Inflasi Juli Tembus 3,29%

Target Pemerintah Diprediksi Tak Tercapai

Jumat, 02/08/2013

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Juli 2013 ini adalah sebesar 3,29%, sehingga secara akumulatif, inflasi dari Januari 2013 sampai Juli 2013 adalah sebesar 6,75%. Padahal sebelumnya pemerintah dalam APBN-P menarget inflasi ada pada kisaran 7,2%.

“Inflasi Juli ini 3,29%,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Kamis (1/8). Senior ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan mengatakan, dengan inflasi sebesar itu, maka Pemerintah tidak akan mencapai target inflasi yang dicanangkan pemerintah sendiri. “Tidak akan capai target. Standard Chartered sendiri memprediksi inflasi pada angka 8%,” kata Fauzi kepada Neraca, Kamis (1/8).

Namun, inflasi bisa saja menembus angka 10%, kata Fauzi, kalau rupiah melemah terus. “Bisa saja lebih dari 10% kalau rupiah terus melemah,” kata dia. Dengan inflasi sebesar ini, Fauzi memprediksi bahwa Bank Indonesia (BI) akan menaikkan BI rate lagi sebesar 25 basis points (bps) dari 6,5% menjadi 6,75%. Padahal dalam waktu yang berdekatan, BI telah menaikkan BI rate sebesar 75 bps dari 5,75% menjadi 6,5%.

Secara siklus, lanjut Fauzi, inflasi bulanan akan menurun setelah bulan puasa. Dengan begitu, diprediksi pada Agustus 2013, inflasi akan turun, atau bahkan terjadi deflasi. Tetapi di bulan-bulan berikutnya akan berlangsung seperti biasa kembali.

Fauzi menambahkan, akibat inflasi sebesar ini, membuat pertumbuhan ekonomi rentan berada pada kisaran di bawah 6%. Padahal Pemeritah sendiri dalam APBN-P menarget pertumbuhan ekonomi 6,3%.

Suryamin sendiri memprediksi kenaikan harga bisa terus berlanjut. “Efek dari kenaikan harga BBM bersubsidi memang sudah selesai sampai Juli ini. Tapi efek ikutannya masih akan berlangsung beberapa bulan. Barang-barang akan naik harganya karena biaya transportasinya naik. Itu masih akan berlangsung,” kata dia.

Penyebab inflasi

BPS mencatat terdapat sepuluh besar penyebab inflasi Juli. Penyebab utamanya adalah bensin. “Andil dari bensin ini terhadap inflasi Juli sebesar 0,77% dengan perubahan harga 25,27% karena keputusan kenaikan harga BBM bersubsidi dan kenaikan Pertamax dan Pertamax Plus di seluruh kota IHK (Indeks Harga Konsumen),” jelas Suryamin.

Kenaikan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni lalu, lanjut Suryamin, berefek pada inflasi sebanyak sepertiga di bulan Juni dan dua pertiga sisanya di Juli ini. Maka wajar saja kalau andilnya besar sekali terhadap inflasi.

Kedua, inflasi disebabkan karena kenaikan tarif angkutan dalam kota sebesar 21,05%. Andil kenaikan tarif tersebut kepada inflasi adalah sebesar 0,54%. Kenaikan tarif terjadi di 66 kota IHK alias di seluruh kota yang disurvey BPS. Kupang dan Semarang mengalami kenaikan tarif terbesar, yakni 42%. Kemudian disusul Sorong sebesar 37%.

“Ketiga adalah bawang merah dengan andil sebesar 0,48%. Perubahan harga yang terjadi adalahs ebesar 62,28%. Kenaikan ini disebabkan pasokan berkurang di pasaran,” kata Suryamin.

Kenaikan harga bawang merah terjadi di 66 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Bima, yakni sebesar 140%. Tangerang, meskipun dekat dengan Jakarta, tetapi mengalami kenaikan harga bawang merah sebesar 114%. Sementara rata-rata kota lain mengalami kenaikan harga 17%-102%.

“Keempat, penyebab inflasi Juli adalah daging ayam ras dengan andil 0,22% dan perubahan harga yang terjadi sebesar 14%. Kenaikan ini karena tingginya permintaan di awal puasa,” jelas Suryamin. Kenaikan rata-rata di seluruh kota IHK adalah sebesar 10-25%.

Ikan segar menjadi penyebab inflasi kelima terbesar, kata Suryamin. Andilnya terhadap inflasi adalah sebesar 0,11% dengan kenaikan harga sebesar 4%. “Kenaikan harga ikan segar ini karena anomali cuaca yang menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan laut,” pungkasnya. [iqbal]