Jadikan Mudik yang Penuh Berkah

Sabtu, 03/08/2013

Jadikan Mudik yang Penuh Berkah

Oleh Bani Saksono

(wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Boleh jadi, mudik Lebaran di Indonesia merupakan prosesi migrasi, yaitu pergerakan penduduk dari satu tempat ke tempat lain ke tempat lain terbesar di dunia yang berlangsung sepanjang tahun. Mobilitas penduduk tersebut tentu saja mempunyai dampak secara ekonomi.

Berapa banyak moda angkutan yang bergerak mengangkut sekurangnya 17,39 juta orang, berapa uang segar yang dibawa serta dalam perjalanan itu, dan berapa banyak pula nilai transaksinya. Berapa juta liter bahan bakar terbakar habis selama perjalanan tersebut? Jumlah itu bertambah drastis karena dipicu kemacetan beribu-ribu kilometer dari kota asal ke kota tujuan.

Yang paling penting adalah bagaimana caranya mengendalikan setiap jengkal langkah dan setiap rupiah yang kita keluarkan bermanfaat bagi diri kita, keluarga, dan juga orang lain. Jadikan setiap transaksi menjadi berkah, bukan kesia-siaan. Triliunan rupiah uang yang mengalir dari kota asal ke kota tujuan dapat membuahkan pergerakan ekonomi rakyat.

Semua senang, karena satu berbelanja, satu lainnya mendapat untung dagangannya laku. Sektor usaha usaha mikro, kecil, menengah, dan besar bergerak aktif. Tumbuh dan terus berkembang. Semua butuh bahan bakar, semua butuh makan dan minum sehari tiga kali, semua membutuhkan pulsa ponselnya agar mobilitas komunikasi berlangsung lancar, kebanyakan membawa oleh-oleh, mayoritas pemudik berbelanja baju dan sepatu baru.

Demikian juga dengan upaya mempersiapkan perjalanan mudik oleh pemerintah. Perbaikan infrastruktur dilakukan untuk menjamin agar perjalanan terasa nyaman, aman, lancar, dan menyenangkan. Bukan sebaliknya, proyek perbaikan infrastruktur dijadikan sarana untuk menghambur-hamburkan uang negara dari proyek perbaikan jalan.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan, kebutuhan uang oleh masyarakat sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri, baik tunai maupun tidak tunai bergerak naik hingga 20% dibanding saat kondisi normal, yaitu sebesar Rp 103,1 triliun atau bertambah Rp 17,4 triliun dari tahun lalu. Kebutuhan Rp 103,1 triliun itu terbagi dalam bentuk uang pecahan besar (UPB) ditaksir mencapai Rp 93,4 triliun dan uang pecahan kecil (UPK) sebesar Rp 9,7 triliun.

BI pun mempersiapkan infrastruktur dan layanan sistem pembayaran non tunai (RTGS) untuk mengantisipasi volume transaksi yang meingkat hingga 14% di atas transaksi harian. Sejak 1 Mei 2013, BI menaikkan batas maksimum transfer dana melalui kliring hingga Rp 500 juta per transaksi. Batas maksimum transfer dana tresebut didukung sistem transfer dana close to the real Sistem Kliring Kini Lebih Cepat (Si Kilat). Per 15 Juli lalu, BI juga memfasilitasi kebutuhan transfer dana melalui jaringan pembayaran domestik yang melibatkan Alto, ATM Bersama, dan Prima melalui operator seluler. []