KKP Tangkap 56 Kapal Pencuri Ikan

Sepanjang Semester I-2013

Jumat, 02/08/2013

NERACA

Jakarta – Pemerintah mendorong para nelayan untuk turut aktif mengawasi kemanan lingkungannya agar produktifitas ikan tetap kondusif. Dengan begitu dibentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di setiap daerah yang melibatkan pembudidaya, nelayan, dan pengolah ikan. Sedangkan pemerintah akan memfalitasi mekanismenya.

“Prinsipnya Indonesia kan begitu luas, jadi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bikin suatu lembaga swadaya masyarakat yang kita sebut Pokmaswas untuk meningkatkan pengawasan pada industri ikan baik tangkap maupun budidaya. Jadi praktiknya di samping mereka bekerja sehari-hari, mereka akan memabantu kita memantau. Misalnya jika ada praktek memberi ikan dengan formalin dan sebagainya. Nah nanti kita memberikan bimbingan dan dukungan. Tapi ini sifatnya persuasif,” terang Sekretaris Jenderal KKP Syarief Widjaja, di Jakarta Utara, Rabu (31/7).

Sejauh ini berdasarkan data Semester I-2013 KKP telah menangkap 56 kapal ikan yang melakukan ilegal fishing (pencurian ikan). Dari sejumlah kapal tersebut sekitar 65% merupakan kapal dari negara kawasan seperti Malasyia (11 kapal), Philipina (5 kapal), Vietnam 17 kapal, dan Thailand (4 kapal). Sedangkan 35% sisanya merupakan kapal berbendera Indonesia (19 kapal).

Selain untuk meningkatkan keamanan nantinya Pokmaswas juga menjadi wadah edukasi masyarakat nelayan. Baik pemberian pengetahuan tentang penjagaan lingkungan hidup maupun pengembangan keterampilan untuk membuat nilai tambah dari perikanan itu sendiri. Syarief memberi contoh masyarakat nelayan dapat memanfaatkan cangkang kerang untuk kerajinan seperti cup lampu atau tempat tisue. Dengan begitu masyarakat nelayan bisa memiliki penghasilan lebih dibanding cangkang itu hanya menjadi limbah yang justru dapat memungkinkan pendangkalan pesisir.

“Selain pencegahan kita juga mendorong dengan melatih masyarakat untuk memanfaatkan cangkang kerang hijau sebagai bahan perhiasan. Sekarang dengan ada pelatihan itu tumpukan cangkang jadi bersih kan, tidak perlu lagi menumpuk. Jadi kita mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah sebagai nilai tambahan sekaligus membuat kualitas lingkungan jadi bagus. Nah, sekarang kita juga mau mendorong agar sampah-sampah plastik itu kan bisa dipilah,” papar Syarief.

Syarief menilai pemahaman untuk mau menjaga dan mengawasi lingkungan hidup masyarakat nelayan merupakan hal penting. Prinsipnya laut dan besisir harus dianggap bukan hanya sekedar media tempat kita hidup tapi justru tempat kita mencari nafkah. Jadi jika abai dengan lingkungan sebtulnya masyarakat nelayan itu sendiri yang terkena dampaknya.

“Kalau lingkungan tidak bagus maka nelayan sendiri yg susah mencari nafkah, karena populasi ikannya menjadi kecil. Kemudian terjadi pendangkalan akibat sampah. Kalau perahu tidak bisa merapat maka pengisian BBM ke perahu juga mengalami hambatan. Akhirnya timbul biaya baru. Jadi itu tidak bisa dipisahkan antara mencari nafkah dan menjaga lingkungan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Syahrin Abdurrahman menjelaskan sejak tahun 2006 sudah terbentuk 2.145 kelompok Pokmaswas yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun baru 991 kelompok yang sudah sangat aktif.

“Tapi dari hari ke hari kita terus menghimbau agar masyarakat mau terlibat. Dengan itu kita juga terus mengajak masyarakat mensosialisasikan regulasi dan apa-apa saja yang perlu dilaporkan dan kita butuhkan sebagai informasi awal. Karena Pokmaswas ini tidak memiliki kewenangan untuk menangkap atau menindak. Jadi kami (KKP) yang akan turun kelapangan jika ada laporan,” tuturnya.

Stok Bandeng Aman

Sementara itu menjelang Hari Raya Idul Fitri ini stok ikan khususnyanya bandeng dalam jumlah aman meskipun aka nada peningkatan volume permintaan hingga 50%. Tapi jika merujuk pada volume permintaan di Jakarta yaitu sebesar 60 ton/hari dan Surabaya 20 ton/hari KKP melihat sudah tidak ada masalah. Keamanan stok bandeng ini terjadi karena hampir seluruh pantai di Indonesia terdapat tambak bandeng terutama di pesisir pantai Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

“Bandeng memang pengaman untuk hari besar. Seperti harga daging sedang naik pasti bandeng ambil peran. Bahkan dari 16 bahan pokok yang dipantau pemerintah ada dua ikan yang mendapat perhatian yaitu yaitu bandeng dan kembung,” jelas Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Hutagalung.

Mengenai harga bandeng, Saut juga menilai masih relatif stabil di kisaran Rp 14.000 – Rp 15.000 per kilogramnya. Pembudidaya masih cenderung tidak menaikan harga meskipun hari raya Idul Fitri kian menjelang. Pasalnya di pasaran bandeng cukup mudah dijual dan cepat laku sehingga pembudidaya memang merasa aman dengan usahanya dan tidak perlu menaikan harga.

Senada dengan di atas Sekjen KKP Syarief Widjaja menilai kestabilan harga bandeng karena semua masyarakat Indonesia pada prinsipnya sudah sadar mengkonsumsi ikan terutama bandeng. Hal ini terbukti dengan volume konsumsi terhadap ikan sudah mendekati angka 33,8 kilogram per kapita tiap tahunnya. Namun sejauh ini kestabilan harga masih bisa dikontrol hanya pada industri perikanan budidaya.