Wamen PU: Kami Selalu Tingkatkan Kapasitas Jalan Nasional

Senin, 05/08/2013

NERACA

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengklaim selalu meningkatkan kapasitas jalan nasional setiap tahunnya. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak di Jakarta, akhir pekan lalu. Sebagai contoh, kata dia, kapasitas jalan Pantura mulai dari Jakarta hingga Kudus, Jawa Tengah yang seluruhnya telah ditingkatkan menjadi empat lajur dilengkapi pembatas jalan berupa median.

"Setiap tahunnya kita selalu meningkatkan kapasitas jalan nasional yang kita punya," aku Hermanto. Untuk peningkatan jalan nasional di Jawa pada tahun ini di antaranya ialah telah dioperasionalisasikannya jalan viaduct Gentong di Jawa Barat. Jalan itu diharapkan dapat mengurai kemacetan yang selalu terjadi setiap tahunnya. Yang tadinya lalu lintas harian di situ 30 ribu kendaraan per hari, dengan adanya viaduct ini bisa menjadi 60 ribu kendaraan.

Kementerian PU juga membangun tiga jembatan layang (fly over) yang dapat difungsikan pada arus mudik 2013. Jembatan layang itu adalah Kalibanteng di Kota Semarang, Jombor di Yogyakarta dan Peterongan di Jombang, Jawa Timur. Hermanto Dardak menyebutkan, pemudik kali ini juga sudah bisa melewati jalan tol Ungaran-Bawen di Jawa Tengah.

Namun begitu, Hermanto mengakui, ketiga fly over dan tol Ungaran-Bawen tersebut belum rampung sepenuhnya, namun tetap difungsikan demi mendukung kelancaran arus mudik kali ini. Untuk itu, Kementerian PU telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kepolisian demi menjaga dan mengatur kendaraan yang melintasi jalan-jalan baru tersebut.

Selain menambah kapasitas jalan, Kementerian PU juga menangani jalan melalui rehabilitasi dan rekonstruksi. "Kita melakukan rekonstruksi untuk jalan yang umurnya sudah sepuluh tahun. Itu sesuai desain layanan jalan yang kita buat. Selain itu pada jalan yang umurnya lima tahun kita lakukan rehabilitasi," ungkap Hermanto.

Dari 1300 km jalan di jalur pantai utara Jawa, Hermanto mengatakan terdapat 260 km jalan di lokasi berbeda yang dilakukan penanganan berupa rehabilitasi maupun rekonstruksi karena jatuh tempo setelah 10 tahun.

“Intinya kita menangani 1300 km di Pantura yang umurnya 10 tahun, artinya setiap tahun yang kita rekonstruksi jatuh tempo itu sekitar 130 km dan yang kita rehabilitasi 130 km, artinya ada 260 km yang kita tangani di lokasi nya beda-beda, jadi ini akan kembali lagi 5 tahun sampai 10 tahun dan bukan berarti menangani di tempat yang sama dan umurnya hanya 2 atau 3 tahun tetapi tetap umur jalan itu 10 tahun,” kata dia.

Dia juga menegaskan jalan nasional di Indonesia seperti Pantura sudah didesain standar internasional yaitu dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 10 ton. Menurutnya hampir seluruh jalan nasional di negara lain didesain dengan MST serupa, meskipun ada juga yang menerapkan MST 12 ton pada beberapa negara Eropa.

"Namun beban Pantura memang semakin berat dengan terus bertambahnya volume kendaraan dan juga peningkatan kendaraan berat dari 20% pada 2007 menjadi 40% pada saat itu," terangnya. Hermanto mengungkapkan daya rusak kendaraan yang mengangkut beban dua kali lipat, secara teknis mempunyai daya rusak 16 kali lipat. Artinya biaya yang dikeluarkan 16 kali lipat lebih besar. [iqbal]