Jamsostek Fokus Perbaiki Pelayanan - Jelang Transformasi BPJS Ketenagakerjaan

NERACA

Jakarta - PT Jamsostek (Persero) terus berbenah diri untuk menyiapkan perubahan bertransformasi. Sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus menangani penyelenggaraan jaminan social. Perseroan yang pada 1 Januari 2014 akan bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan ini, ke depannya, tidak hanya buruh dan pekerja pabrik menjadi peserta Jamsostek, namun bertambah dari pekerja sektor lain. Tentunya, pelayanan terhadap peserta yang akan didapatkan minimal serupa, dan akan lebih baik.

Direktur Pelayanan PT Jamsostek (Persero), Achmad Riadi, mengatakan bila masalah pelayanan di BUMN ini bukan hal baru. Pasalnya, Jamsostek sudah lama memiliki standard pelayanan prima. Dia juga menerangkan, berbekal pengamatan dan pengalaman di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki terkait dengan pelayanan Jamsostek, kuncinya satu, yaitu eksekusi segera.

“Meskipun kita punya strategi, punya perencanaan yang bagus, namun kalau tidak dieksekusi dengan segera tidak ada gunanya.” ujar Riadi di Jakarta, kemarin. Oleh karena itu, Riadi menerapkan pengalamannya di lapangan terhadap apa saja yang harus diubah. Pertama, pelayanan Jamsostek selama ini terkendala oleh prosedur yang panjang. Padahal, kebutuhan pelayanan terbaik dan kecepatan itu diperlukan masyarakat, khususnya para peserta.

Pelayanan terbaik itu harus mampu memberikan nilai tambah, seperti melayani dengan baik, kecepatan dalam memberikan layanan, tata ruangan juga harus baik dan memenuhi fasilitas atau keinginan peserta dengan baik. “Saya lihat dari berbagai perusahaan termasuk di bank tentang paradigma pelayanan, dari sana saya berpikir, harus ada yang dirubah sebagai layanan prima dan berkualitas,\" tuturnya.

Kedua, menurut Riadi yang mesti diubah adalah sikap yang kurang baik, dan harus diperbaiki menjadi profesional, terbaik dengan memiliki sentuhan kemanusiaan. Contohnya pada penerapan pola antrean. Selama ini, pola antrian, peserta datang ambil nomor dan menunggu dipanggil, diperiksa kelengkapan dokumennya. Begitu tidak lengkap diharuskan kembali untuk melengkapi. Hal ini tentu akan menjadi tidak praktis dan kurang profesional.

Pola antrean itu kemudian saya ubah, bagi peserta yang akan mengurus klaim ke Jamsostek, dari awal sudah diperiksa kelengkapan dan berkasnya oleh petugas. Begitu diketahui lengkap semuanya, baru diberi nomor untuk antri pelayanan selanjutnya. Dengan demikian, peserta yang akan mengurus klaim tidak menunggu terlalu lama, kalau berkasnya tidak lengkap. Hal itu sudah bisa diketahui dari awal.

Di sisi lain, Riadi juga minta pada karyawannya untuk melakukan pelayanan dengan sentuhan kemanusiaan. Diterangkannya, dengan tidak mengorbankan klaim, kalau dilihat nilai klaimnya kecil dan kelengkapan dokumen peserta yang akan klaim ternyata kurang. \"Sebatas itu tidak prinsip, dan peserta itu sampai harus pulang kembali yang jauh untuk melengkapinya. Pelayanan bisa dilakukan secara fleksibel. Itulah maksudnya pelayanan dengan sentuhan kemanusiaan. Tidak kaku,\" katanya.

Perbaikan selanjutnya, lanjut Riadi, yaitu tidak ada waktu jeda dalam melayani peserta. Sehingga para petugas beristirahat saya intruksikan bergantian. Dengan begitu, peserta yang mengurus klaim tetap terus dilayani sepanjang waktu kerja. Menurut Riadi, pelayanan yang baik tidak hanya sekadar tanggung jawab bidang pelayanan saja.

Tetapi harus mencakup semuanya, perlu tanggung jawab dan komitmen dari seluruh insan Jamsostek. \"Mulai dari jajaran direksi sampai kepada staf bagian umum maupun office boy (OB),\" tandas Riadi. [kam]

BERITA TERKAIT

Ombudsman: Partisipasi Masyarakat Awasi Pelayanan Publik Meningkat

Ombudsman: Partisipasi Masyarakat Awasi Pelayanan Publik Meningkat NERACA Padang - Ombudsman Republik Indonesia menilai partisipasi masyarakat mengawasi pelayanan publik di…

Jelang Topping Off, UHR Diklaim Semakin Diminati

  NERACA Jakarta - Urban Heights Residences (UHR) yang mengusung konsep The Evolution of Urban Living, deskripsi tentang keterikatan Property…

BPJS Tidak Berlaku Hari Libur

Pemerintah sebagai pemrakarsa terbitnya BPJS Kesehatan yang wajib dimiliki oleh setiap orang di Indonesia, tampaknya lupa mengingatkan fasilitas kesehatan seperti…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Didesak Optimalkan Komite Nasional Keuangan Syariah - Genjot Keuangan Syariah

  NERACA   Jakarta - Pemerintah perlu lebih mengoptimalkan Komite Nasional Keuangan Syariah yang dibentuk Presiden Joko Widodo, karena Indonesia…

BI Buka Transaksi Lindung Nilai Mata Uang Euro

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) membuka Transaksi "Swap" Lindung Nilai dalam mata uang non-dolar AS untuk…

Naik 24%, BTN Raih Laba Rp2 triliun

  NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. optimistis mampu mencapai target perseroan pada akhir tahun ini. Optimisme…