Memutus Rantai Peredaran Buku Pelajaran Berkonten Porno

Teliti Memilih Buku Paket

Sabtu, 03/08/2013

Pelajaran itu harus dikemas dengan bahasa yang mendidik dan tidak vulgar. Bisa dibayangkan bila peredaran buku berkonten porno tersebut semakin meluas, apa jadinya generasi penerus bangsa ini?

NERACA

Problematika dunia pendidikan di Indonesia seolah tak henti-hentinya menerpa. Bagaimana tidak? Generasi muda yang diharapkan dapat tumbuh menjadi benih-benih mutiara yang akan mengharumkan bangsa, kian terhalang oleh lika-liku dunia pendidikan. Bak jamur di musim hujan, kondisi pendidikan di Indonesia kian hari kian memprihatinkan.

Belum lama ini, dunia pendidikan Indonesia kembali diwarnai dengan karut-marut maraknya peredaran buku pelajaran bermuatan pornografi di beberapa daerah. Seperti diketahui, Selain di Bogor, Jawa Barat, buku pelajaran Bahasa Indonesia berisi konten porno baru-baru ini juga beredar di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Buku terbitan CV Graphia Buana cetakan pertama Maret 2013 itu berjudul Aku Senang Bahasa Indonesia. Pada halaman 55-60 buku itu terdapat kisah berjudul Anak Gembala dan Induk Serigala. Akan tetapi, pada halaman 57-60 terdapat kalimat-kalimat yang menceritakan tentang kisah vulgar di warung remang-remang. Tak pelak, buku pelajaran Bahasa Indonesia seharga Rp 31.500 itu membuat resah para orang tua murid.

Peredaran buku pelajaran dengan konten porno bukan masalah kecil. Bisa dibayangkan bila peredaran buku tersebut semakin meluas, apa jadinya anak bangsa ini kelak? Melihat hal tersebut, pengamat pendidikan Arief Rahman menuturkan bahwa buku pelajaran yang bermuatan pornografi harus segera ditarik dari peredaran dan diproses menurut hukum yang berlaku.

\"Buku tersebut harus ditarik, penerbit maupun penulisnya harus diproses mengikuti hukum yang berlaku,\" ujar Arief di Jakarta belum lama ini.

Selain itu, kata Arief, guru harus menjadi benteng terakhir dalam proses belajar-mengajar. Menurut dia, sebelum mengajar, guru harus terlebih dahulu membaca buku tersebut.

\"Jika ada materi yang tidak cocok, seharusnya guru mencoretnya dan tidak diajarkan,\" tambah dia.

Lalai

Lolosnya buku pelajaran berbau porno itu tidak terlepas dari kelalaian pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru dan komite sekolah. Maka dari itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh meminta agar Kepala Sekolah dan Komite Sekolah teliti dalam memilih buku paket untuk pelajaran siswa.

Nuh mengatakan, seluruh buku yang akan dijadikan bahan pelajaran atau paket harus mendapat rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan guna menghindari materi-materi yang tidak sesuai.

\"Saya mengimbau melalui kawan-kawan sekalian, para kepala sekolah, para orang tua, hati-hati kalau beli buku, mesti harus dilihat ada tidak rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan,\" kata Nuh.

Buku teks pelajaran digunakan sebagai acuan wajib oleh pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Rapat pendidik memilih buku mengacu dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan kelayakan-pakainya oleh menteri dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.2 Tahun 2008 tentang Buku. Adapun jika terdapat buku teks yang belum ditetapkan oleh Mendikbud maka rapat pendidik pada satuan pendidikan dapat memilih buku teks, yang tersedia di pasar buku, dengan mempertimbangkan mutu buku teks dan kesesuaiannya dengan standar nasional pendidikan.

\"Dengan demikian aman, ibarat orang beli makanan sudah ada capnya MUI (Majelis Ulama Indonesia), halal atau haram, atau dari segi kesehatan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),\" kata dia.

Berdasarkan hasil penelusuran, buku yang bermasalah tersebut bukan merupakan buku paket wajib dari pemerintah melainkan buku pendamping. Buku tersebut tidak memiliki rekomendasi, baik dari Kemdikbud maupun Dinas Pendidikan Kota Bogor. Sedangkan mengenai sanksi bagi penerbit, Mendikbud mengatakan masih menunggu proses klarifikasi dari penulis maupun penerbit dan juga penjelasan dari pihak sekolah dan komite sekolah.