Omzet Matahari Kerek Laba Tumbuh 68,3% - Raup Laba Bersih Rp 265 Miliar

NERACA

Jakarta- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi beberapa bulan lalu, ternyata tidak memberikan dampak berarti terhadap kinerja dan termasuk penjualan PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF). Pasalnya, sepanjang semester pertama tahun ini perseroan berhasil membukukan laba bersih tumbuh 68,3% menjadi Rp 265 miliar.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (1/8). Pada priode yang sama tahun lalu, laba bersih perseroan tercatat Rp 157 miliar. Naiknya, laba ini sejalan dengan pertumbuhan omzet alias pendapatan. Disebutkan, penjualan kotor Matahari di Semester pertama tahun ini tercatat Rp 5,16 triliun, 19,4% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 4,32 triliun.

Sedangkan pendapatan bersih tercatat Rp 2,741 triliun, 23,1% lebih tinggi dibanding Rp 2,226 triliun di tahun lalu. Dijelaskan, pertumbuhan itu merupakan hasil dari peningkatan segmen pelanggan perseroan, peningkatan disposable income dan perbaikan di penawaran produk yang dijual.

Saat ini Matahari punya 121 gerai di 58 kota di Indonesia, termasuk 5 gerai baru yang dibuka di triwulan II-2013, yaitu di Surabaya, Palangkaraya, Palembang, Palopo, dan Cibubur. Perseroan telah melakukan pembayaran utang bank secara sukarela di bulan Maret 2013 sebesar Rp 700 miliar, dan kembali melakukan pembayaran utang bank secara sukarela hari ini sebesar Rp 400 miliar, sehingga total utang turun dari Rp 2,369 triliun di akhir Juni 2013 menjadi Rp 1,969 triliun.

Sebagai informasi, belum lama ini perseroan melakukan stabilisasi harga saham pasca private placement. Corporate Secretary and Legal Director PT Matahari Department Store Tbk, Miranti Hadisusilo pernah bilang, stabiliasi ini dilakukan terkiit rencana penjualan sebagian saham perseroan oleh Asia Color Company Limited (ACC) dan PT Multiplar Tbk sampai sebanyak-banyaknya 1.167.170,000 saham biasa (Private Placement).

Jumlah saham untuk stabiliasi sebanyak-banyaknya 175.075.500 saham perseroan yang dimiliki oleh ACC melalui eksekusi opsi penjatahan lebih (Saham Stabilisasi). Adapun harga stabilisasi lebih rendah dari harga penjualan saham perseroan dalam rangka private placement yang akan diketahui dan diberitahukan kepada BEI paling lambat dalam waktu 1 hari kerja sebelum dimulainya periode stabilisasi.

UBS Securities Indonesia bertindak menjadi agen stabilisasi. Agen stabilisasi ini akan menggunakan dana dari hasil eksekusi opsi penjatahan lebih di atas untuk melakukan pembelian atas saham-saham perseroan di pasar reguler BEI, dimana harganya lebih rendah dari harga penjualan saham dalam rangka private placement. Selain itu, tidak ada penjualan kembali atas saham-saham perseroan yang dibeli dalam periode stabilisasi. (bani)

BERITA TERKAIT

Pasar Modal di Bali Diyakini Tumbuh Positif - Dampak Penyederhaan Kebijakan

NERACA Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis kinerja pasar modal dan industri keuangan nonbank di Bali dan Nusa Tenggara…

Penyaluran Kredit BCA Tumbuh Hingga 12,3%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menumbuhkan penyaluran kredit sebesar 12,3 persen (tahun ke…

Sky Energy Bidik Pendapatan Rp 539 Miliar - Lepas 203 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Sky Energy Indonesia Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp539 miliar dan Rp627 miliar pada tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Semen Baturaja Terbitkan MTN Rp 400 Miliar

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk atau (SMBR) menerbitkan surat hutang (MTN) senilai Rp400 miliar dengan jangka waktu selama tiga tahun…

Pelanggan Diminta Registrasi Nomor Prabayar

Telkomsel mengimbau pelanggan untuk segera melakukan registrasi nomor prabayar yang divalidasi sesuai dengan data kependudukan yang berlaku. Batas akhir masa…

BEI Resmikan Galeri Investasi di Untan

Direktur Pengembangan Bisnis PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan meresmikan galeri investasi BEI di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan)…