Jaga Inflasi, Menteri Harus Implementasikan Arahan Presiden

Kamis, 01/08/2013

NERACA

Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat mengingatkan seluruh jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II agar mengimplementasikan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meningkatkan kinerja perekonomian, khususnya menjaga inflasi. Wakil Ketua DPR Bidang Ekonomi, Muhammad Sohibul Iman, mengatakan bahwa inflasi harus menjadi perhatian besar, lantaran terkait dengan kemampuan daya beli masyarakat.

“Daya beli masyarakat sama dengan kesejahteraan masyarakat. Jadi, presiden dan jajaran menteri harus memperhatikan itu. Yang menjadi kekhawatiran saya dan banyak pengamat ekonomi adalah inflasi yang dipatok 7,2% dalam APBN-P 2013, fakta di lapangan akan terlampaui dengan kondisi kenaikan harga pangan,” ujar Sohibul di Jakarta, Rabu (31/7).

Terkait kinerja tim ekonomi pemerintah, Sohibul mengungkapkan, arahan dan instruksi Presiden SBY kepada para menterinya mengenai perbaikan kinerja dan tata kelola perniagaan, seharusnya tidak cukup sebatas komitmen semata. Pasalnya, jika arahan pemimpin tidak diikuti bawahannya, maka bisa amburadul sistem perekonomian Indonesia.

"Arahan presiden itu sebenarnya yang biasa. Karena perintah seorang kepala negara, tentu, harus dijalankan para pembantunya (menteri). Apalagi sekarang pemerintah ingin mengantisipasi munculnya dampak ekonomi dari luar. Sementara dari sisi domestik sendiri kita ada masalah, yaitu harga bahan pangan yang melonjak tinggi,” terangnya.

Mengenai upaya pembenahan tata niaga impor kebutuhan pokok, menurut Sohibul, saat ini sudah terlambat. Karena faktanya, sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, bawang, daging, termasuk buah-buahan, telah diimpor semua. Itu jelas sangat merugikan para petani dan peternak dalam negeri.

Seharusnya, instruksi dan langkah swasembada pangan dan kemandirian pangan nasional itu dilakukan sejak awal Pemerintahan Presiden SBY. Dan bukan terkesan panik, atau setahun sebelum selesainya periode pemerintahan Presiden SBY.

"Seperti yang saya dengar dari Menteri Perdagangan (Gita Wiryawan) mengenai krisis daging sapi. Yang kemudian solusinya kita impor dari Australia. Katanya ini masalah yang gampang diselesaikan. Terus kalau gampang, mengapa baru diurus sekarang? Kenapa juga setelah harga daging tembus Rp120 ribu per kg baru buka suara?,” kata Sohibul, mempertanyakan.

Hasil survey

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi pada Juli 2013 mencapai 2,87%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, yakni 2,77%. Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyatakan, angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil survei perkembangan harga yang dilakukan oleh BI secara mingguan. "Inflasi tahunan (year on year/yoy) untuk bulan Juli kita perkirakan 8,18%," kata Agus Marto, belum lama ini.

Prediksi laju inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan survey perkembangan harga pada pekan ketiga sebelumnya yang mencapai 2,77% pada inflasi bulanan dan sekitar 8% pada inflasi tahunan. Hal ini diamini Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, yang mengatakan peningkatan inflasi Juli disumbang oleh kelompok administered price, terutama oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan transportasi yang mengalami kenaikan 1,2%.

Selain itu, kata Perry, kelompok volatile food, khususnya bawang merah, beras dan daging ayam mengalami kenaikan 1,5%. "Adapun kelompok inflasi inti masih terjaga fi level 0,1%,” tambahnya. Bank sentral juga mengapresiasi upaya pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan pasokan barang yang menyumbang kenaikan harga.

Menurut dia, upaya tersebut mendukung penurunan laju inflasi pada bulan berikutnya. “Bulan Agustus kami prediksi inflasi bulanan di bawah 1% atau sekitar 0,9%," ujarnya. Meskipun demikian, Perry meminta pemerintah tetap berhati-hati dalam menjaga laju inflasi terutama menjelang akhir tahun 2013. Pasalnya, pada momentum tersebut ada kecenderungan kenaikan inflasi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2014. [mohar]