Sahabat Sampoerna Masih Wait and See - Suku Bunga Perbankan

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Sahabat Sampoerna, Indra W Supriadi mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 6,5%, tidak membuat perseroan menaikkan suku bunga kredit. Setidaknya hingga lebaran usai. “Akhir bulan Agustus kira-kira (menaikkan suku bunga). Tapi kita coba tetap pertahankan bunga kredit sembari mencermati kondisi pasar. Kita tidak mau terburu-buru menaikkan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (1/8).

Indra juga menjelaskan, nasabah yang relatif sudah mapan selalu mencari bank yang memberi tingkat bunga yang lebih rendah. Nah, di saat seperti inilah, mereka selalu menuntut Bank Sahabat Sampoerna untuk bertahan dan tidak menaikkan suku bunga pinjaman. “Sebenarnya ini (menaikkan suku bunga pinjaman) adalah potensi untuk kita (ambil untung). Tapi kebanyakan nasabah kita ini dari kalangan mikro, dan kita juga tidak akan mendesak seperti bank komersial dan korporat,” tutur dia.

Namun dirinya belum dapat memastikan besaran persenatse jika harus menaikkan suku bunganya. “Ini memang tidak linier. Misalnya, suku bunga deposito naik 0,5%, maka suku bunga pinjamannya sekitar 0,25%,” paparnya. Indra juga mengatakan, porsi likuiditas perseroan masih cukup baik, sehingga perseroan tidak perlu reaktif terhadap keadaan di pasar dan juga tetap melihat kondisi persaingan penjaringan dana yang semakin ketat antarbank.

Dengan melihat inflasi pada Juli 3,29%, serta prediksi BI Rate bakal meningkat hingga 7%, Indra mengatakan kemungkinan besar sektor ekonomi sekunder selain kebutuhan primer kemungkinan besar akan terganggu. Dia pun mencontohkan bila BI Rate 7%, maka kredit perbankan pasti sudah di atas 13%-14%. Kemungkinan ini akan mengerem pertumbuhan,” cetusnya.

Sementara dampak dari kenaikan BI Rate, imbuh Indra, bagi Bank Sahabat Sampoerna tidak akan terlalu besar. “Ada untungnya kita bergerak di UKM. Karena daya tahannya lebih kuat daripada perbankan komersial dan korporat,” klaim Indra.

Terkait kinerja, Bank Sahabat Sampoerna mencatat perolehan laba bersih semester I 2013 sebesar Rp7,5 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp2,4 miliar. Dengan pencapaian tersebut, maka return on assets (ROA) di enam bulan pertama tahun ini menjadi 1,2% sedangkan return on equity (ROE) sebesar 4,5%.

Kemudian, biaya operasional dibanding pendapatan operasional (BOPO) berada dalam kisaran 89,9%. Sementara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada semester I-2013 mencapai 21,3%. Adapun kualitas portofolio terlihat dari tingkat rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) gross membaik dari 4,2% pada semester I 2012 menjadi 1,3% pada semester I 2013.

Aset Bank Sahabat Sampoerna hingga 30 juni 2013 mencapai Rp2,2 triliun. Jumlah itu meningkat 2,3 kali lipat dari jumlah pada saat akuisisi sebesar Rp798 miliar. Bank Sahabat Sampoerna sebelumnya adalah Bank Dipo Internasional, di mana pada Mei 2011, PT HM Sampoerna Tbk mengakuisisi bank tersebut.

Kini, perseroan telah memiliki 12 jaringan kantor yang tersebar di Jakarta, Medan, Pekanbaru, Palembang, Surabaya dan Bandung. Dalam upaya memberikan kemudahan kepada nasabah, Bank Sahabat Sampoerna meningkatkan aspek pelayanan melalui layanan ATM yang terkoneksi jaringan PRIMA. [sylke]

BERITA TERKAIT

Berikan Bunga 0%, TOKOMODAL Fokus Majukan Daya Saing Usaha Kecil

Berikan Bunga 0%, TOKOMODAL Fokus Majukan Daya Saing Usaha Kecil NERACA Jakarta - Perusahaan fintech peer to peer lending (P2P…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

BI Pertahankan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Produksi Migas Pertamina EP Lampaui Target

    NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP, sebagai anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama…

Menkeu : Tekanan Global 2019 Tak Seberat 2018

      NERACA   Jakarta - Kebijakan Dana Moneter Internasional yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini…

BMKG – BPPT Kembangkan Sistem Deteksi Dini Tsuname Bawah Laut

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan BMKG bersama Badan Pengkajian…