Empat Defisit Jadi Kendala Ekonomi Nasional

Senin, 05/08/2013

NERACA

Jakarta – Indonesia sekarang menghadapi 4 (empat) jenis defisit yang menjadi kendala pertumbuhan ekonomi nasional, sementara Bank Indonesia (BI) memprediksi defisit transaksi berjalan triwulan II-2013 mencapai US$9 miliar.

Ketua Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (LP3E Kadin) Prof Dr Didiek J. Rachbini mengatakan, ekonomi nasional terus mengalami kesulitan sebagai akibat dari empat jenis defisit yang sedang terjadi di Indonesia.

"Indonesia kini dirundung defisit berganda karena kebijakan ekonomi jauh dari memadai untuk mengatasi masalah. "Quatro" (empat) defisit yang bertumpuk-tumpuk ini akan menjadi “warisan” masalah ekonomi bagi presiden baru yang akan datang," ujarnya, Jumat (2/8).

Saat pemaparan dalam acara diskusi evaluasi ekonomi nasional pasca kenaikan harga BBM di Kadin, Didiek menyebutkan ke-4 jenis defisit yang sedang menjadi kendala ekonomi nasional itu adalah defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, defisit neraca pembayaran, dan defisit primer APBN.

"Kalau presiden-presiden dulu hanya mewariskan satu masalah “abadi”, yaitu defisit neraca transaksi berjalan, dimana APBN dan neraca perdagangan masih surplus. Sekarang sudah empat defisit yang diwariskan," ujarnya.

Menurut dia, keempat jenis defisit tersebut akan berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi nasional di masa depan bila tidak segera mulai ditangani. “Bagaimana dampaknya dengan kondisi ekonomi kita? ya fiskal kita menjadi berat dan itu berakibat pada sektor moneter serta ekspor dan impor pada kegiatan ekonomi riil," tuturnya.

Menurut Didiek, defisit yang berlangsung sejak lama dan belum menunjukkan tanda perbaikan hingga saat ini adalah defisit transaksi berjalan. Neraca transaksi berjalan terus-menerus mengalami defisit dan belum memperlihatkan tanda-tanda menuju positif.

"Hal ini disebabkan jebolnya transaksi jasa sepanjang sejarah. Pemerintah tidak memiliki strategi mengatasinya, dan hal ini telah dianggap biasa sebagai kejadian rutin," katanya.

Dia memaparkan pada periode 1981 hingga 1996 Indonesia selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan ketika ekonomi tumbuh dengan laju tinggi. "Defisit ini tidak perlu dikhawatirkan bila dapat diimbangi oleh masuknya modal, terutama investasi langsung," katanya.

Sejauh ini, kata dia, ekspor sumber daya alam (SDA) telah menopang nilai ekspor pada neraca transaksi berjalan. "SDA yang diekspor itu paling banyak barang mentah, seperti batubara dan kelapa sawit. Namun, sudah ditopang dengan ekspor SDA saja masih tetap defisit," tuturnya.

Selain defisit neraca transaksi berjalan, defisit primer APBN juga terjadi dalam ekonomi pada masa pemerintahan saat ini. "Inilah jenis defisit pertama kali dalam sejarah sejak 1990. Penyebabnya tidak lain adalah kesalahan dalam mengelola subsidi BBM yang terus “membengkak”, ujarnya.

Menurut dia, setelah harga BBM dinaikkan dengan tujuan mengurangi beban APBN, ternyata subsidi BBM dalam APBN-P 2013 tidak lebih kecil dari APBN 2013. Selanjutnya, menurut dia, defisit juga terjadi dalam neraca perdagangan, dimana selama hampir 10 tahun terakhir Indonesia dibanjiri produk-produk buatan China.

"Pada 2007, perdagangan dengan Jepang surplus US$3,2 miliar, tetapi sekarang defisit US$11 miliar. Kemudian, perdagangan dengan China, defisit hanya US$1,8 miliar pada 2007, sekarang defisit mencapai US$17 miliar," paparnya.

Dia berpendapat defisit neraca perdagangan itu akan menghambat industri dalam negeri sehingga sektor industri mengalami kesulitan untuk menyerap tenaga kerja.

Defisit Transaksi Berjalan

Di bagian lain, BI memprediksi defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2013 akan melebar dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya karena ekspor tumbuh lambat dan penurunan impor setelah penaikan harga bahan bakar minyak belum terasa.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral memprediksi defisit transaksi berjalan pada triwulan II akan menembus US$9 miliar, lebih tinggi dengan perhitungan sebelumnya yakni US$8,6 miliar atau 3,6% dari produk domestik bruto (PDB).

"Jadi jangan kaget kalau current account defisit pada triwulan II-2013 yang semula diprediksi US$8,6 miliar menjadi US$9 miliar atau lebih tinggi,” ujarnya kepada pers, akhir pekan lalu.

Melesetnya prediksi BI tersebut disebabkan karena kinerja ekspor ternyata tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan. Selain itu, impor Indonesia terutama pada minyak dan gas belum mengalami penurunan signifikan meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sudah dinaikkan.

“Artinya dampak penaikan harga BBM terhadap impor dari BBM itu belum nampak. Kemungkinan baru akan muncul pada Agustus,” jelasnya.

Meski demikian, BI masih konsisten defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2013 akan menyempit karena penurunan impor. BI sebelumnya memperkirakan defisit transaksi berjalan pada triwulan III mencapai US$5,5 miliar-US$5,6 miliar atau sekitar 2,5% dari PDB. Perkiraan itu juga belum memperhitungkan penerapan kebijakan cost, insurance and freight (CIF) yang dimulai 1 Agustus.

Perry mengatakan bank sentral memperkirakan neraca pembayaran pada triwulan II masih mengalami defisit karena transaksi modal dan finansial tidak bisa menutupi defisit transaksi berjalan.

Namun untuk triwulan selanjutnya bank sentral tetap optimistis neraca pembayaran akan surplus karena defisit transaksi berjalan menipis, sementara terjadi peningkatan transaksi modal dan finansial.

Faktor yang memperngaruhi peningkatan transaksi modal dan finansial tersebut adalah arus masuk modal asing baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, emisi obligasi US$ dari pemerintah juga berperan dalam peningkatan transaksi modal. “Kami masih meyakini surplus dari neraca modal pada triwulan III akan lebih besar dari defisit transaksi berjalan, sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran masih surplus,” ujarnya.

Kondisi neraca pembayaran yang semakin membaik pada triwulan III menjadi salah satu alasan kuat bagi bank sentral untuk menyakini nilai tukar rupiah akan bergerak lebih stabil. Meski demikian, kurs rupiah terus tertekan pada penghujung Juli dan awal Agustus.

Pada akhir pekan lalu, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah 0,6% dan tembus ke level Rp10.333/US$. Sepanjang Jumat pekan lalu nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp10.273-Rp10.333 per US$. fba