Lebaran di Tengah Ekonomi Lesu

Apabila sidang Isbat di Kementerian Agama hari ini (7/8) sepakat, Hari Raya Idul Fitri 1434 H akan jatuh besok (Rabu, 8 Agustus) di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan lebaran ini biasanya diwarnai dengan tradisi halal bi halal. Sebuah tradisi unik yang sudah berlangsung lama dilakukan pemeluk agama Islam di negeri ini.

Berbeda dengan sejumlah negara Islam seperti Arab Saudi, bahkan di Malaysia atau Brunei Darussalam, negara dengan penduduk mayoritas muslim, yang serumpun dengan Indonesia, tidak mengenal tradisi halal bi halal tersebut.

Tapi yang jelas, halal bi halal adalah sesuatu yang positif, yakni adanya pengakuan bersalah dari seseorang terhadap orang lain, kemudian mereka saling meminta dan memberi maaf. Dengan begitu, hubungan antarmanusia (hablum minannash), kembali ke titik awal yang berarti tidak ada lagi prasangka, kebencian, atau dendam.

Ini pertanda Allah SWT akan mengampuni dosa atau kesalahan seseorang terhadap orang lain, jika seseorang itu telah meminta maaf kepada orang lain yang kepadanya ia bersalah. Ini sesuai dengan bunyi ayat suci,’’Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’ (QS An-Nur: 22).

Selain itu, ada hadist yang berbunyi, ’’Barang siapa yang tidak mau memberi ampun kepada orang lain maka ia tidak akan diberi ampun.’’ (HR Ahmad). Nah, ini konteks dimana hablum minannash ternyata paralel dengan hamblum minallah (hubungan manusia dengan Allah). Halalbihalal ternyata juga paralel dengan Idul Fitri, mengingat Idul Fitri selain berarti ”berhenti berpuasa”, juga dapat bermakna lebih jauh lagi, yakni kembali ke kesucian, ke fitrah manusia sebagaimana waktu dilahirkan, bersih tanpa dosa.

Suasana lebaran tahun ini tentu berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana kondisi ekonomi Indonesia saat ini mengalami perlambatan pertumbuhan, sebagai dampak turbulensi ekonomi global yang lagi krisis. Mau tidak mau, Indonesia yang menganut faham ekonomi terbuka harus menerima segala konsekuensi dan risiko yang dihadapinya.

Walau menghadapi risiko perlambatan ekonomi, aktivitas masyarakat menjelang lebaran terlihat cukup agresif. Tidak saja arus orang dan barang terjadi selama hari Lebaran, berbagai fenomena ekonomi lain juga terlihat. Seperti jumlah penarikan uang tunai masyarakat mencapai Rp 97 triliun, itu menunjukkan sebuah dinamika pergeseran uang dan barang ke kampung halaman (daerah) cukup besar.

Bukan itu saja. Arus informasi hahal bi halal yang disampaikan melalui SMS, Facebook, Whatsapp, BlackBerry Messengger, dan berbagai komunikasi lain telah membuat penjualan pulsa meningkat, dan membuat pangsa pasar informasi menjadi masif dan memuncak pada masa lebaran.

Sementara bagi mereka yang berlebaran ke kampung halaman (mudik), tentu dapat dianggap sebagai sekelompok modal manusia mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan di daerah. Semoga momentum ini tidak hanya sebatas ritual dan sosial, tapi menularkan gagasan pengembangan pembangunan di kampung halaman. Namun jangan sampai kita larut dalam pemenuhan kebutuhan yang bersifat konsumtif. Etos kerja keras perlu dipertahankan untuk melanjutkan perjuangan hidup di tengah kondisi ekonomi negara memprihatinkan.

Ke depan, kita berharap tidak ada lagi pertikaian antarelite pemimpin bangsa dan kelompok, yang selama ini sering berbeda pendapat. Melalui halal bi halal dan saling memaafkan, jangan ada lagi prasangka, kebencian, dan dendam. Apalagi menjelang Pemilu 2014 yang sudah semakin dekat, para pemimpin hendaknya jangan bermusuhan yang mengorbankan kepentingan bangsa Indonesia. Selamat Idul Fitri 1434 H. Minal Aidin Wal Faizin

Related posts