hingga 45,11% atau menjadi Rp52,27 miliar pada semester pertama 2013. Penurunan ini diikuti oleh penurunan laba bersih per saham dasar (earning per share/EPS) menjadi 14 pada semester pertama 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 25.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan juga berhasil mencatatkan laba mencapai Rp95,24 miliar. Diketahui penjualan perseroan juga mengalami penurunan 13,35% menjadi Rp316,61 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp365,42 miliar.

Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp1,13 triliun pada semester pertama 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp987,39 miliar. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp1,26 triliun pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp1,25 triliun. Kas dan setara kas perseroan turun menjadi Rp150,48 miliar pada 30 Juni 2013 dari posisi 31 Desember 2012 senilai Rp221,22 miliar.

Selain itu,perseroan juga mencatatkan penurunan beban pokok penjualan menjadi Rp202,08 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp208,24 miliar. Laba kotor perseroan turun menjadi Rp114,52 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp157,18 miliar.

Perseroan mengalami kenaikan beban penjualan menjadi Rp4,35 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp4,06 miliar. Beban umum dan administrasi perseroan naik menjadi Rp22,43 miliar pada semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp20,51 miliar.

Sebelumnya, pada Juni lalu, perseroan berencana memperluas lahan untuk meningkatkan produksi Crude Palm Oil (CPO). Berdasarkan keterangan Direktur Keuangan JAWA Bambang S. Ibrahim, saat ini perseroan tengah mengincar lahan seluas 30 hektar di wilayah Sulawesi Tengah dan telah menyiapkan dana sebesar Rp 50 miliar untuk akuisisi lahan tersebut.

“Nantinya lahan itu akan ditanami karet dan sawit yang menjadi fokus inti bisnis perseroan. Kami tidak jadi mengakuisisi lahan di Kalimantan Selatan dan tetap mencari lahan di Sulawesi”, ujar dia.

Dia juga menegaskan kembali bahwa besaran investasi untuk akusisi lahan tersebut diambil dari dana belanja modal perseroan atau (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 570 miliar yang berasal dari internal kas, hasil dana IPO, dan pinjaman perbankan.“Awalnya kami mengincar lahan seluas 13 hektar di wilayah Kalimantan Selatan, dan 17 hektar di Sulawesi Tengah. Namun, karena kondisi lahan di Kalimantan Selatan tidak sesuai dengan yang ditargetkan maka akuisisi dialihkan semuanya ke wilayah Sulawesi Tengah seluas 30 hektar”, jelasnya.

Saat ini, total lahan milik perseroan mencapai 75 ribu hektar dari besaran lahan itu, perseroan masih punya land bank sebesar 30 hektar. Disamping itu, perseroan juga menargetkan bisa punya lahan tertanam sebesar 80 ribu hektar hingga 8 tahun ke depan. Saat ini, perseroan baru punya 13 ribu hektar lahan karet dan 23 ribu hektar lahan sawit. (nurul)