Mendag Belum Temukan Bukti Konkret Spekulan Daging

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta - Di tengah harga daging sapi yang masih menyentuh Rp100 ribu per kilo, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku masih belum menemukan adanya spekulan yang telah memainkan harga daging sapi. Pasalnya, menurut Gita, harga daging yang masih tinggi lantaran sapi bakalan belum semuanya dipotong karena Rumah Potong Hewan (RPH) masih dalam keadaan libur lebaran.

"Kita belum punya bukti yang konkret adanya spekulan memainkan harga daging sapi," ujar Gita, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sejauh ini sudah ada hampir 6.100 ekor sapi dari 25.000 impor sapi yang telah dikeluarkan izinnya. "Kita benar-benar kerja keras, maaf kalau harganya masih melambung, kalau pasokan ditingkatkan harus dalam negeri. Tetapi, kalau kita tidak perlu impor, ya kita tidak impor," ucapnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Pertanian Suswono menduga bahwa ada ulah spekulan dalam memainkan harga daging sapi yang tak kunjung turun. "Kalau begini terlihat ada pihak tertentu yang mengambil keuntungan tertentu," kata Suswono.

Ia mengaku bahwa Pemerintah harus memutar otak mencari titik permasalahan yang terjadi dalam upaya stabilitas harga daging sapi. Saat ini dia tengah menyelidiki penyebab harga daging sapi yang belum turun hingga lebaran ini. Padahal, pemerintah telah membuka keran impor daging sapi tambahan dengan keyakinan bisa menurunkan harga daging sapi di pasaran. "Saya juga penasaran kenapa harga daging masih mahal," ujarnya.

Suswono menyayangkan kondisi harga daging sapi saat ini yang masih melambung bahkan melampaui harga Rp 100.000. Padahal, kata dia, pemerintah sudah sangat akomodatif untuk menurunkan harga daging sapi tersebut. "Seperti Bulog dengan operasi pasar, dan impor sapi potong," kata dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa meminta laporan guna menyelidiki masih tingginya harga daging sapi meskipun telah diantisipasi dengan melakukan impor. "Saya akan minta laporan dulu, saya nggak mau menduga-menduga, bisa saja ke Kemendag, Kementan, mengapa kok tidak bisa turun, apakah distribusinya? Apakah sapinya tidak dipotong? Apakah memang persediaannya itu jauh dari permintaan, apakah itu meningkat tajam?" katanya.

Harga daging di pasar kembali meningkat menjelang Lebaran. Harga daging sapi di Sukabumi, Jawa Barat, terus naik hingga mencapai rata-rata Rp120 ribu setiap kilogram. Sementara harga daging sapi di Ternate, Maluku Utara (Malut), memasuki H-1 Idul Fitri, naik dari harga Rp90 ribu per kg kini menjadi Rp130 ribu per kg. Di Cirebon, Jawa Barat, sehari jelang Idul Fitri 1434 Hijriyah harga daging sapi kembali naik di sejumlah pasar tradisional di Cirebon, mencapai Rp120 ribu per kg.

Sedangkan harga daging sapi menjelang H-1 lebaran Idul Fitri 1434 Hijriyah di Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengalami kenaikan mencapai Rp130 ribu dari sebelumnya Rp110 ribu/kg. Pemerintah telah menargetkan agar harga daging sapi sekitar Rp80 ribu pada Lebaran, namun terbukti target ini tidak terpenuhi meskipun telah dilakukan impor daging sapi dari Australia.

Semua Komoditas

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai bahwa ulah spekulan terjadi bukan hanya pada komoditas daging melainkan hampir semua komoditas pangan seperti bawang, cabai, daging, buah, kedelai, jagung, hingga terigu. "Tata niaga dan produksi komoditas sektor pangan dalam negeri sangat buruk sehingga mudah sekali para spekulan bermodal besar dan mempunyai gudang memainkan harga pangan tersebut,” ungkapnya kepada Neraca.

Permainan harga oleh para pedagang besar ini selain diyakini mengguncang pasar juga merupakan strategi mereka dalam mengontrol kebijakan pemerintah seperti penambahan kuota impor, penurunan bea masuk, bahkan memperkeruh tata niaga produk pangan yang memang sudah amburadul. “Naiknya harga komoditas pangan disebabkan karena tata niaga dan produksi komoditas sektor pangan dalam negeri sangat buruk,” ujarnya.

Ngadiran juga memaparkan yang diuntungkan dari naiknya harga bawang saat ini adalah yang menyimpan barang dan pemilik gudang. Mereka menahan barang sehingga harganya jadi naik. Bahkan, Ngadiran, menduga naiknya harga komoditas pangan dalam beberapa bulan terakhir terkait Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. "Tahun ini kan tahun politik. Cari duitnya bisa macam-macam cara," tuturnya.

Dia menuding para pemain besar tersebut menangguk untung besar demi perhelatan Pemilu tahun depan. Ngadiran juga menilai naiknya harga bawang putih dan bawang merah dalam sepekan terakhir karena ketidakberesan pemerintah dalam mengatur sektor pertanian. Khususnya terkait dengan kebijakan impor sektor pangan.

Menurut dia produk pangan dari petani lokal cukup untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri. "Pemerintah tidak dapat mengatur soal kebijakan pangan. Pemerintah berlakukan impor bawang saat musim panen yang merusak harga. Sehingga petani bawang semakin lama makin sedikit," tegas dia.