Indonesia Dinilai Siap Jadi Pusat Mode Busana Muslim

Selasa, 06/08/2013
NERACA Jakarta - Indonesia dinilai siap menjadi pusat mode busana muslim dunia. Demikian analisis terbaru Prapancha Research (PR) berdasarkan pantauan terhadap jejaring sosial selama kurun 1 Agustus 2011-1 Agustus 2013. Namun, promosi dan pembentukan jaringan internasional mesti gencar dilakukan bila negeri ini tak ingin kehilangan momentum. \"Tentu saja tak pernah ada pendataan seberapa banyak pengguna jilbab di Indonesia. Tetapi ada 5.447 perbincangan tentang jilbab di Twitter per hari,\" ujar Muhammad R. Nirasma, analis PR saat ditulis, minggu (4/8). Sebagai perbandingan, kata kunci "rok" diperbincangkan sebanyak 7.526 kali per hari, "topi" diperbincangkan 5.295 kali per hari, dan "kemeja" 3.513 kali per hari. "Kita tahu busana-busana ini tak pernah terlepas dari keseharian kita. Dengan frekuensi perbincangan yang tak kalah banyak, bisa dibilang jilbab juga sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia," imbuh Nirasma. Hanya saja, lebih lanjut PR mendapati media-media internasional masih cenderung belum memersepsikan Indonesia sebagai negara yang perlu diperhitungkan dalam kancah busana muslim global. Kalaupun disinggung oleh media-media mancanegara dalam berbagai artikel tentang industri busana muslim, Indonesia dipandang baru sebatas salah satu pasar potensial. "Ajang-ajang busana muslim yang kerap menjadi buah bibir adalah ajang-ajang di Barat, Arab, atau terkadang India. Nama-nama desainer maupun brand yang dikenal pun berasal dari ketiga wilayah ini," tambah Nirasma. Menariknya, di samping merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dan PDB tertinggi di antara negara-negara mayoritas muslim, Indonesia juga menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi terhadap busana muslim dibanding negara-negara lain.