Terganjal Produk Ilegal, Laba Erajaya Turun 38,9%

Kamis, 01/08/2013

NERACA

Jakarta – Terganjal produk telepon selular ilegal atau black market (BM) khususnya yang berbasis smartphone seperti Blackberry, laba bersih PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) tersungkur 38,9% menjadi Rp129,8 miliar pada semester pertama 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (31/7).

Padahal, semester pertama tahun lalu kinerja ERAA cukup bagus dengan memperoleh laba bersih mencapai Rp212,4 miliar. Penurunan laba tersebut dikarenakan adanya persaingan pasar dan produk ilegal yang telah memiliki pasar tersendiri. Pada semester pertama 2013, penjualan dari Erajaya sebesar Rp5,976 triliun atau turun 6,7% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp6,406 triliun.

Produk telepon seluler yang selama ini menjadi kontributor terbesar pada penjualan mengalami penurunan selama semester pertama 2013. Produk tersebut hanya terjual sebanyak Rp5,267 triliun atau turun dibandingkan semester pertama tahun lalu sebesar Rp5,99 triliun.

Selain itu, produk lainnya yang dijual selama semester pertama 2013 adalah voucher elektronik sebanyak Rp 352 miliar, voucher fisik sebesar Rp128,48 miliar, komputer dan peralatan elektronik lainnya sebesar Rp29,631 miliar. Sedangkan suku cadang sebesar Rp10,49 miliar dan kartu perdana sebesar Rp8,414 miliar.

Menurut Direktur Pemasaran dan Komunikasi PT Erajaya Swasembada Tbk Djatmiko Wardoyo, berbagai situasi dan kondisi yang terjadi saat ini mempengaruhi penjualan di semester pertama 2013. “Adanya rencana kebijakan pemerintah terkait impor ponsel kemudian banjirnya produk ilegal dan persaingan kami dengan pasar yang tidak sehat atau produk ilegal tersebut”, jelas dia.

Diakuinya, permintaan terhadap ponsel di Indonesia masih tinggi terutama produk Blackberry, hanya saja untukproduk Blackberry BM semakin tinggi juga dan menyebabkan pasar perseroan beralih ke produk ilegal tersebut.

“Memang penjualan ponsel secara ilegal tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari industri telekomunikasi di Indonesia, karena mereka sudah memiliki pasar tersendiri. Namun dapat dikurangi volumenya”, ujar dia.

Penurunan penjualan dan laba bersih ini tentu akan menjadi kendala bagi perseroan untuk meraih target penjualan bersih tahun ini untuk tumbuh di atas 20%, melampaui rata-rata pertumbuhan pasar di 15%-16%. Hingga akhir 2012 lalu, diketahui penjualan bersih ERAA mencapai Rp12,8 triliun.

Dalam mencapai target tersebut, perseroan berupaya meningkatkan produktivitas penjualan melalui toko-toko yang potensial. Saat ini toko tradisional yang dimiliki perseroan ada sekitar 40 ribu lebih namun perseroan hanya akan fokus pada toko-toko yang produktif.

Terkait dengan kinerja kuartal I 2013, ada beberapa faktor yang menurut perseroan cukup mempengaruhi performa ERRA, terutama produk baru yang hadir terlambat. Sehingga tercipta jarak yang membuat barang sempat kosong dan membuat arus distribusi terhambat.Dia mencontohkan seperti produk Blacberry Z10 yang peluncurannya molor dari rencana di bulan Maret namun baru terealisasikan pada April.

Pada tahun ini ERAA juga akan membangun gudang untuk produknya dan diperkirakan akan menghabiskan dana hingga Rp100 miliar untuk membangun 5 gudang. Nantinya, setelah memiliki gudang tersebut perseroan memprediksi akan terhindar dari gangguan distribusi akibat bencana alam seperti banjir.“Lokasinya tersebar di Indonesia, sehingga bukan di pulau Jawa saja. Rencananya akan bangun di Medan, Palembang, Jawa Tengah, Surabaya, dan Makasar. Kami menargetkan gudang tersebut selesai pada 2015.Dananya dari kas internal karena pembangunan ini diluar dari anggaran belanja modal perseroan dan tidak terlalu besar”, jelas dia. (nurul)