Perlu Blueprint Perbankan Pro Sektor Riil - Desakan Hipmi Terkait MP3I

NERACA

Jakarta---Pelaku usaha mendesak Bank Indonesia (BI) menerbitkan cetak biru (blueprint) pengembangan industri perbankan nasional. Sehingga bisa mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan dalam mendorong sektor riil guna menyelaraskan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). “BI sudah pernah memiliki Arsitektur Perbankan Indonesia (API), sekarang kita juga mendorong adanya cetak biru industri keuangan nasional,” kata Ketua Umum BPP Hipmi Erwin Aksa di Jakarta,4/7

Lebih jauh Erwin menilai sejumla poin penting di API dan Peraturan Bank Indonesia (PBI) perlu disesuaikan dengan perkembangan perekonomian nasional. Sehingga blueprint tersebut lebih bersahabat dengan sektor riil.”Banyak sekali aturan perbankan yang dibuat dalam konteks penyehatan saat krisis lalu. Padahal sekarang, industri ini sudah sehat-sehat semua dan tantangannya juga sudah beda,” tambahnya.

Erwin mengaku kecewa. Karena hingga kini antara industri perbankan dan sector riil belum padu. Akibatnya, belum bisa mendorong daya saing dalam pembangunan industri. “Padahal kondisi perbankan dewasa ini, siap dari sisi likuiditas dan tata kelola industri (best practice),” ungkapnya.

Berdasarkan Data Hipmi Research Center, Maret 2011, nilai kredit bermasalah (non performing loan, NPL) perbankan sebesar 2,81% dan pinjaman yang tidak dicairkan (undisbursed loan) mencapai Rp 623,2 triliun. Sementara pertumbuhan kredit rata-rata hanya sebesar 22,8% per tahun.

Hipmi menilai, baik perbankan maupun sektor riil harus bersinergi mendorong pertumbuhan industri secara keseluruhan. “Misalnya, kita perlu memastikan dari sisi pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur, energi bagi industri nasional, dan lain sebagainya,” tambah Erwin.

Yang jelas, lanjut keponakan mantan Wapres Jusuf Kalla ini menegaskan Hipmi mengusulkan agar blueprint perbankan itu diintegrasikan dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). Pasalnya, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk membangun enam koridor ekonomi sampai dengan 2014 mendatang mencapai Rp 3.348 triliun.

Selain menggunakan dana investasi asing, APBN, perbankan nasional dapat berpartisipasi di dalamnya. Enam koridor yang akan dibangun itu yakni Sumatra dengan kebutuhan anggaran Rp546 triliun atau 16% dari total anggaran yang dibutuhkan, Jawa sebesar Rp1.079 triliun (32%) dan Kalimantan Rp704 triliun (21%). Kemudian koridor Sulawesi dan Maluku Utara Rp295 triliun (9%), Bali dan Nusa Tenggara Rp122 triliun (4%), serta Papua dan Maluku Rp602 triliun (18%).

Hipmi menilai dengan integrasi ini perbankan dan pemerintah memiliki panduan bersama dalam mendorong daya saing industri nasional.”Dengan terintegrasi, pemerintah juga bisa memberi jaminan, sehingga perbankan tidak ragu-ragu terlibat dalam pembiayaan,”tandas Erwin. **cahyo

BERITA TERKAIT

Akseleran Fasilitasi Pembiayaan Kepada Pelaku Usaha Hipmi Jaya

      NERACA   Jakarta - Mengusung semangat dalam memberikan kemudahan akses pembiayaan sebagai wujud percepatan inklusi keuangan, PT…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

Neraca Keuangan Sektor Migas Diprediksi Surplus

      NERACA   Jakarta - Kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) terutama migas dalam perekonomian nasional…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Begini Jurus Kemenperin Demi Wujudkan Indonesia Kuat

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif mewujudkan “Indonesia Kuat” melalui peningkatan produktivitas dan daya saing industri potensial di…

Ingin Kembangkan Sektor Perikanan dan Pertanian, Bupati Asmat Harapkan Dukungan Lebih Dari Pusat

NERACA Jakarta - Bupati Kabupaten Asmat, Elissa Kambuh, menuturkan, masyarakat kami baru 65 tahun bersentuhan dengan dunia luar. Padahal potensi alam…

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…