"Rupiah Aman, Inflasi Memberatkan"

Senin, 12/08/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah mengimbau agar tidak khawatir dengan depresiasi atau pelemahan rupiah. Pasalnya, depresiasi yang dialami rupiah bukan yang terburuk dibanding mata uang negara lain. Namun demikian, masyarakat harus tetap memperhatikan inflasi yang masih tinggi.

“Depresiasi rupiah masih dalam tahap wajar. Ini tidak apa-apa, kalau dibanding rupee India yang jatuh hingga 13%. Bahkan sekarang rupiah lebih kuat dari dolar Australia (AUS$), di mana saat ini hanya Rp9.200 per dolar Australia,” jelas Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, pekan lalu.

Dia melanjutkan, yang perlu diperhatikan adalah persoalan inflasi. Pada Juli kemarin kenyataannya inflasi melebihi perkiraan, yakni 3,29%, di mana pemerintah menduga inflasi hanya akan mencapai 2,8%. Hal ini diakui Chatib memang sangat memberatkan.

“Tapi saya lihat bulan Agustus akan lebih rendah dan bulan September akan kembali normal. Sekarang suplai makanan termasuk yang impor sudah terkendali. Mudah-mudahan bulan Oktober akan deflasi. Tapi jika inflasi mencapai 7,2% inflasi pasti sulit dikejar,” jelas Chatib.

Selain itu, Chatib Basri mengklaim nilai tukar rupiah akan menguat di kuartal III 2013 atau tepatnya pada Agustus. Dia pun menyebut ada dua faktor, yakni permintaan impor migas akan menurun. Lalu, dengan menurunnya konsumsi BBM maka nilai valas Pertamina akan menurun dan akan mengakibatkan stabilnya nilai tukar rupiah.

Dengan begitu, lanjut Chatib, inflasi hanya bersifat temporer atau sementara dan akan berlangsung selama tiga bulan, yang diakhiri setelah Agustus sampai awal September. Saat ditanya rencana Bank Indonesia (BI) yang akan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tenor satu tahun, Chatib enggan berkomentar, lantaran masih dalam koordinasi. “Untuk masalah itu nanti saja dibahas,” ungkapnya, singkat.

Pernyataan Chatib Basri ini mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menepis anggapan ekonomi Indonesia tengah memburuk. “Saya katakan tidak. Itueksplanablebisa dijelaskan dibandingkan dengan negara lain. Juga ada yang lebih buruk tetapi tentu ini tidak bisa kita biarkan, kita lakukan segala sesuatunya,” katanya, seperti dikutip dari laman Setkab, akhir bulan lalu.

Menanggapi hal itu, SBY mengatakan, BI dan pemerintah saat ini sama-sama sedang bekerja. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik karena ekonomi secara keseluruhan, termasuk fundamental atau aspek-aspek ekonomi makro masih terjaga. Menurut SBY, pelemahan rupiah ada kaitannya dengan sejumlah persoalan, seperti neraca pembayaran, impor yang melebihi ekspor, situasi yang seperti ini, kebutuhan dolar AS yang meningkat.

“Mungkin juga ada faktor psikologi seperti beleid di Amerika Serikat tentang pelonggaran moneter (quantitative easing). Tentu itu sesuatu yang harus kita tangani secara serius, tetapi semuanya sejauh ini masih bisa dan terus kita kelola,” tuturnya.

Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (2/8) sore atau menjelang libur lebaran berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup pada level Rp10.288 per dolar AS. DataBloombergmencatat, kurs rupiah terdepresiasi sebanyak 62 poin dari level Rp10.271 per dolar AS sehari sebelumnya menjadi Rp10.333 per dolar AS.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, menilai pergerakan nilai tukar rupiah dibayangi sentimen negatif seiring rilis kenaikan inflasi dan masih defisitnya neraca perdagangan Indonesia. "Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juli mencapai 3,29%, lebih tinggi dari inflasi Juni yang hanya 1,03%. Secara year to date (ytd) inflasi kalender 6,75%, dan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 8,61%, yang disumbang bahan makanan dan transportasi," katanya.

Dia juga mengatakan, nilai tukar rupiah juga dibayangi sentimen eksternal yakni dari pelemahan mata uang euro jelang pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang mensinyalkan tetap menahan suku bunga mereka yang rendah. [lulus]