Gagal Kendalikan Inflasi

Rabu, 07/08/2013

Oleh : Dzulfian Syafrian

Peneliti Indef

Berdasarkan laporan BPS per 1 Agustus 2013, inflasi bulanan (month-to-month/mom) melonjak hingga 3,29%, jauh melampaui ekspektasi pasar. Inflasi tahunan (year-on-year/yoy) juga tercatat sangat tinggi yaitu 8,61%. Adapun laju inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Juli 2013 sebesar 6,75%. Lonjakan inflasi (mom) terbesar terjadi di sektor transportasi (9,6%) dan bahan makanan (5,46%).

Praktis, asumsi inflasi 7,2% dalam APBN-P 2013 sangat sulit dipertahankan meski BI dan Pemerintah yakin laju inflasi akan kembali stabil pada bulan-bulan berikutnya. Konsekuensinya, BI harus kembali menaikkan BI Rate di kisaran 25-50 basis poin karena suku bunga riil (real interest rate) bernilai negatif. Kenaikan BI Rate masih akan terus terjadi selama inflasi terus bergerak liar.

Menaikkan (kembali) BI Rate penting dilakukan untuk mencegah terjadinya perpindahan (outflow) dana secara besar-besaran, khususnya dari sektor perbankan ke instrumen keuangan lain, atau bahkan lari ke luar negeri. Jika capital outflow terjadi, IHSG dan rupiah akan semakin tertekan.

Setidaknya ada empat penjelasan mengapa inflasi Juli 2013 meroket. Pertama, kenaikan harga BBM. BBM menyumbang inflasi sebesar 0,77%. Kenaikan BBM memicu naiknya harga barang-barang lain, khususnya pangan dan transportasi. Khusus untuk kenaikan tarif transportasi, kebijakan pemerintah yang menetapkan batas atas sebesar 15% hanya berlaku di atas kertas karena kenyataanya ongkos transportasi di daerah-daerah naik lebih dari itu.

Kedua, melonjaknya harga pangan. Penyebab utama kenaikan harga pangan secara signifikan adalah tidak mencukupinya ketersediaan bahan pangan di pasaran. Permintaan jauh melebihi penawaran (excess demand) sehingga kelangkaan terjadi dimana-mana yang pada akhirnya mendorong harga-harga ikut naik. Belum lagi diperparah oleh praktik kartel atau mafia pangan yang kerap mempermainkan harga dan juga stok bahan pangan. Alhasil, komoditas seperti bawang merah, daging ayam, cabai rawit, daging sapi, naik sangat signifikan.

Ketiga, tahun ajaran baru sekolah. Faktor ini sebenarnya adalah siklus tahunan karena memang tahun ajaran baru biasanya dimulai di pertengahan Juli sehingga inflasi akibat faktor ini memang sulit dihindari.

Keempat, momentum ramadhan dan lebaran. Faktor ini juga merupakan siklus tahunan yang mendorong inflasi. Setiap menghadapi bulan ramadhan dan lebaran, inflasi pasti ikut terkerek naik. Meningkatnya konsumsi masyarakat, mudik, serta bagi-bagi angpao adalah tradisi yang menyebabkan inflasi selama bulan ramadhan pasti meningkat.

Dua penjelasan terakhir merupakan siklus tahunan yang tidak dapat dihindarkan. Di sisi lain, penjelasan pertama dan kedua adalah cerminan kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, khususnya harga pangan dan transportasi. Tingginya inflasi selama 2013 jelas akan berdampak negatif bagi perekonomian nasional. Biaya investasi (cost of investment) sektor riil akan semakin tinggi, daya beli masyarakat semakin tergerus, belum lagi ancaman larinya aliran modal (capital outflow) ke luar negeri, adalah harga yang harus (siap) dibayar lantaran pemerintah gagal mengendalikan inflasi.