Jamsostek Fokus Perbaiki Pelayanan

Jelang Transformasi BPJS Ketenagakerjaan

Kamis, 01/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Jamsostek (Persero) terus berbenah diri untuk menyiapkan perubahan bertransformasi. Sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus menangani penyelenggaraan jaminan social. Perseroan yang pada 1 Januari 2014 akan bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan ini, ke depannya, tidak hanya buruh dan pekerja pabrik menjadi peserta Jamsostek, namun bertambah dari pekerja sektor lain. Tentunya, pelayanan terhadap peserta yang akan didapatkan minimal serupa, dan akan lebih baik.

Direktur Pelayanan PT Jamsostek (Persero), Achmad Riadi, mengatakan bila masalah pelayanan di BUMN ini bukan hal baru. Pasalnya, Jamsostek sudah lama memiliki standard pelayanan prima. Dia juga menerangkan, berbekal pengamatan dan pengalaman di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait dengan pelayanan Jamsostek, kuncinya satu, yaitu eksekusi segera.

“Meskipun kita punya strategi, punya perencanaan yang bagus, namun kalau tidak dieksekusi dengan segera tidak ada gunanya.” ujar Riadi di Jakarta, kemarin. Oleh karena itu, Riadi menerapkan pengalamannya di lapangan terhadap apa saja yang harus diubah. Pertama, pelayanan Jamsostek selama ini terkendala oleh prosedur yang panjang. Padahal, kebutuhan pelayanan terbaik dan kecepatan itu diperlukan masyarakat, khususnya para peserta.

Pelayanan terbaik itu harus mampu memberikan nilai tambah, seperti melayani dengan baik, kecepatan dalam memberikan layanan, tata ruangan juga harus baik dan memenuhi fasilitas atau keinginan peserta dengan baik. “Saya lihat dari berbagai perusahaan termasuk di bank tentang paradigma pelayanan, dari sana saya berpikir, harus ada yang dirubah sebagai layanan prima dan berkualitas," tuturnya.

Kedua, menurut Riadi yang mesti diubah adalah sikap yang kurang baik, dan harus diperbaiki menjadi profesional, terbaik dengan memiliki sentuhan kemanusiaan. Contohnya pada penerapan pola antrean. Selama ini, pola antrian, peserta datang ambil nomor dan menunggu dipanggil, diperiksa kelengkapan dokumennya. Begitu tidak lengkap diharuskan kembali untuk melengkapi. Hal ini tentu akan menjadi tidak praktis dan kurang profesional.

Pola antrean itu kemudian saya ubah, bagi peserta yang akan mengurus klaim ke Jamsostek, dari awal sudah diperiksa kelengkapan dan berkasnya oleh petugas. Begitu diketahui lengkap semuanya, baru diberi nomor untuk antri pelayanan selanjutnya. Dengan demikian, peserta yang akan mengurus klaim tidak menunggu terlalu lama, kalau berkasnya tidak lengkap. Hal itu sudah bisa diketahui dari awal.

Di sisi lain, Riadi juga minta pada karyawannya untuk melakukan pelayanan dengan sentuhan kemanusiaan. Diterangkannya, dengan tidak mengorbankan klaim, kalau dilihat nilai klaimnya kecil dan kelengkapan dokumen peserta yang akan klaim ternyata kurang. "Sebatas itu tidak prinsip, dan peserta itu sampai harus pulang kembali yang jauh untuk melengkapinya. Pelayanan bisa dilakukan secara fleksibel. Itulah maksudnya pelayanan dengan sentuhan kemanusiaan. Tidak kaku," katanya.

Perbaikan selanjutnya, lanjut Riadi, yaitu tidak ada waktu jeda dalam melayani peserta. Sehingga para petugas beristirahat saya intruksikan bergantian. Dengan begitu, peserta yang mengurus klaim tetap terus dilayani sepanjang waktu kerja. Menurut Riadi, pelayanan yang baik tidak hanya sekadar tanggung jawab bidang pelayanan saja.

Tetapi harus mencakup semuanya, perlu tanggung jawab dan komitmen dari seluruh insan Jamsostek. "Mulai dari jajaran direksi sampai kepada staf bagian umum maupun office boy (OB)," tandas Riadi. [kam]