Jababeka Masih Didominasi Kawasan Industri

Sektor Properti

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta - Kenaikan permintaan perumahan layak huni di masa mendatang tampaknya akan terus menjadi incaran para pengembang properti. Lokasinya terutama kawasan-kawasan di pinggiran Jakarta yang memang kini banyak dibangun perumahan-perumahan untuk keluarga muda, terutama tren perumahan dengan konsep residential.

"Memang saya melihat kedepannya, trennya residential itu akan meningkat seiring dengan kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat," ujar Direktur Utama PT Jababeka Tbk SD Damono, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun dia mengakui sampai saat ini, minat akan pengembangan di Jababeka sendiri masih didominasi untuk kawasan industri ketimbang untuk tempat tinggal. Kedepannya, dia mengaku tidak menutup kemungkinan akan terjadi sebaliknya bila kebutuhan akan perumahan terus meningkat.

"Saat ini untuk industri dan residential mungkin perbandingannya antara 70% berbanding 30% atau 60% berbanding 40% masih sekitar segitu. Di Jababeka sendiri memang ada residential dan industri, tetapi sampai saat ini sepertinya masih didominasi kawasan industri," tutur dia.

Selain pengembangan industri dan residential, Jababeka melalui anak perusahaanya, PT Banten West Java Tourism Development (BWJ) akan mengembangkan kawasan wisata Tanjung Lesung, Banten yang juga ditetapkan pemerintah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Pada proyek terbarunya ini, BWJ menggandeng investor asal China dengan nilai investasi awal mencapai US$ 50 juta.nRencananya di lahan seluas 300 hektar dari total 1.500 hektar milik BWJ ini akan dibangun Marina Lapangan Golf, Exibition Center, 4 hotel yang masing-masing terdiri dari 100 kamar, serta 2 ribu villa.

Kawasan Industri

Sementara itu,nseiring pertumbuhan industri yang terus menunjukan tren positif pada 2013, keterlibatan pemerintah dalam pengembangan kawasan industri dianggap sudah semakin mendesak. Terlebih lagi, pertumbuhan sektor industri nasional yang mencapai 6,69% telah melampaui geliat ekonomi nasional yang tumbuh 6,02%.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Budhi Setyanto mengatakan, pemerintah Indonesia saat ini hanya mengelola sekitar 6% kawasan industri dan sisanya dipegang oleh swasta.

"Pemerintah harus lebih terlibat dalam hal ini. Seperti di Malaysia pemerintah memiliki 78% dari total kawasan industri, demikian juga di Jepang, Thailand dan Taiwan," ungkapnya.

Budhi mengatakan, selama ini sektor industri hanya terpusat di Pulau Jawa yang menyumbang 75% kawasan industri dari total seluruh Indonesia. Kondisi ini dipicu infrastruktur dan fasilitas di pulau-pulau di luar Jawa masih sangat minim. Untuk itu dibutuhkan peran pemerintah dalam pembangunan fasilitas dan infrastruktur tersebut.

"Masalahnya ada pada infrastrutur, swasta tidak tertarik untuk kawasan luar Jawa, pemerintah yang harus membangunnya agar nantinya bisa bekerjasama dengan swasta. Selain itu industri baru harus berada dalam kawasan industri, maka untuk menarik invetasi harus dibangun kawasan-kawasan industri," lanjutnya.

Di Pulau Jawa sendiri, kawasan industri terbanyak berada wilayah Jawa Barat sebanyak 23 kawasan, sedang diluar Jawa hanya Batam yang bisa mengimbangi. Dari segi investasi, tercatat telah ada peningkatkan investor dibandingkan tahun lalu.

Saat ini tercatat 44% invertasi berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) meskipun Penanaman Modal Asing (PMA) masih lebih tinggi yaitu sebesar 56%. "Itu kebanyakan investasi pada industri makanan, kertas, kimia farmasi, mineral non logam dan eletronika," katanya.

Pemerintah saat ini sebetulnya telah memiliki masterplan pembangunan industri dan kawasan industri yang tengah dikembangkan seperti di wilayah Kulonprogo yang akan dibangun industri besi baja, di Boyolali indutri tektil, industri perkapalan di Lamongan dan Tanggamus, industri petromikia di Gresik, industri timah di Bangka, dan industri CPO di Dumai.

Kementerian Perindustrian juga akan mengembangkan industri bausit Kalimatan barat, agrobisnis di Ketapang, industri turunan CPO di Kalimantan Timur, industri logistik di Bitung, industri nikel di Soloako, industri petrokimia di Bintuni dan industri ferro nikel di Halmahera.