Menakar Peluang Pasar Obligasi di Semester Kedua

Ada Lima Emiten Terbitkan Obligasi

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta – Kekhawatiran kenaikan inflasi yang cukup tajam bakal mengancam pasar obligasi, rupanya tidak menyurutkan pelaku pasar untuk terus berinvestasi di pasar obligasi dan juga sebaliknya tidak mengendorkan niat emiten untuk menerbitkan obligasi. Pasalnya, instrumen obligasi masih menjadi sumber pembiayaan yang menarik dan memiliki prospek positif.

Hal inilah yang juga diakui, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen. Dimana pasar obligasi akan terus tumbuh. Dirinya mencatat akan ada lima perusahaan menerbitkan surat utang (obligasi) dengan emisi senilai Rp5,7 triliun, “Diperkirakan emiten tersebut akan mencatatkan obligasi di periode Agustus-Oktober 2013 dengan nilai emisi sekitar Rp5,7 triliun,”katanya.

Dia juga menyebutkan 5 perusahaan yang tengah memproses izin penerbitan obligasi korporasi pada semester kedua 2013, yaitu PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Duta Anggada Realty Tbk (DART), PT Profesional Telekomunikasi Indonesia, PT Surya Artha Nusantara Finance, dan PT Ciputra Residence.

Menurutnya, dengan tambahan 5 emiten ini total emisi obligasi pada 2013 mencapai Rp50 triliun. Pada semester I tahun ini sudah ada 45 emisi dari 40 emiten yang telah menerbitkan obligasi senilai Rp43,840 triliun.

Sebaliknya, Direktur PT Evergreen Capital Rudy Utomo pernah bilang, minat emiten terbitkan obligasi di pasar modal domestik menurun akibat kenaikan inflasi yang memicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate).“Emiten akan melihat keperluan dana dan biaya pinjamannya dari penerbitan obligasi serta dampaknya seperti apa. Sehingga jika laju inflasi domestik lebih stabil, emiten bisa melakukakan lkulasi ulang tingkat bunga yang akan diberikan sebelum menerbitkan obligasi”, ujar dia.

Hal senada juga disampaikan analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa, penerbitan obligasi saat ini dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, terlebih apabila terjadi kenaikan inflasi secara signifikan. “Dari sisi penerbit, dengan kenaikan yield atau kupon, biasanya diikuti oleh turunnya target penerbitan obligasi dari emiten yang bersangkutan, karena pertimbangan cost of fund yang lebih tinggi."tandasnya.

Menurutnya, dengan kenaikan inflasi tentu investor akan meminta kupon yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan deposito masih akan lebih tinggi bunga obligasi sehingga dari sisi permintaan sebenarnya tidak akan ada masalah.

Potensi Bubble

Bagi pengamat ekonomi, Yanuar Rizky, ditengah pelemahan rupiah dan inflasi yang tinggi akibat dampak kenaikkan BBM akan terjadi potensi bubble di pasar saham dan obligasi pada semester ke 2 tahun ini. Oleh karena itu, menurutnya, investor harus selalu waspada terhadap pelemahan rupiah ini. "Pasar uang itu walaupun di recovery akan seperti itu lagi, karena itu investor harus waspadai hal ini," katanya.

Soal penarikan dana masyarakat dari deposito ke obligasi, lanjutnya, tidak akan terjadi apa-apa. Pasalnya, pasar obligasi masih disitu-situ saja dan tidak berubah. Direktur Utama BCA Sekuritas, Mardi Henko Sutanto mengakui, kenaikan BBM akan memaksa emiten menghitung kembali rencana penerbitan obligasi karena dikhawatirkan penyerapannya rendah, “Kenaikan BBM tentu ada dampaknya dan termasuk pasar obligasi karena bunganya akan bersaing dengan deposito,”ujarnya.

Bahkan menurutnya, dengan kenaikan BBM tersebut, investor akan lebih memilih investasikan dananya di deposito dan Surat Utang Negara (SUN) yang dinilai lebih aman. Oleh karena itu, dirinya mengakui, nantinya akan banyak dana masyarakat beralih ke deposito dan Sukuk pemerintah karena suku bunganya yang tinggi seiring inflasi yang naik akibat dampak kenaikan BBM.

Analis dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo menambahkan, isu kenaikan harga BBM memang mempengaruhi pasar obligasi di Indonesia. Bahkan dia memperkirakan akan ada penurunan volume transaksi sebesar 2%-4%. (bani)