Menjaga Daya Saing

Oleh : Prof Firmanzah Ph.D

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Di era persaingan ekonomi antarnegara, faktor yang yang perlu kita cermati adalah variabel inflasi. Karena inflasi akan sangat menentukan daya saing produk atau jasa yang dihasilkan suatu negara relatif terhadap pesaingnya. Inflasi yang tinggi, dari sisi supply, menunjukkan ketidakefisienan proses dan mahalnya biaya produksi.

Hal ini bisa diakibatkan mahalnya faktor input seperti raw-material, biaya tenaga kerja, mesin dan peralatan kerja. Dari sisi demand, inflasi terjadi akibat permintaan yang sangat tinggi tidak diimbangi aliran pasokan yang memadai sehingga melambungkan harga di pasar.

Dalam sistem ekonomi yang sangat terbuka dimana liberalisasi perdagangan baik di tingkat kawasan maupun dunia terjadi, salah satu solusi menurunkan inflasi dari sisi demand adalah membuka kran impor. Membuka kran impor juga merupakan solusi jangka-pendek (short-term) atas ketidakcukupan produksi di suatu negara. Karena sifatnya jangka-pendek maka kebijakan impor perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas domestik. Terutama untuk produk-produk yang bisa diproduksi dalam negeri (import-substitution policy).

Bagi Indonesia, prinsip seperti ini juga dilakukan untuk sejumlah komoditas pangan seperti daging, bawang dan beras. Ketika produksi dalam negeri lebih besar dibandingkan konsumsi, ekspor merupakan strategi untuk mencegah penurunan harga akibat kelebihan pasokan. Begitu produksi dalam negeri lebih sedikit dari konsumsi, impor perlu dilakukan untuk menahan lonjakan harga. Dalam beberapa waktu terakhir, Kementerian Perdagangan dan Pertanian telah mengubah sistem impor dari kuota ke tarif yang lebih tidak rentan terhadap penyimpangan di lapangan.

Namun dari segala hal di atas rasanya kita semua sepakat bahwa biaya produksi nasional perlu terus diturunkan agar ekonomi nasional menjadi lebih efisien. Tingkat efisiensi tidak hanya diukur dari penghematan produksi periode sebelumnya tetapi juga relatif dibandingkan dengan negara lain dalam kurun waktu yang sama.

Pembangunan infrastruktur yang tengah berjalan perlu mendapatkan dukungan semua kalangan. Konektivitas nasional akan terus dibangun untuk mewujudkan jaringan produksi nasional yang lebih efisien. Pelabuhan, bandara, jembatan, alat transportasi laut-udara-darat diremajakan dan sarana infrastruktur lainnya. Selain itu juga penataan regulasi, perizinan investasi, kualitas birokrasi, sistem IT dan pemanfaatan teknologi terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas soft-infrastructure.

Dua strategi di atas yaitu strategi impor untuk jangka-pendek dan pembenahan infrastruktur untuk jangka-panjang secara bersamaan dilakukan Indonesia. Upaya untuk menekan inflasi dari sisi demand dilakukan melalui kran-impor sementara dari untuk menekan biaya produksi nasional dilakukan melalui pembangunan infrastruktur. Harapan kita semua ke-dua strategi ini akan berjalan secara baik melalui dukungan dari semua pihak. Perekonomian Indonesia perlu menjaga momentum melalui kebijakan tetap membuat inflasi terjaga dan daya saing nasional semakin meningkat.

BERITA TERKAIT

Pasar Murah Asa Masyarakat Kecil Sambut Lebaran - Menjangkau Daya Beli Masyarakat

Tingginya harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran, selalu menjadi momok menakutkan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan di hari raya. Apalagi, bagi…

DPR: Waspadai Investor Sumber Daya Alam

NERACA Jakarta - Anggota Komisi VI DPR Khilmi mengingatkan agar investor yang masuk di bidang pengelolaan sumber daya alam untuk…

Menjaga Eksistensi Pancasila, Menjaga Indonesia

  Oleh : Toni Ervianto, Alumnus Pasca Sarjana Program Studi Kajian Stratejik Intelijen UI   Tidak ada satupun negara di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemudik Kampungan

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca   Meski klaim pemerintah bahwa angka kecelakaan mudik tahun ini menurun cukup…

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…