Besutan Martina Berto Mengembangkan Obat Herbal - Menjawab Kebutuhan Pasar

NERACA

Jakarta - Bisnis industri kosmetik dan produk herbal saat ini tengah mengalami pertumbuhan signifikan dan pasarnya memiliki prospek cerah seiring dengan masih positifnya daya beli masyarakat saat ini. Terlebih, penggunaan kosmetik sudah menjadi kebutuhan primer karena penggunanya tidak lagi kaum hawa tetapi juga kaum adam dan anak-anak.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat pernah bilang, saat ini adanya tren masyarakat untuk menggunakan kosmetik berbahan alami dan didukung dengan potensi tanaman obat, kosmetik dan aromatik di Indonesia dengan jumlah 30 ribu jenis. \\\"Indonesia merupakan produsen tanaman obat, kosmetik dan aromatik nomor dua setelah Brazil. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa omzet kosmetik nasional mencapai Rp7 triliun dan herbal nasional sebesar Rp11 triliun pada 2011,”ungkapnya.

Menjawab kebutuhan masyarakat akan kosmetik dan produk herbal yang ramah lingkungan dan memanfaatkan nilai-nilai lokal atau local wisdom, perusahaaan kecantikan PT Martina Berto Tbk mendirikan pabrik baru dan kampung jamu organik di Bekasi dengan memanfaatkan luas lahan 9,5 hektar dan kemudian di tanamkan obat-obatan yang akan diproduksi menjadi jamu, kosmetik dan hal yang menyehatkan lainnya.

Founder dan Chairwoman Martha Tilaar Group, DR. (H.C.) Martha Tilaar mengatakan, hadirnya kampung jamu merupakan komitmen perusahaan untuk terus menggali kekayaan alam dan budaya Indonesia untuk mempercantik wanita Indonesia dan dunia, “Kampung Jamu menjadi inspirasi bagi Martina Berto untuk mempercantik wanita Indonesia dengan empat pilar beauty culture, beauty education, beauty green dan empowering women sebagai landasan, “ujarnya.

Kampung Jamu

Dia juga menambahkan, tujuan kampung jamu ini sebagai pemasok bahan baku untuk pabrik produk herbal Mustika Ratu. Saat ini sudah terkumpul sebanyak 700 spesies tanaman. Adapun kebutuhan tanaman herbal untuk kepentingan produk obat herbal mencapai 3.000 spesies tanaman.

Memang saat ini produk jamu dan herbal baru memberikan 28% dari pendapatan Martina. Sebagian besar pendapatan yang sebesar Rp 1,25 triliun berasal dari produk kosmetik. Sementara Deputy Marketing Director Martina Berto, Kilala Tilaar menambahkan, hadirnya kampung jamu untuk memperkuat lini bisnis perseroan pada produk obat herbal mulai seiring tren bisnis obat herbal kian prospektif. Maklum, itu lantaran mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan arti penting obat herbal ketimbang obat kimia.

Dia menambahkan, penjualan produk herbal Martina tergolong positif, seperti teh peluruh lemak, obat jerawat, obat paska persalinan, dan tisu pembersih daerah kewanitaan. Tidak hanya itu, Martina juga akan mengembangkan produk obat-obatan herbal, seperti obat diabetes, asam urat, dan kolesterol. \\\"Kami ingin mengencangkan produk jamu ini melihat pasar jamu yang pesat dalam lima - enam tahun ke depan,”tandasnya.

Guna mendukung rencana bisnis ini, Martina telah menginvestasikan dana sebesar Rp 44 miliar dengan pembangunan pabrik baru yang ketiga di Cikarang, Bekasi. Nantinya Martina akan memproduksi obat herbal dan kosmetik organik dengan total kapasitas produksi mencapai 269 ton per tahun.

Direktur Utama PT Martina Berto Tbk (MBTO) Bryan David Emil menuturkan, pembangunan pbarik jamu tradisional ini akan memproduksi 269 ton per tahun. \\\"Sehingga secara total kapasitas produksi kita menjadi 6.354 ton per tahun,” paparnya.

Dengan demikian, setelah pabrik baru beroperasi, MBTO pun berharap dapat mencapai target pertumbuhan penjualan sebesar 16% hingga 18% per tahun. Sebagai informasi, kuartal pertama 2013, perseroan membukukan penjualan Rp 166,85 miliar atau meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 144,88 miliar. Di mana, kosmetika dan tata rias Rp 81,97 miliar naik 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, perawatan kulit dan tubuh Rp 46,67 miliar (13,2%), perawatan rambut Rp 22,70 miliar (24,7%), jamu Rp 1,97 miliar (-20,7%), lain-lain seperti makloon, pengharum, perlengkapan mandi Rp 13,57 miliar (2,7%).

Tahun ini perseroan menargetkan kenaikan penjualan sebesar 11,4% menjadi Rp 800 miliar. Sementara untuk laba bersih ditargetkan naik 9,8% menjadi Rp 50 miliar, “Penjualan kita sasar di 2013 Rp 800 miliar, plus minus 11,4%. Itu sudah diatas industri beauty dan personal care 7,69% menurut Euro Moneter International. Ini sudah cukup sexy,\\\" kata Bryan David Emil.

Perbanyak Gerai

Kemudian mensiasati ketatnya persaingan bisnis kosmetik saat ini, Martina Berto akan terus mengembangkan produk baru dan menambah gerai baru. Saat ini, perseroan memiliki sembilan bauran produk, yakni Dewi Sri Spa, PAC, Biokos, Rudy Hadisuwarno, Caring, Sari Ayu, Belia, Mirabella, dan Cempaka.

Ambisi menjadi pemain ketiga besar dalam industri kosmetik dan spa di Indonesia atau naik dari posisi sebelumnya sembilan, akan dilakukan perseroan dengan terus rajin menambah gerai baru. Tahun ini, perseroan akan menambah tiga sampai lima gerai baru dari jumlah gerai saat ini 24 gerai. Nantinya, dua gerai Martha Tilaar Shop yang akan dibuka diantaranya di Malaysia dan Brunei, setelah Maret 2012 lalu meresmikan gerai keduanya di Singapura.

Kata Direktur Pemasaran MBTO Samuel Eduard Pranata mengatakan, pembangunan setiap gerai Martha Tilaar Shop di luar negeri menelan investasi sekitar US$ 10.000. MTS diakuinya, memiliki peluang yang bagus undtuk dikembangkan. Saat ini, MTS baru memberikan kontribusi 4-5% dari penjualan, “Kami sudah buka di Summarecon Bekasi, Ciputra World, dan Palembang. Kita juga masih cari lokasi pembukaan MTS di Malaysia. Kalau di Filipina sudah ada yang minta kita untuk buka di Watson,\\\"paparnya.

Sementara, pada kuartal I, perseroan baru menggunakan Rp 8 miliar dana capexnya. MBTO melakukan IPO sebesar 33,2% dari total saham MBTO dan 66,8% saham MBTO dimiliki oleh keluarga besar Martha Tilaar. Berdasarkan data Kementerian Perindusterian, total omzet produk kosmetik di Indonesia pada 2011 mencapai Rp 7 triliun. Namun, omzet produk herbal justru lebih besar, yakni hingga Rp 11 triliun. Dari nilai tersebut, MBTO telah menguasai 18% pangsa pasar kosmetik dan 25% total pangsa pasar untuk produk herbal. (bani)

Related posts