Dekonsolidasi, Laba Bakrie Brother Anjlok 96%

Kamis, 01/08/2013

NERACA

Jakarta - PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan laba bersih yang turun drastis pada semester pertama 2013 senilai Rp8,36 miliar atau sekitar 96% padahal tahun sebelumnya bersih mencapai Rp 214,35 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (31/7).

Direktur Utama PT Bakrie and Brothers Tbk, Bobby Gafur mengatakan, penurunan laba bersih dan pendapatan yang cukup banyak dikarenakan dekonsolidasi atas anak usaha perseroan yaitu Bakrie Petroleum International Pte Ltd dan entitas anak, “Pendapatan perseroan juga turun menjadi Rp1,95 triliun pada semester pertama ini, dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp11,39 triliun,”ujarnya.

Menurutnya, dengan penurunan yang cukup besar pada pendapatan perseroan dan laba bersih, perseroan melakukan upaya untuk menekan beban-beban secara signifikan, dan meningkatkan kinerja unit-unit usaha manufaktur yang baik dan menjadi kontributor utama bagi pendapatan perseroan.

Kendatipun demikian, manajemen tetap optimistis BNBR akan semakin sehat dan tumbuh dengan fundamental bisnis yang kuat,”Dengan memiliki dasar yang kokoh, kami optimis akan semakin memantapkan kinerja perseroan ke depan dan akan terus berusaha untuk menekan pengeluaran dan meningkatkan efisiensi pada setiap lini usaha perseroan,”tandasnya.

Sementara itu, laba perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 4,86 miliar pada semester pertama tahun ini dari sebelumnya mencapai Rp61,23 miliar pada semester pertama 2012. namun, perseroan berhasil menurunkan porsi utang pada semester pertama 2013, beban bunga dan keuangan perseroan turun hingga 78% atau mencapai Rp603 miliar dari Rp775,79 miliar pada semester pertama 2012 menjadi Rp172,78 miliar pada akhir semester pertama 2013.

Sebelumnya, pada rapat umum pemegang saham (RUPS) Juni lalu, diketahui bahwa kinerja anak usaha BNBR yang berlabelkan sebagai perusahaan non-listed terus meroket. Sementara anak usaha perseroan yang listed justru terus merosot drastis dalam pembukuan laba serta pendapatannya.

Sebut saja anak usaha BNBR non-listed yang cukup tinggi berkontribusi ke induk usahanya seperti PT Bakrie Building Industries (BBI) yang berhasil mencatatkan nilai buku sebesar US$47,47 juta, PT Bakrie Tosanjaya (BTJ) mencatatkan nilai buku US$30,17 juta dan PT Bakrie Pipa Industries (BPI) senilai US$149,28 juta.“Dalam beberapa tahun terakhir justru ketiga anak usaha tersebut mampu menjadi kontributor utama pendapatan usaha (revenue) perseroan. Dengan rata-rata peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun 2011 silam, ketiga anak usaha non-listed tersebut tahun 2012 lalu mampu mencatatkan nilai-buku sebesar US$ 226,92 juta”, jelas dia.

Dia menambahkan bahwa pada saat bersamaan, portofolio perseroan yang tercatat di bursa efek hanya berkontribusi sebesar US$187,05 juta. Selain itu, pada tahun 2012, portofolio non-listed perseroan juga menunjukan pertumbuhan volume penjualan mencapai 21-34% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu dia juga menyatakan bahwa peran dan kontribusi anak-anak usaha non-listed terhadap kinerja finansial perseroan dalam beberapa tahun belakangan memang semakin besar. Tahun 2012, anak-anak usaha telah menyumbang sedikitnya 66% dari total revenue perseroan dengan nilai mencapai Rp10,11 triliun.

Perseroan juga mengaku optimis dengan kinerja anak usaha non-listed akan memiliki prospek usaha yang sangat baik dan menunjang total pendapatan perseroan. Terutama setelah melihat kinerja BBI, BTJ, dan BPI pada tahun 2012 lalu. (nurul)