Lebaran, Permintaan Uang Tunai Meningkat

Sabtu, 03/08/2013

Permintaan uang tunai melonjak lantaran tradisi bagi-bagi angpau untuk sanak saudara dan keluarga di masyarakat Indonesia. Tak ayal, tradisi ini ikut membuka peluang tindak kriminal berkaitan dengan uang.

NERACA

Tidak lama lagi lebaran akan datang. Menjelang lebaran semua kebutuhan terus meningkat, mulai dari kewajiban memberikan Tunjanagn Hari Raya (THR) pada orang-orang yang bekerja di rumah, mudik, membeli hantaran, membeli baju baru, membeli makanan ekstra untuk persediaan. Tak heran, setiap tahun jelang Lebaran kebutuhan uang tunai pun meningkat.

Uang tunai masih menjadi pilihan utama alat pembayaran di masyarakat selain sistem pembayaran metode modern yang kini berkembang pesat seperti kartu debit, kartu kredit, maupun e-money. Perkembangan rasio uang kartal yang diedarkan (UYD) serta laju pertumbuhan UYD yang cukup tinggi dari tahun ke tahun mengindikasikan peranan penting uang kartal sebagai alat pembayaran tunai, yang tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat.

Ya, selama periode Ramadhan dan Idul Fitri pada umumnya terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai. Untuk tahun ini, Bank Indonesia (BI) memperkirakan akan terjadi kenaikan sekitar 20%. Untuk memenuhi kebutuhan transaksi rupiah menjelang peringatan hari raya Idul Fitri tersebut, BI mengaku telah mempersiapkan uang tunai sebesar Rp 103 triliun.

Gubernur BI, Agus Martowardojo menuturkan bahwa Uang tunai yang disediakan BI pada tahun ini jumlahnya meningkat 20% jika dibandingkan dengan dana yang disediakan BI pada tahun lalu. Jumlah tersebut diyakini dapat memenuhi kebutuhan uang tunai dari masyarakat selama periode Ramadhan dan Idul Fitri.

"Jumlahnya meningkat 20 persen dari tahun lalu yang realisasinya sekitar Rp 80 triliun," kata Agus belum lama ini.

Pasokan uang tunai tersebut mencukupi permintaan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. Dari Rp103 triliun ini, diserap oleh wilayah Jakarta sekitar Rp31 triliun. Sisanya, yakni Rp72 triliun, diserap di daerah lain, yang terdiri dari Rp20 triliun untuk wilayah Indonesia bagian timur dan Rp50 triliun di Indonesia bagian barat.

Sedangkan mengenai pecahan uang yang dibutuhkan, daerah-daerah di luar kota besar membutuhkan uang pecahan kecil. Namun, hal sebaliknya terjadi di wilayah Kalimantan. Realisasi uang tunai yang telah terserap sampai hari ini kira-kira 33,5% secara nasional.

"Dari Rp 103 triliun, yang diperkirakan oleh BI sudah terserap 33,5%," kata Deputi Gubernur BI Ronald Waas.

Uang Palsu Mengintai

Dikala hari raya idul fitri tiba, selain memakai pakaian baru tentunya yang tidak kalah menariknya adalah tradisi bagi-bagi duit (angpau) ketika bertandang kerumah sanak-kerabat dan handai-taulan. Momen ini ikut membuka peluang tindak kriminal berkaitan dengan uang.

Apa itu? Maraknya peredaran uang palsu (Upal). Ya, para orang tak bertanggung jawab, melihat Ramadhan dan Lebaran menjadi kesempatan besar mendulang rupiah melalui penukaran uang palsu yang mereka produksi.

Ronald mengatakan bahwa peredaran uang palsu kian bertambah besar jelang Ramadan. Sebab, kebutuhan masyarakat akan uang tunai semakin meningkat pada momentum tersebut. Jumlah uang palsu yang beredar rata-rata mencapai 4 ribu lembar tiap bulannya. Uang-uang tak bernilai itu ditemukan 4 lembar per tiap nominal Rp1 juta.

"Uang palsu sebenarnya terjadi tiap bulannya. Tetapi menjelang lebaran peredaran uang palsu selalu naik," ujar Ronald.

Kendati begitu,lanjut Ronald, tingkat peredaran uang palsu kini menurun jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 8 lembar per Rp1 juta. Untuk menanggulanginya, pihaknya bekerjasama dengan industri perbankan untuk pengawasan peredaran uang. Agar masyarakat cermat ketika menukarkan uang untuk kepentingan lebaran, BI juga melakukan sosialisasi kepada masayarakat tentang ciri-ciri uang asli.