Mari Ber-ASI

Jumat, 02/08/2013

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Air susu ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian murni air susu ibu saja, tanpa tambahan makanan dan minuman lain, hingga bayi berusia 6 bulan. Tanpa tambahan susu formula, madu, air tajin, pisang dan lain lain. Eksklusif, benar-benar hanya diberi ASI. Periode pemberiannya sebaiknya adalah sejak lahir sampai bayi berumur 2 tahun.

Di negara maju, yang memberikan ASI eksklusif cenderung adalah mereka kaum menengah ke atas dan berpendidikan tinggi. Jauh kenyataannya dengan Indonesia dimana hanya 31,2% saja ASI eksklusif diberikan pada bayi, berdasarkan analisis lanjut data riset kesehatan dasar.

Percakapan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai joki three in one di Jakarta merupakan potret kecil fenomena diabaikannya praktik pemberian ASI eksklusif pada mereka kaum menengah bawah. Saat itu sang ibu menggendong anaknya yang berusia sekitar 5 bulan. Ketika ditanya anaknya diberi susu apa, dia menjawab dikasih makanan lunak. Tadinya sebelum lima bulan, bayinya diberi ASI tapi lantaran melihat sang bayi kelihatan kurus, suaminya pun menyuruhnya memberi asupan makanan. Sayang sekali, padahal hanya sebulan lagi sang bayi lulus jadi sarjana ASI eksklusif.

Tampak pengaruh dari keluarga dan mungkin kurangnya informasi tentang pentingnya asi ekslusif membuat ibu tergoyahkan untuk memberi makan pada bayinya. Padahal, diakui ibu joki itu dia sudah diingatkan oleh tenaga kesehatan agar memberi ASI murni hingga 6 bulan.

Berbagai manfaat positif menyusui bagi ibu maupun bayinya. Bagi bayi, seperti yang tercantum dalam hasil riset kesehatan dasar menyusui mempunyai peran penting yang mendasar bagi kelangsungan hidup bayi. ASI memberikan imunitas sehingga menurunkan kesakitan dan kematian, memberikan kebutuhan akan zat gizi untuk pertumbuhan.

Studi terbaru di USA, menunjukkan bahwa anak yang diberi ASIi akan memiliki IQ yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak, yaitu 4 poin lebih tinggi pada saat mereka berusia 7 tahun. Bagi ibu, menyusui dalam jangka panjang dapat memperpanjang jarak kelahiran, pemulihan status gizi yang lebih baik sebelum kehamilan berikutnya, mengurangi risiko terkena diabetes, kanker payudara, kanker rahim, dan depresi pasca melahirkan.

Selain manfaat diatas, ASI sangat ekonomis, praktis dan higienis. Tak perlu mengeluarkan uang untuk susu dan segala perlengkapannya. Tak perlu juga strerilizer untuk membunuh kuman dan bekteri pada botol susu.

Namun sayangnya, tidak semua ibu dari semua golongan sosial ekonomi mengerti akan hal ini. Pun jika mereka mengerti faktor dukungan suami atau keluarga atau pekerjaan dengan jam kerja yang ketat seringkali menjadi penghalang dan penyebab gagalnya ASI eksklusif. Terlebih lagi bagi ibu bekerja yang tidak terdapat fasilitas dan kelonggaran waktu untuk mempompa ASI-nya ketika dia bekerja. Sangat sulit untuk memperoleh kuantitas dan kualitas ASI yang baik.

Lebih jauh asi ekslusif juga bermanfaat bagi lingkungan dan sosial. Misalnya, bagi perusahaan ibu yang menyusui akan lebih produktif bekerja karena akan lebih sedikit ijin dari kantor untuk mengurus anak yang sakit. Bagi lingkungan, pemberian asi akan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dari kaleng dan plastik botol. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ibu yang menyusui eksklusif selama 6 bulan akan mencegah hampir 10000 kematian bayi yang juga menghemat biaya perawatan kesehatan sebesar $13 triliun per tahun. Hal ini perlu diperhatikan mengingat Indonesia juga akan menerapkan universal health coverage pada 2014.

Pentingnya upaya untuk terus menggalakkan ASI eksklusif. Pemerintah telah membuat peraturan No 33 tahun 2012 tetapi pelaksanaannya harus tetap dikawal agar efektif. Edukasi sejak dini bagi keluarga dan remaja untuk memasuki jenjang perkawinan hingga siap menjadi calon bapak dan calon ibu bagi bayi. Dukungan dari tempat kerja, rekan kerja dan organisasi profesi juga mempunyai peran yang besar bagi keberhasilan ASI eksklusif membentuk anak-anak masa depan yang sehat dan berkualitas.